47597_403933803020671_1236138388_n*Aku juga bangga mengenalmu

Pagi tadi aku mengetahui perihal ini dan terkejut. Tersadar bahwa beberapa hari yang lalu aku sempat menemukan tanggal lahirnya, serta merta kubulatkan satu angka di kalender pada bulan Maret, angka pertama. Aku ingin memberikan sesuatu untuknya pada tanggal itu, tentu lebih menarik ketimbang pada saat yang lain. Tapi, nyatanya, hari ini ketika kutemukan saatnya tiba, aku malah bingung sebab tidak tahu memberi apa.

Jakier tentu tidak mengharapkan apa-apa, kecuali sebuah ucapan selamat ulang tahun belaka. Dan bila kuucap dengan gaya klise, dia akan membalas juga dengan jawaban klise, terimakasih sobat. Ini tidak akan asik. Semua orang juga bisa melakukan hal serupa.

Dia sangat akrab denganku—setidaknya kami pernah menghabiskan waktu hampir enam bulan penuh di tempat yang sama dan sampai setelah itu kami terlalu sering bertatap muka. Boleh kukata, di antara semua teman tugasku, hanya Jakier yang sampai saat ini masih menjadi seorang teman yang utuh.

Begini, sejatinya dia lebih dahulu mengenalku, sejak sebelum tugas itu. Dia menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru dan aku menjadi aktor dalam teater di acara itu. Dia cukup mengingat kata ‘kek na lu’ yang berulang-ulang kusebut di panggung. Ketika sudah di tugas, Jakier kerap meniru ucapan itu. Seorang penonton yang baik.

Jakier sahabatku itu adalah seorang kiper, beberapa kali membela Universitas dan beberapa tim yang membayarnya. Dia menyukai FC Barcelona, sepertiku, aku tahu itu kemudian. Dia sudah menjadi seorang sarjana (aku masih dendam sampai sekarang, dia tidak mengundangku—padahal aku sudah berniat tidak akan mendatangi wisuda siapa pun kecuali dia).

Jakier yang kukenal adalah seorang pemuda yang selalu merasa ganteng dan mengira bahwa dirinya adalah guru tugas yang berhasil (dia lupa bahwa aku telah berhasil mendidik siswa menjadi penulis, sedang dia tidak menghasilkan seorang siswa pun menjadi atlit).

Jakier. Kutulis tentangmu seolah-olah kau adalah orang lain. Sekarang anggap saja aku di depanmu sedang mengatakan ini semua. Kau ingat semua gelagatku. Percayalah, kau akan mendapatiku yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Masih selusuh dulu.

Malam ini, aku dilanda risau yang hebat, sobat. Kita tidak bertemu bahkan sampai pada suatu waktu yang telah kau tentukan. Kau memilihku menjadi juri di salah satu lomba kelak. Konon katamu sampai berdebat dengan banyak orang, syukurlah aku bisa setengah percaya pada usahamu itu. Seorang penggombal wanita sepertimu tidak boleh terlalu dipercaya, kawan. Itu resiko.

Ya, mungkin hanya di sana kelak kita akan bertemu. Setelahnya, kita akan berpisah lagi. Aku risau sebab tidak bisa memberi apa-apa untuk ulang tahunmu. Dan ini sungguh sudah kelewatan.

Aku bahkan tidak mengucap selamat ulang tahun untuk Evi tempo waktu, juga tidak mengucap selamat untuk pernikahan Raisha, mengucap alakadar untuk wisuda Ricca. Nanas dan Juan? Belum ada momen yang mengharuskan aku mengucap selamat pada mereka. Aku telah berubah menjadi sosok teman yang tidak baik. Ini buruk sekali untuk sebuah hubungan yang dulunya saling mengisi.

Aku tidak akan pernah bisa melupakan kalian dan tidak akan pernah berusaha melupakannya. Kalian adalah kekuatan. Kawan-kawan yang tepat dititipkan Tuhan pada masa pikiranku kacau. Jakier, sampai sekarang kita tidak pernah benar-benar menjauh. Untuk seorang yang tidak pernah lupa dan selalu bangga bisa mengenalku, apakah aku seorang yang baik bila melupakan ulang tahunnya?

Maka aku menguras otakku sekuat tenaga untuk mendapatkan kata yang tepat. Kata-kata itu tidak juga kunjung muncul. Jika ia berwujud benda, akan kuperas dia. Sayangnya kata-kata itu serupa mimpi, kawan, semu. Kita tidak bisa menghakimi dia sekali pun terlalu banyak tingkahnya.

Apakah sebaiknya kutulis begini?

Selamat ulang tahun, Keepe. Kau teman terbaik dan semoga cepat menjadi ayah yang baik.

Apa? Aku hanya bisa mengucap ini? Atau perlu kutambah lagi dengan ucapan-ucapan selaik puisi? Ah, aku tidak bisa memberikan apa-apa lagi, kawan, itu saja ucapanku. Celaka sekali, mengapa kamu mesti berulang tahun ketika kepalaku sumpek dengan berbagai pikiran? Aku tidak bisa menulis apa-apa untuk lelaki yang menganggap dirinya idaman wanita, ini tidak baik. Tapi, beginilah, kawan. Begini saja.

Percayalah, sobat. Aku menulis ini dengan keadaan sedang mengutuk otakku yang kering. Tapi, aku bangga mengenalmu, maka kupaksakan diri menulis ini semua. Semoga kau akan mendapat segalanya. Ah, klise.

Ulang Tahun Jakier Keepe, 1 Maret 2013