pengkoKarya Nazar Shah Alam

Sore tadi seseorang memintaku menulis cerita sangat pendek.

Baiklah, aku memulai cerita sejak kemarin sore. Sejatinya aku ingin bercerita jauh lagi, mungkin dua hari yang lalu, dua bulan silam, atau mungkin dua tahun ke belakang. Tapi, sudahlah, kukira cerita ini memang lebih layak dimulai sejak kemarin sore. Sebab, selain indah dan romantis, aku benar-benar menyukai segala sesuatu di dalamnya.

Kemarin sore aku—sebenarnya aku malu menceritakannya, tapi bukankah aku telah berjanji? Mungkin aku perlu mengingat lebih detail lagi tentang segala hal. Dimulai dari kemarin sore  sampai tadi siang. Kawanku yang tambun mengusulkan sampai sore tadi. Tapi aku membantah. Dia diam saja. Jelas wajahnya kecewa sebab aku tidak menerima usulannya.

Seperti biasa, sebelum menulis cerita aku akan mencari tempat duduk yang tepat dulu. Ya, tetap di kamar, tapi di bagian mana selalu kutentukan. Kadang-kadang aku berpikir sia-sia saja kutentukan tempat duduk, sebab kamar ini kosong sama sekali. Tidak ada bangku, meja, kasur, atau segala sesuatu lainnya. Kamar ini benar-benar kosong. Mungkin maksudku menentukan tempat duduk adalah menentukan posisi. Di kamar kosong, aku tentu hanya bisa duduk atau telungkup. Lebih tepat lagi menentukan posisi antara duduk atau telungkup.

Akhirnya aku telungkup. Aku akan menulis cerita tentang kemarin sore. Seorang perempuan hitam manis dengan biolanya, mendung tebal, dan, tunggu, teleponku berdering. Aku mesti keluar sebentar.

Kamar-Rwa, 9 Februari 2013