Cut

Karya Nazar Shah Alam

Pulang dari Taman Sari tempo waktu hampir saja kita bersitatap, tapi urung. Terlalu banyak yang merintang dan aku kelewat masyuk dalam keadaanku sendiri. Malam ini, setelah sekian waktu kita bersiberita, aku merindukanmu, Cut. Apa kabar?

Tentu saja aku tidak benar-benar tahu bagaimana dirimu. Sudahlah, apakah aku perlu benar-benar tahu? Kukira berjauh dan hanya membaca celoteh-celoteh di ruang maya itu jauh lebih asyik. Malam ini aku ingin memutar masa ke silam. Kuharap bisa kutemukan bagaimana awal kita berkabar, bagaimana mula kita berdekatan.

Maafkan aku, Cut, sebab aku lupa. Mungkin kamu juga sudah lupa, meskipun kita saling tidak bermaksud melupakan bagaimana jadi persuaan pertama itu. Jujur saja, aku enggan membalik halaman yang sudah kadung banyak. Sebab, selain menyita waktu, aku juga tak mau dilanda rindu oleh karena di mana-mana akan kutemukan bentuk-bentuk kelucuan kita. Kelucuan-kelucuan itu akan membuatku semakin tak sabar ingin menemuimu. Maka kuputuskan untuk tidak membuka saja dan mencari tahu bagaimana awal sua kita. Sebab aku tidak mau tersiksa.

Malam ini aku hanya akan mereka-reka saja, tepatnya menulis sesuai ingatanku saja. Tidak perlu terlalu serupa dan persis. Cut, yang kuingat, kita berkabar dalam diam, tertawa di masing tempat. Tahukah bahwa aku menyimpan kagum dan rindu sejak pertama kita sependapat?

Malam itu—kalau tidak salah pertama kali kita berkabar adalah malam hari—kamu mengaku kawan dekat kawanku. Lucunya, aku adalah kawan dekat kawanmu. Kawanku yang juga kawanmu itu sempat menaruh syak wasangka ketika kukatakan kita sangat sering bertukar cerita. Kawanku yang kawan dekatmu barangkali tidak begitu gubris. Aku kenal betul kawan dekatmu yang juga kawanku itu.

Setelah malam itu kita semakin sering bersapa. Aku sudah hafal, kamu akan memulainya, mengirimiku sebentuk senyum, dan sesekali—tapi sangat jarang—kau kirimi sebentuk manyun. Kadang aku cepat menanggapi, kadang terlalu lama. Maafkan aku, kadang aku terlalu ladat dalam lakuku sendiri. Tapi, dengan sangat jujur kukatakan, aku senang mendapati kabarmu. Dan bahkan jadi rindu. Ingin sekali kukatakan padamu agar jangan pernah sehari pun tidak mengirimiku kabarmu. Aku ketergantungan pada sebentuk senyum itu. Ketergantungan pada canda kita saban bersapa itu. Namun, ah, untuk apa kukatakan, toh, kamu memang tidak pernah alpa menyapa.

Cut, kita pernah bertukar dengar. Aku masih hafal kapan dan seberapa kalinya. Kamu benar-benar seorang berbeda. Aku baru menemukan seorang yang seperti ini dalam hidupku, jujur saja. Aku masih sangat menikmati jarak ini, kunikmati candamu, kuharap kau nikmati pula candaku. Kuhayati ceritamu, kuharap kamu pun begitu. Kau lipur sesuka hati nestapaku dengan lagak-lagak lucu. Tahukah, aku terlalu banyak mendengarmu?

Masih sangat lekat di mindaku tatkala kamu menyarankan segala hal. Kamu begitu rapi menyusun kata, membantu meringankan segala yang kadang kurasa rumit. Sampai sore tadi, sore kita kembali berkabar dan bersitawa, kamu masih tetap melipur resahku.

Cut, aku akan menjumpaimu sebelum kita semakin jauh. Aku ingin tertawa sepuas hati, berbahagia dalam canda. Barangkali kawan dekatku yang juga kawanmu itu akan punya waktu mempertemukan kita. Atau, mungkin juga kawan dekatmu yang juga kawanku itu yang akan menciptakan sua. Kupikir, siapa pun dari salah satu mereka yang mempertemukan tatap kita kelak, aku akan berterimakasih sebanyak-banyaknya. Dan bila pun mereka tidak sempat, maka aku akan mencarimu, Cut. Mencarimu sampat kudapat. Lalu kupastikan kita akan banyak tertawa.