IMG_5404(masih Kepada Perempuan)

Oleh Nazar Shah Alam

Saya tidak lagi bersalam sebab sudah pernah saya ucapkan di surat permulaan. Ada gaduh di atap sebab pelor langit turun bergerombolan dan dengan sangat jantan memecahkan diri di sana. Seketika malam riuh. Saya bertahan di warung kopi langganan sembari berulang kali mengecek layar wajahmu. Kita sedang berjauh dan tiba-tiba rindu memaksa agar saya melihat rupamu lama-lama. Saya belum mengetahui kepastian jawabanmu, Perempuan. Saya gamang. Bila dikau pernah menatap seorang menderita gila babi, bila rindu datang pada saya dengan parah, barangkali lagak saya mendekati. Rindu wajahmu berulang-ulang menjadi dilema sendiri.

Saya tidak tahu apakah hujan juga turun di tempatmu, Perempuan. Bila benar, maka saya berharap dikau sedia sedikit meluangkan waktu menyingkap pertemuan sebentar lalu. Hujan mendekatkan kita di saung alas bambu. Kita berpelukan. Bukan, maksudku, kita mendekatkan diri dan kau kukunci di sana. Adakah kau masih ingat?

Perempuan!

Izinkan saya ingat sekecil apa pun yang berlaku di antara kita. Setidaknya bila kelak dikau lupa salah satu, bisalah kau ambil lagi di mindaku. Ah, hujan membuat saya benar-benar mengenangmu, Perempuan. Saya tidak bisa menulis apa-apa kecuali selintang kata tentang cinta. Cinta kita sudah tumbuhkah di masing hati? Saya tidak ingin menjadi pemaksa meskipun saya berharap sangat besar. Bila di hatimu sudah tumbuh, bahagialah saya. Namun bila belum, percayalah bahwa saya akan berusaha membuatmu jatuh cinta pada saya dengan cara yang santun. Saya sangat yakin mendapatkan cintamu, terserah kapan pun itu.

Masihkah ingat, sore ketika hujan (meski tak selebat malam ini) kita saling tatap dalam teduh. Saya mengenang bajumu yang putih dan wangi parfummu yang masuk lembut ke rongga endusku. Gigil memang acap menjadi sebab sebuah celaka dalam rupa birahi. Kau menjamah dengan didih. Saya menguncimu di sana.

Perempuan!

Hujan selesai menyisakan beberapa keletip di atap seng tua. Saya terjaga. Maafkanlah atas mimpi celaka baru saja. Saya terlalu sering mengingatmu sehingga terbawa-bawa sebagai ilusi. Salahkah saya telah sangat mencintaimu? Khilafkah saya kalau-kalau merindu? Saya akan memandang apa saja sebelum bermimpi tentang hujan sore sedang kita bersidekap di saung bambu. Setelah mimpi itu, saya rasa segalanya berubah. Saya menjadi buta. Warna mata saya keruh, di sana ada wajahmu.

Ttd

Masih Saya