IMG_5404:kepada Perempuan

Oleh Nazar Shah Alam

Assalamualaikum…!

Sebenarnya saya tidak tahu apa yang kemudian akan saya katakan. Sebab yang paling saya sadari, bahwa menulis untuk seorang yang indah itu sangat sulit. Kamu pasti tidak menebak bahwa saya hampir tidak bisa menulis surat. Saya terlanjur sombong dengan mengaku diri sebagai penulis. Maka oleh sebab kesombongan itu, saya merasa bertanggung jawab menyelesaikan surat ini.

Apa yang ingin saya katakan? Saya lupa semuanya. Baiklah, saya mulai dengan pengakuan. Pengakuan tentang semuanya. Tentang yang datang di hati, menyelinap di kepala, tentang yang menggangguku pada masa terakhir.

Perempuan…!

Akhir-akhir ini saya terganggu dengan rindu. Ah, mengapa saya berbicara tentang rindu? Rindu adalah suatu yang mengundang banyak keluh kesah. Saya juga tidak mau terbeban dengan apapun, termasuk rindu. Saya belajar darimu, tidak mau terbeban. Jika pun kelak saya terbeban, kamu mesti bertanggung jawab. Salahmu, memang. Bila saja hari bertemu, ketika hendak pulang, kamu tidak tersenyum secantik itu, tentu saya tidak akan merindu. Rindu mengubahku dengan sangat cepat.

Oh, Perempuan…!

Saya akan terus seperti saya sebelum kamu tersenyum. Tapi, setelah ketika senyum itu mekar, saya bahkan tidak mengenal diri sendiri. Kamu telah mengambil diriku dari kesadaran, wahai. Sekarang antara sadar atau tidak, saya katakan sesuatu yang indah. Indahnya rindu.

Selain rindu, satu hal yang lebih indah, yaitu jawaban rindu yang sesuai. Saya berharap merasakan itu. Tapi saya tidak perlu memaksa jawaban itu sesuai dengan yang ada di sini. Saya berharap jawaban rindu di hati saya sesuai dengan yang kamu rasa di hatimu. Terserah itu sesuai dengan harapan atau tidak. Bagi saya, kamu mengetahui tentang rindu yang hebat di hati ini saja sudah sangat baik, konon lagi bila berbalas sesuai.

Perempuan…!

Saya menyesal melewati waktu sepanjang pulang tanpa isyarat. Saya ingin kata ada yang menarik darimu. Sekarang setelah semua jauh, saya dilanda rindu yang hebat. Saya rindu senyummu, matamu, tawamu, suaramu, rambutmu yang terlihat samar. Parahnya, saya mulai dimabuk jingga. Segalanya jingga, seperti bajumu siang itu. Apa yang bisa saya lakukan bila sudah begitu? Saya memandang gambarmu. Bila sudah lama ditatap, saya lena. Pada saat itu saya menjadi lupa pada segalanya. Ah, segalanya? Ya, kecuali kamu.

Ttd

Saya