Karya Nazar Shah Alam

Malam begitu dingin tatkala Wak Lah mendapati Maksum tersedu di kamarnya. Lelaki itu semakin kurus saja sebab tidak pernah berhenti mengucurkan air mata. Tiga bulan lebih sudah mereka keluar dari penjara, Maksum masih saja mengenang Ramlah, kekasih sejatinya. Wak Lah menatap Maksum dengan haru sekali dari pintu. Di hatinya bujang lapuk itu terus mengutuk kekasih Maksum. Sungguh kadang terlalu mencintai akan mencipta celaka sendiri. Maksum mencintai Ramlah dengan sangat hebatnya. Tapi pada masa cinta itu dibuktikan, Ramlah malah menjadi dalang kecelakaan. Sialnya lagi, Ramlah juga yang mencambuk Maksum di tiang gantungan tanpa belas kasihan saban hari.

“Sudahlah, kawan. Jangan ratapi cintamu itu. Sekarang mungkin dia tidak pernah menyadari betapa engkau demikian cinta padanya. Nanti, ketika ia sadar bahwa cinta yang besar itu ada di hati seorang lelaki yang malang sepertimu, ia akan datang padamu. Aku bukan kasihan padamu, tapi pada air mata yang kau buang sia-sia itu. Mengapa tidak kau pergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat saja?” ucap Wak Lah sembari mendekap bahu Maksum. Ia duduk di sebelah kanan lelaki kurus berambut lurus itu seolah ingin menimba beberapa luka Maksum untuknya.

“Jujur saja aku sangat rindu pada Ramlah. Aku bahagia bila mengenang kala ia mencambukku tiap siang hari. Di bawah terik itu, nyeri yang muncul sebab kulitku terkelupas oleh cambuk yang dihantamnya adalah bukti betapa dia sangat mencintaiku,” jawab Maksum dalam sedak terjaga.

“Apa, dia mencambukmu di bawah matahari panas kau kata tanda cinta? Kamu kelewatan, Sum!”

“Tidak ada yang kelewatan, Lah. Dia memberikan keberanian dan kekuatan untukku lewat cambuk itu. Lama-lama aku tidak lagi takut pada cambuk, nyeri, dan luka. Kamu paham apa yang dia berikan sebagai tanda cinta, bukan?”

Wak Lah tidak lagi menjawab. Dia paham pada kegilaan yang dirasakan kawannya itu. Maksum terus mengeluarkan air mata. Berkali-kali terdengar suara hidu dari hidungnya.

“Aku tidak suka pada lelaki yang suka menangis, Sum!” ucap Wak Lah, padahal seluruh umat di jagat mengetahui bahwa Wak Lah adalah seorang lelaki yang paling cepat menangis.

“Tangisanku ini lebih berarti daripada tangisanmu ketika menonton film India atau mendengar lagu dangdut yang sedih. Kamu paham!” ucap Maksum setengah membentak.

“Aku menangis sebab kenangan yang perih di masa lalu dan lagu juga film membangkitkan luka itu. Tangisanku untuk hal nyata. Kamu, yang kamu tangisi adalah seorang yang tidak jelas benar sayang padamu atau malah membencimu!” balas Wak Lah kesal.

“Aku mencintai Ramlah. Dan itu sangat besar. Tapi untuk tangisanku berhari-hari pada akhir ini bukan karena dia. Meskipun sebabnya adalah cinta juga.”

“Kamu mencintai orang lain dan nyatanya kamu ditolak? Nasibmu seburuk wajah dua kawan kita rupanya,” ujar Wak Lah. Dua kawan yang dimaksudnya adalah Anjali dan Shakir, tentu saja.

“Ya, aku mencintai orang lain, bangsa lain, tapi mereka adalah saudara seiman dan  seagama denganku. Entah juga sama agama denganmu!”

“Maksudmu?” dahi Wak Lah berkerut.

“Palestina. Gaza. Penderitaan saudara-saudara kita di sana, Lah. Aku menangisi mereka. Kamu tahu, padahal kita bisa membantu meringankan beban mereka di sana. Kita punya senjata, punya tak-tik. Kita bisa mengalahkan Israel dengan cara kita, Lah. Tapi, kita bisa apa? Sebagai seorang Apache’s yang ditakuti sebab kekuatannya, aku merasa bersalah karena terus menatap mereka dari jauh, melihat anak-anak kecil terkapar dan berdarah disebabkan serangan durja Israel lakhnatillah. Aku…aku..bisa apaaa?” Maksum mengeluarkan airmatanya. Wak Lah terhenyak. Kaku sendiri.

“Kita masih punya Apache, kawan. Yakinlah!” ucap Wak Lah.

Malam turun dengan santun sekali. Malam di Mauro Raya semakin sepi.

***

Pagi tiba, Pengko duduk di ruang tamu sembari menonton televisi. Di meja sebelah kanannya secangkir kopi mengeluarkan asap tipis. Pengko kehilangan selera meneguk kopi itu. Wak Lah tiba ke sana dan berdiri di belakang sofa merah tempat sang rupawan duduk.

“Maksum bermalam-malam meratapi saudara-saudara kita di Palestina itu,” ucap Wak Lah. Pengko tak bergeming. “Aku baru sadar betapa mereka sengsara!”

“Panggil semua Apache’s. Aku mau bicara!” ucap Pengko. Wak Lah tersenyum dan segera menemui Maksum.

“Pengko memanggilmu. Ini tentang Palestina, kurasa!” kata Wak Lah begitu mendapati Maksum di kamarnya. Lelaki kurus berambut lurus itu sumringah mendapat kabar demikian. Dia berlari mendapati Pengko yang rupawan. Wak Lah berlanjut mencari Shakir. Lelaki tak tampan itu tidak ada di kamar. Wak Lah melihat ke belakang rumah. Ah, rupanya Shakir sedang menari-nari di sana. Inilah kebiasaannya kalau hendak mandi. Dengan gayung di tangan dan hanya berbalut handuk jingga, lelaki itu menari stripping, tarian erotis yang entah hendak dipertontonkan pada siapa. Melihat Shakir menari sembari sesekali membuka handuknya dengan nakal, sungguh memuakkan. Dia seperti tidak sadar pada kesesuaian wajah dengan tariannya.

“Hei, gigi nakal, Pengko memanggilmu. Entah apa menari-nari tak jelas begitu. Masuk kamarku dulu sebelum menemui Pengko, ya!” ucap Wak Lah kesal.

“Untuk apa pula aku masuk kamarmu, Lah?” tanya Shakir tidak paham.

“Di kamarku ada kaca besar. Lihat, apakah cocok wajahmu menarikan tarian erotis seperti Dewi Persik itu? Dasar tak tahu diri!”

“Oh, jadi di kamarmu ada kaca, ya? Lalu kenapa kamu tidak pernah bercermin. Wajahmu semakin hari semakin buruk saja, Lah. Jenggotmu tak terurus. Bajumu ketinggalan zaman. Kaca itu rugi dan merugikan ada di kamarmu!” balas Shakir kesal dan segera menemui Pengko dengan hanya berbalutan handuk jingga kesayangannya. Di sana sudah berkumpul semua. Anjali tadi dipanggil Maksum. Si keriting jelek ini sedang berada di kandang lembu tetangga, entah untuk apa pagi-pagi ke sana. Itu perlu dipertanyakan.

“Kita akan ke Palestina. Sore ini kita akan berangkat dengan Audi R8 speed boat. Siapkan semua barang!” ucap Pengko membuat kawannya ternganga. Seperti biasa, nganga paling luas itu milik Shakir. “Di Mauro Raya kita juga berperang. Baiklah kita ke sana. Perangnya jelas mempertahankan apa. Siapa yang bisa bahasa Arab?”

“Aku!” Shakir menunjuk diri.

“Entah kenapa aku jadi sangsi, Pengko!” sahut Wak Lah keberatan menerima tawaran Shakir. Lelaki tak tampan itu berang. Pengko dengan cepat menyergah.

“Kalau begitu kamu saja, Lah. Bagaimana?” tanya Pengko

“Aku memang bisa. Tapi, bahasa Arab itu banyak dialeknya, Pengko. Bahasa Arabku adalah bahasa Arab orang Mekah, di luar itu aku tidak bisa!” kilah si bujang lapuk.

“Shakir sekarang diangkat menjadi juru bicara. Maksum dan Anjali bidang perang. Wak Lah, kamu pengangkut senjata. Tidak ada yang boleh bantah!” tegas sang rupawan. Penegasan itu membuat muka Wak Lah masam.

***

Apache’s mendekati Palestina pada dua malam setelah keberangkatan. Beberapa kapal laut Israel terlihat bermain-main di sana. Wak Lah menghentikan laju speed boat hitam yang mereka tumpangi lalu menatap Pengko yang dengan gagah menatap ke arah kapal penghadang itu.

“Shakir, kamu bisa bahasa Ibrani?” tanya Pengko tanpa memindahkan tatapannya ke kapal. “Katakan pada yahudi itu kita ingin berjuang bersama mereka.”

“Bagaimana kalau mereka menanyakan agama kita?” tanya Shakir.

“Katakan bahwa kita tidak datang dengan alasan agama, melainkan ingin ikut menghancurkan Palestina!”

Apache’s paham. Wak Lah melajukan kembali speed boat hitam itu dengan kecepatan yang stabil. Begitu mendekati perahu mereka, seorang serdadu berpakaian lengkap menahan dengan kata,” Shabbat, Shabbat!” dengan suara yang buruk dan todongan senjata. Shakir segera memberi isyarat hendak mengadakan diskusi dengan mereka. Apache’s diiring naik ke kapal yang paling besar di sana, bertemu dengan pemimpin mereka di sana.

Anjali, Maksum, dan Wak Lah dipersilakan menunggu di luar, sedangkan Pengko dan Shakir masuk ke dalam. Di sana Pengko memulai diplomasi bersama Israel. Mereka ingin menghancurkan Palestina dengan berpura-pura menjadi relawan. Pengko menghamburkan isi ransel tentaranya di meja, sejumlah produk makanan kadaluarsa yang di hadapan pemimpin kapal laut Israel ini disuntikkan pula racun siap untuk dibawa bersama.

Pengko berhasil meyakinkan pemimpin kapal yang sepertinya sedang dilanda mabuk ini. Bahkan untuk lebih meyakinkan, Pengko meminta agar Apache’s diawasi terus dengan mengggunakan kamera pengintai. Shakir yang bertugas menerjemahkan kata-kata Pengko ke dalam bahasa Ibrani melakukan tugasnya dengan baik. Mereka disuguhkan minuman dan diajak berpesta malam itu juga. Pemimpin kapal itu keluar dan mengajak anak buahnya sekalian merayakan kedatangan penyusup bernama Apache’s yang siap membantu mereka.

Pesta berlangsung meriah sampai pagi. Meski begitu, Pengko mengingatkan Apache’s agar tidak mabuk. Selain haram, mereka juga perlu tenaga yang cukup melanjutkan perjalanan besoknya. Pagi hari, dua speed boat melaju dengan cepat menuju titik labuh di Pelabuhan Asdod. Dari sana Apache’s digiring menuju kota Tel Aviv. Setelah makan siang mereka dibawa ke perbatasan antara Israel dan Palestina. Ada delapan tentara yang mengawal mereka memasuki kota Gaza. Kamera pengintai dihidupkan.

“Kita sudah di mana?” tanya Pengko pada salah seorang tentara dibantu Shakir sebagai penerjemah. Tentara itu menjawab bahwa sekarang mereka sudah memasuki daerah Gaza. Pengko menatap Wak Lah dengan senyum. Apache’s menarik topeng untuk menutup hidung masing-masing. Terdengar rentetan suara cempreng seperti terhimpit dua benda keras. Bukankah kita mengetahui bahwa kentut sunyi lebih menusuk aromanya ketimbang yang lepas begitu saja? Wak Lah tadi mengonsumsi petai dan baunya benar-benar menusuk. Tentara Israel menutup hidungnya ketika merasa ada sesuatu hal aneh menghampiri hidung mereka. Tiga dari delapan mereka itu malah seperti pusing. Ajian Angin Terjepit milik Wak Lah memang tidak diragukan lagi efeknya.

Nampak seorang tentara yang pusing itu seperti marah. Tapi untuk misi yang akan menguntungkan mereka, Yahudi ini tidak begitu peduli. Mereka turun di salah satu tempat yang Apache’s tidak begitu tahu. Anjali yang dari tadi diam saja turun paling terlambat sebab kesulitan mengambil tasnya yang diletakkan di bawah bangku, sehingga tentara Israel mesti membantunya. Delapan tentara Israel kembali dengan truk yang sama. Beberapa mata menatap Wak Lah dengan benci sekali. Sekitar satu menit berjalan ke arah Gaza,

THUUUUUUUMMM!

Sebuah ledakan terdengar dari belakang mereka. Apache’s semua berbalik badan. Pengko mengernyitkan dahi. “Pembalasan pertama, Tuan!” ucap Maksum. Rupanya ketika semua tentara disibukkan dengan tas Anjali, Maksum menggunakan waktu itu untuk meletakkan bom kecil dengan ledakan cukup menghancurkan itu di bawah bumper belakang truk itu. Pantas saja Maksum melekatkan badannya dengan truk tadi.

Apache’s berjalan santai menuju Gaza. Bertemu dengan beberapa anak Palestina membuat Maksum terenyuh. Dia memeluk anak-anak tegar itu sembari menangis selaik orang tua baru bertemu anak-anaknya setelah berpuluh tahun terpisah. Seperti Maksum, Anjali yang jarang menangis pun melakukan hal yang sama. Perihal Shakir dan Wak Lah, jangan tanya lagi bagaimana tangisan mereka. Shakir hampir saja kerasukan jin padang pasir. Pertemuan ini persis seperti bertemunya kembali sebuah keluarga harmonis, penuh emosi, penuh penghayatan. Pengko tidak menangis seperti teman-temannya, tapi matanya terus mengeluarkan air. Dia mendekap seorang anak berusia sekitar kelas empat SD yang di tangannya memegang batu sebab mengira Pengko dan kawan-kawannya adalah Israel.

Berhari-hari di sana, Apache’s sudah berhasil berbaur dengan masyarakat Palestina. Maksum menjadi guru bagi anak-anak dibantu Shakir sebagai penerjemah. Dia kerap bercerita bagaimana perjuangan Apache’s dan tentu saja Ramlah. Bila tidak ada siswa perempuan, Maksum akan menampakkan badan ringkihnya yang penuh luka cambuk. Tulang-tulang rusuknya yang menonjol itu lebih menarik perhatian anak Palestina daripada cambukan itu sendiri. Maksum mengumpamakan cinta itu adalah hijau, seperti warna kesukaan Ramlah. Maka oleh anak-anak itu ia dijuluki Maksum al Akhdar atau Maksum si hijau. Shakir sudah dari awal memberi penambahan di ujung namanya dengan Burtuqali (Shakir si jingga) oleh alasan yang kita ketahui, cinta kepada Jingga.

Wak Lah selama di Palestina terus sibuk belajar bahasa Arab. Uniknya, dia hanya mau belajar dari para Armalah (janda). Maka oleh Shakir dia diberi nama Wak Lah Armalah. Diberi nama begitu, Wak Lah senang tiada tertanggungkan. Anjali lebih rajin berada di luar, bersama warga kampung di bawah terik matahari Gaza ia bekerja memperbaiki rumah-rumah penduduk yang rusak. Kebiasaannya bekerja bangunan di kampung tertular hingga ke Gaza. Kulitnya yang hitam semakin bertambah seiring pembakaran sinar matahari. Maka gelar al Aswad atau si hitam untuknya datang tak terelakkan. Pengko memilih untuk terus mengajarkan tak-tik dan teknik perang pada para pemuda dan pejuang Gaza. Dia belajar bahasa Arab dari seorang tua di sana. Kecerdasan Pengko membuat dia begitu cepat menguasai bahasa tersebut. Sebagai pemimpin bagi Apache’s dan anak muda Gaza, Pengko diberi nama Akbar sedang sebab kesantunan dan lemah lembutnya, oleh anak gadis orang tua yang mengajarinya bahasa Arab, Pengko diberikan gelar al Lathif. Maka nama Pengko di Gaza adalah Akbar Pengko al Lathif.

“Wahai al Lathif, apa yang membuatmu ingin membalas kafir Israel?” tanya lelaki tua bersorban gelap pada Pengko suatu malam.

“Agamaku dan komitmen Apache’s. Kami berpikir, barangsiapa mengganggu Gaza, maka ia sama dengan memberi kehidupan pada kematiannya, Tuan. Islam adalah tubuh yang satu!” ucap Pengko. Lelaki tua itu menepuk bahunya.

Sebulan setelah di sana, Pengko meminta agar warga Gaza hijrah ke tempat lain sementara. Serangan-serangan Israel semakin hari kian jahanam saja. Al Lathif memanggil semua Apache’s suatu malam untuk membicarakan serangan ke Israel. Maksum meminta berada di garis depan. Dia memang penembak jitu yang tidak diragukan. Maksum mengambil Shotgun, Anjali diberikan sebuah pelontar roket, Shakir mengambil AK 47, dan Wak Lah mengambil FN Minimi, sedang Pengko sniper. Mereka akan bergerak ke perbatasan malam itu juga.

Malam merangkak menuju kelam yang hebat. Terdengar deru seperti sebuah pesawat melaju. Dari balik batu besar di antara perbatasan, Anjali mengarahkan roketnya dengan hati-hati ke badan pesawat perang Israel. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, ditekannya pelatuk.

THUUUUUM!

Pesawat itu oleng dan berapi. Sasaran yang tepat. Ledakan yang dahsyat. Sebentar kemudian terdengar banyak suara dari langit. Apache’s yang duduk terpisah-pisah mengarahkan senjatanya ke arah suara. Beberapa api terbang liar di sana menuju Gaza. Pengko tersenyum. Gaza sudah kosong sejak lepas Isya tadi. Mereka hijrah sejenak. Di Gaza yang ada hanyalah sekelompok anak muda yang sedang menyerang kamp-kamp tentara Israel dengan beringasnya, dan tentu saja Apache’s yang sudah berada di perbatasan.

Dalam debu yang mengepul, terlihat Wak Lah dengan gagah berani berjalan menuju perbatasan dengan memanggul minimi dan membalutkan badannya dengan peluru. Dia dengan gagah memasuki perbatasan Israel dan melepaskan tembakan membabi buta. Pengko bangga pada kawannya itu. Namun kebanggaannya sempat tertahan ketika mendengar mulut Wak Lah berteriak “Palestine Armalaaaah..!” atau untuk janda Palestina. Dalam perang masih sempat dia berpikir tentang janda.

Pengko menyusup dari badan belakang badan Wak Lah, diikuti Maksum dan Shakir. Apache’s menguasai perbatasan Israel. Perang pecah sampai pagi. Anjali menjatuhkan enam pesawat tempur Israel sejak semalam. Sangking kelelahannya, Anjali tertidur di bawah batu sembunyi. Apache’s pelan-pelan merangsek ke bagian-bagian yang lebih besar. Dengan sangat rapi penyerangan itu berhasil dilakukan. Wak Lah tidak berlindung sedemikian rupa. Dia lebih banyak menampakkan keberaniannya dalam perang dengan menantang lawan secara terang-terangan. Namun, sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali jatuh juga ia ke tanah. Wak Lah kehabisan amunisi yang terpasang. Dia dengan gegas mengambilnya di tas. Namun, sebuah ledakan besar dari lawan jatuh tepat di sampingnya. Wak Lah terpelanting jauh sekali. Tiba-tiba ia merasakan suara ngiang yang hebat. Wak Lah tidak mendengar apa-apa lagi. Dia tuli.

Ledakan yang sama jatuh di dekat Anjali pula. Batu tempat ia sembunyi bergerak, hampir mengenai badannya yang lelah. Anjali terkejut. Dia bangun dan kembali menembak. Sebuah peluru mengenai sorbannya. Peluru itu pula mencukur sedikit rambutnya. Susah payah Anjali memelihara kembali rambut itu, sekarang Israel mengambilnya lagi. Anjali memasang satu roket dan bangun, dengan cepat ia berlari ke arah dua pemuda yang melepaskan tembakan tadi dan kehabisan peluru.

“Siapa yang menembakku barusan?” tanya Anjali dengan beringasnya.

“Dia, Tuan!” tunjuk lelaki kurus itu kepada kawannya yang gemuk. Anjali mengarahkan roket ke badan lelaki gemuk itu dan menekan pelatuknya. Hancur badan seorang Israel di hadapan kawannya. Lelaki kurus yang menatap itu terkencing-kencing. Anjali menarik pisau dan menusuk dada si kurus berkali-kali. “Ini pembalasan atas hilangnya rambutku dan kesusahan saudaraku, Bangsa Anjing!”

Shakir kehabisan peluru. Dia hanya mengcung-acungkan AK 47 di tangannya ke lawan seolah memberi perlawanan. Beberapa lawan yang paham akan kelemahan Shakir segera mendekat. Mereka menodongkan senjatanya kepada lelaki tak tampan itu. Shakir jatuh setelah dihantam giginya dengan gagang senapan. Anehnya, setelah hantaman itu, tentara Israel menjadi pesimis. Gagang senjata mereka bengkok berbenturan dengan gigi Shakir. Dalam keadaan gigi berdarah, Shakir bangun. Tersenyum getir. Dia memegang pinggang seorang tentara, rupanya tangannya menarik sumbu granat di sana dan kemudian dengan cepat menendang lawannya. Shakir meloncat cepat ke arah lain. Tubuh lelaki itu meledak. Shakir berlari sekuat tenaga sehingga bertemu Pengko dan Maksum yang sedang menembak ke arah seratusan tentara di hadapan mereka. Tanpa senjata, Shakir bangun dengan gagah. Berdiri. Dia memamerkan kekuatan giginya yang tidak mempan peluru. Beberapa tembakan mental di mulutnya.

Wak Lah tiba bersama Anjali. Siang yang panas di Israel. Pengko melepaskan tembakan dan rata-rata tepat sasaran. Israel bermandi darah. Wak Lah diperintah menyerang dari samping, namun ia tak bergeming sebab sudah tuli. Shakir membawa Wak Lah ke arah yang dimaksud Pengko. Dalam pada berjalan, Shakir dapat melihat sekelabat tubuh Netanyahu si lakhnatillah berlari menuju persembunyian. Shakir tersenyum. Giginya memantulkan sinar diterpa matahari siang Tel Aviv. Sinar gigi itu memantul ke kaca dan pantulan itu menyilaukan tentara Israel. Wak Lah melepaskan tembakan dari samping yang membuat tentara bodoh Israel kucar kacir. Saat itu pula, Shakir berlari menuju Pengko dan mengatakan bahwa ia melihat Netanyahu yang rupanya sedang berada di dekat mereka. Pengko menyuruh Anjali menembak kaca rumah tempat Netanyahu. Sasaran yang tepat membuat Apache’s bebas melihat ke dalam.

Maksum membidik ke lawan-lawan mereka di dalam rumah itu. Anjali, Wak Lah, dan Shakir mengelabui tentara Israel yang semakin berkurang. Pengko menyusup ke rumah. Di sana sudah tidak ada penjaga.

Pintu persembunyian Netanyahu dibuat dari baja keras. Pengko memanggil si gigi sakti, Shakir Burtuqali. Dengan giginya Shakir berhasil membuka pintu baja itu. Luar biasa kehendak Allah. Pengko membidik penjaga-penjaga Netanyahu. Begitu berhadapan dengan lelaki tua yang lebih durja dari binatang itu, Pengko menariknya keluar. Netanyahu terkencing. Pengko melempar badannya dari kaca. Tentara Israel berhenti menembak. Apache’s keluar dengan gagah dan menodongkan senjata ke kepala dan tubuh Netanyahu yang menghadap ke arah tentara Israel. Anjali mengarah pelontar roketnya di kepala, AK 47 Shakir di leher, Shotgun Maksum di punggung mengarah ke hati, Minimi Wak Lah diletakkan di lubang pantat menuju otak, sedang sniper Pengko berada di ketiak kanan menuju kiri.

Para warga penjajah keluar rumah mereka menyaksikan si tua bangka itu ditahan Apache’s. Begitu dirasa semuanya tiba, Pengko memerintahkan seorang warga memfoto kejadian itu lalu mengambil kamera tersebut. Pada seorang pemuda Palestina yang baru saja tiba untuk membantu Apache’s bersama gerombolannya, Pengko menyerahkan kamera tersebut dan menyuruh lelaki itu menyebarkan berita ini ke seluruh dunia.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, wahai Akbar Lathif?” tanya pemuda Palestina dari ramai gerombolannya.

“Pada hitungan kelima, Apache’s!” perintah Pengko pada kawannya tanpa menjawab pemuda tadi.

Anjali menghitung satu, Maksum dua, Shakir tiga, Wak Lah empat, dan Pengko pada hitungan kelima.

THUUUUUUUUUUUUUUM

Ada asap berbaur di badan Netanyahu yang hancur. Apache’s tersenyum dan dengan gagah menuju tentara Israel yang kalah. Di hadapan mata mereka, sekali lagi Apache’s menyiram peluru. Darah bangsat para binatang itu berbaur dengan pasir, menyatu dengan debu, menyibakkan amis.