Karya Nazar Shah Alam

Mereka sudah berteman sejak masih sekolah di kampung dulu. Sejak SD, mereka sudah tidak bisa dipisahkan. Mereka ke sekolah bersama-sama, pulang bersama, bolos bersama, bahkan bermain di kampung pun bersama-sama. Sejatinya Apache’s adalah sekelompok anak-anak berbeda kasta. Pengko dari keturunan kaya raya yang Papahnya bekerja di kedutaan besar Mauro Raya. Maksum bolehlah dianggap berpunya sebab orang tuanya punya toko pakaian di kota. Wak Lah tak ubahnya seorang fakir miskin, konon lagi Shakir yang memang berasal dari keluarga tidak berpunya. Anjali tak jauh beda dari Wak Lah dan Shakir, ia seorang anak pedagang kelontong di kampungnya. Namun, bukanlah persahabatan namanya kalau harta orang tua memisahkan mereka. Begitu berbaur, mereka tidak saling mempermasalahkan apa-apa. Pengko yang sejak kecil sudah nampak pemurahnya itu kerap membagi makanan-makanan yang dibawa ayahnya dari luar negeri untuk semua kawan-kawannya. Maka, dari Pengkolah para Apache’s pertama sekali menikmati rasa apel, stroberi, anggur, dan bermacam lainnya.

Pada masa sekolah dasar, Pengko selalu ke sekolah bersama Wak Lah. Dengan sepeda ontel tua peninggalan kakeknya, Wak Lah mendayung sekuat tenaga. Badannya yang besar dengan rambut cepak itu berkeringat tak alang begitu tiba di sekolah. Bukan perkara Pengko yang berat, tapi sebab sepeda ontel Wak Lah memang sudah berkarat rantainya. Maklumlah (sekali lagi) sepeda itu adalah warisan kakeknya dan dibeli saat kakek Wak Lah masih berumur lima tahun. Benar-benar tua.

Sebenarnya Pengko selalu diminta antar oleh supir Papahnya, tapi dia menolak sebab tidak ingin terlihat kaya di hadapan orang-orang sekolah. Hal itu tentu bisa membuatnya dengan mudah berbaur bersama teman-temannya. Anjali kalau ke sekolah selalu sendiri. Di tangan kanannya selalu ada buku matematika, sedang di tangan kirinya tertenteng sekantong kerupuk sagu. Dia memang rajin bekerja. Maksum biasanya dibonceng oleh Shakir tiap ke sekolah. Ini semacam hubungan mutualisme dimana keduanya mendapatkan keuntungan. Maksum mendapatkan tumpangan gratis, sedangkan Shakir yang menjual es tidak kepayahan menenteng tong es tersebut ketika bersepeda. Apalagi kalau melihat sepedanya yang patah stang sebelah. Maksum akan memegang tong es itu sampai tiba ke sekolah dan wajib membeli satu es dari Shakir. Selalu seperti itu.

Perjuangan ke sekolah yang paling perih dirasakan oleh Shakir. Dia tidak punya sepatu sejak kelas satu sampai kelas empat SD (gambar ilustrasi diambil pada kelas empat.red) sehingga ke sekolah mesti dengan sandal swallow warna jingga. Meskipun demikian kekurangan, Shakir tetap diterima oleh Apache’s. Kalau saja ada yang menghina kekurangannya, maka Wak Lah tidak segan-segan menghajar si penghina, begitu juga Anjali yang bermuka brimob.

Ada beberapa kejadian yang layak dicatat dalam kamus persahabatan Apache’s semasa mereka masih sekolah dulu. Salah satunya adalah kejadian yang menimpa Shakir. Suatu hari, ketika ia dan Maksum ke sekolah, tiba-tiba sebuah truk pasir datang dari arah belakang menghantam sepeda mereka. Sontak mereka terpelanting hilang arah. Sepeda stang sebelah Shakir terpental ke sawah berikut tubuh ringkihnya. Maksum bersama tong es di tangan bersama-sama terjun bebas ke sungai. Mobil itu tidak peduli pun pada mereka. Shakir terbenam dalam lumpur sawah yang sudah siap tanam. Hanya muncul beberapa biji putih di wajahnya ketika kedua bibirnya tersingkap. Maksum bangun dari sungai dengan kuyup. Semua es hilang dibawa air. Takut dimarahi Shakir, Maksum menangis di pinggir sungai sambil meminta maaf sebab tidak bisa menyelamatkan es. Shakir yang cepat terenyuh hatinya segera memeluk Maksum dan berkata tidak menyalahkan kawannya itu.

“Anggap saja itu musibah, Sum!” ucap Shakir di antara sedunya. Maksum mengajak Shakir turun ke sungai dan mandi lagi hingga bersih.

Setelah mandi mereka segera menuju ke sekolah dengan pakaian kuyup. Sesampai di sana mereka sudah telat. Dengan sepeda yang sudah peyot, Shakir berjalan lunglai. Maksum menenteng tong es mengikuti di belakangnya. Tahukah Saudara sekalian bahwa bukan hanya Shakir dan Maksum saja yang mendapatkan ganjaran, melainkan kelima Apache’s? Pengko, Anjali, dan Wak Lah rupanya tidak masuk dulu pekarangan sekolah sebelum kedua kawannya itu tiba. Begitu mendengar cerita Shakir, sontak air mata Wak Lah mengucur. Dia memang sudah melankolis saat itu. Mereka dijemur di bawah matahari pagi yang terik. Wak Lah paling curang ketika itu. Dia berkali-kali meminta izin pada guru penjaga dengan alasan ia sedang menderita mencret.

Pada saat tiap jam istirahat, Wak Lah tanpa disuruh segera memanggil anak-anak kelas bawah mereka untuk berkumpul di taman belakang sekolah. Ia memamerkan otot-ototnya diikuti oleh Anjali. Pameran otot itu biasanya akan dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh Shakir, sambutan kehormatan oleh Pengko, dan penggiliran makanan dan minuman wajib beli oleh Maksum. Itu adalah cara mereka agar kerupuk sagu Anjali dan es batang jualan Shakir habis tiap harinya. Jika ada anak yang tidak mau datang atau beli, Shakir akan menulis nama mereka dan memberikannya pada Wak Lah. Anak itu tidak akan dilindungi lagi kalau ada apa-apa. Tidak ada siswa yang berani membantah Wak Lah di sekolah itu. Dengan terpaksa mereka patuh.

Wak Lah sejak dulu menggemari film India. Dia menyukai Vijay (padahal kita tahu bahwa Vijay dalam film India itu sangat banyak). Kalau sudah memamerkan otot, ia akan mengatakan pada yang melihatnya bahwa itu otot Vijay. Anak-anak bersorak. Wak Lah senang sekali dan mengulang gerakan perototan tadi.

Meski sering menjadi penyelamat, Wak Lah juga kerap menjadi pangkal celaka. Pada saat mereka sekolah, film India diputar tepat pukul 11. Wak Lah yang sering tidak tahan kalau sudah mendengar suara musik India itu pun kerap meminta izin keluar. Alasannya sangat beragam, mulai dari sakit kepala sebab mengaji sampai pagi, sakit perut sebab makan sambal, disuruh pulang cepat oleh ibunya, ayahnya sakit, adiknya mesti dibawa ke dukun, bahkan sampai ke alasan istri abangnya baru saja melahirkan. Kalau sudah diberi izin, ia akan mengedip mata pada Shakir. Sialnya—entah sebab sudah yakin tidak akan diberi izin atau tidak berani meminta—Shakir keluar begitu saja tanpa permisi. Alasannya cuma satu, kencing. Padahal ia mau ikut Wak Lah menonton film India di salah satu warung kopi agak jauh dari sekolah.

Bukan hanya Shakir, Wak Lah juga berhasil mengajak Pengko, Anjali, dan Maksum untuk bersama-sama menonton. Cara Wak Lah memengaruhi ketiga kawannya selain Shakir itu tentu bukan dengan cara kepada Shakir. Dengan muka sendu ia akan mengatakan bahwa alangkah baiknya membantu anak yatim yang kesusahan dibandingkan hanya mendapati ceramah-ceramah dari guru di kelas.

“Ibunya janda. Anak itu hampir tidak bisa sekolah. Warung ibunya sepi. Kita mesti meramaikan warung itu sebagai bentuk sedekah tidak langsung kita kepada anak yatim. Kalian setuju? Allah akan mencatat kebaikan kita semua,” ucap Wak Lah meyakinkan. Apache’s setuju.

Ketika sampai di warung, nyata-nyata Wak Lah tidak membeli apa-apa, melainkan ladat menonton film India. Kalau ditanya mengapa dia tidak jajan sebagai bentuk sumbangan, dengan tenang dia menjawab bahwa dia sudah berpahala sebab sudah berhasil berdakwah sehingga membuat empat orang lainnya bersedekah. Dia mendapatkan pahala amal jariyah. Besoknya, kelima Apache’s mendapatkan hukuman sebab pulang tanpa keizinan. Anjali kesal menatap Wak Lah.

“Jali, ini adalah pertanda bahwa untuk beramal kita dihadapkan berbagai cobaan!” ucap Wak Lah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

***

Pengko terpilih sebagai salah seorang wakil sekolah untuk lomba cerdas cermat di kecamatan dalam perayaan hari besar Islam. Sejatinya Shakir juga terpilih di anggota cerdas cermat, namun sebab dia tidak punya sepatu si guru celaka itu menggugurkannya. Dia terpilih mewakili sekolah untuk lomba shalat jenazah, sebab lomba itu diadakan di masjid yang tidak mengharuskan bahkan melarang siapa pun pakai sepatu bila masuk. Anjali ikut lomba menghitung cepat, sebab guru tahu betul ia itu seorang penjual kerupuk yang paling perhitungan (note: namanya saat itu terkenal sebagai Anjali Kerupuk Sagu). Maksum ikut lomba gaya busana muslim, ini sebab Pengko yang rupawan sudah ikut cerdas-cermat. Sedangkan Wak Lah, ia tidak ikut lomba apa-apa. Dia terpilih menjadi ketua keamanan yang bertugas menjaga sandal atau tas para perwakilan sekolah yang mengikuti lomba.

Hari yang ditentukan tiba. Anjali datang sangat cepat, di tangan kirinya sebuah buku matematika dan di tangan kanannya sekantong kerupuk sagu siap jual tersedia. Rupanya dia tahu bahwa dalam lomba pasti banyak anak-anak bermain di sana. Sempat-sempatnya ia berjualan sebelum lomba dilangsungkan.

Setali tiga uang dengan Anjali, Shakir juga membawa es batang ke area lomba itu. Bersama Maksum yang sudah rapi dari rumah ia membawa tong es seperti biasa. Pendapatannya lumayan banyak. Maksum diberikan es gratis pula sebelum sempat naik panggung.

“Es itu sudah kuberi doa pemanis agar juri menarik melihatmu,” ucap Shakir dengan yakin. Maksum tersenyum lebar dan kata-kata Shakir seperti ajian sakti yang keluar dari celah gigi yang membandel itu.

Meskipun menjadi ketua keamanan, Wak Lah tetap saja nakal. Tiap hari dia membawa pulang beberapa sandal bagus milik peserta. Pada hari final lomba shalat jenazah, tak tanggung, Wak Lah berhasil menggondol sandal ketua KUA yang menjadi juri di sana. Sungguh luar biasa kejahatannya.

Seminggu kemudian hasil dari kecamatan diterima pihak sekolah. Pengko dan timnya menjadi juara satu. Shakir tidak mendapatkan juara apa-apa, sebab memang kalau dinilai dari segi suara dia tidak pernah punya modal untuk memerdukan lantunan ayat. Anjali juara tiga. Maksum, mungkin berkat doa Shakir, keluar sebagai juara harapan pertama. Mereka dikalungkan penghargaan oleh kepala sekolah setelah selesai upacara. Begitu tiba giliran Apache’s, Wak Lah menangis tersedu-sedu diikuti Shakir yang jelas ikut-ikutan belaka.

Pengko datang ke Shakir lalu memberi uang hasil juara. Dengan wajah berbinar seterang biji-biji mulut, Shakir menerima.

“Untuk beli sepatu. Aku sudah minta izin sama Papah dan Mamah,” ucap Pengko santun. Kali ini airmata di wajah Shakir berderai dan asli. Tanpa basa basi. Wak Lah memeluk Pengko dan memuji kawannya. Wajah Wak Lah nampak seperti menginginkan sesuatu. Anjali dan Maksum langsung paham. Mereka mengeluarkan uang berlambang monyet masing-masing dua lembar lalu memberikannya kepada Wak Lah. Lelaki melankolis itu pun menangis. Mereka berpelukan.