Karya Nazar Shah Alam

Perang di Mauro Raya berhasil dijinakkan oleh pemerintah pusat, setidaknya sebagian besar kelompok preman garis keras telah tunduk kembali di bawah naungan NKMR (Negara Kesatuan Mauro Raya). Kecuali itu, bekas-bekas perlawanan sesekali juga memercik di beberapa tempat, meski tidak begitu menunjukkan ancaman yang berarti. Mungkin hanya satu peristiwa besar yang patut dicatat setelah penjinakan itu, yaitu pengibaran bendera The Land Art United (Persatuan Tanah Seni) di daerah salju yang makmur itu. Ya, selain preman, pekerja seni juga mengadakan perlawanan, dan sebagian besar dari mereka berkutat di tanah dingin. Mereka menuntut kemerdekaan. Presiden Mauro Raya yang memang sangat egois dan tidak paham apa-apa tentang negeri ini mengeluarkan surat pelepasan kuasa atas tanah salju, Land Art United merdeka. Mereka bersiap menyongsong kejayaan yang hakiki.

Kelicikan pemerintah Mauro Raya terus berjalan, mereka merekrut para preman yang kalah menjadi orang-orang penting dengan diberi jabatan penting. Mereka kemudian bekerja sesuka hati. Mauro Raya menjadi sangat semrawut dan kacau balau. Dalam kesemrawutan itu, rupanya pemerintah masih menaruh perhatian yang luar biasa terhadap perburuan Genk Apache (dalam pada ini disebut Mafia Apache).

Di lain pihak, para Apache’s sedang sangat menikmati hidupnya. Setelah teror besar-besaran dilakukan di tujuh Bank Mauro dan beberapa showroom mobil, mereka pergi dari negeri semrawut ini. Pertama sekali mereka menuju ke Inggris. Di daerah Shefield United Apache’s mengadakan rapat. Pengko memimpin rapat. Pada akhirnya mereka sepakat untuk berpencar ke berbagai penjuru, hal ini untuk mengelabui para pencari mereka.

Sekian lama di tempat terpisah, mereka muncul sebagai orang-orang baru. Wak Lah menjadi orang kaya raya di bisnis baju ungunya di Italia, perusahaannya diberi nama Violet Styles. Corp. Perusahaan ini bekerja sama dengan berbagai negara di dunia. Dia benar-benar sudah berhasil. Namun, menurut informasi yang beredar, rupanya Wak Lah belum juga mendapatkan jodoh. Ini perkara pikiran dan hatinya yang error. Dia hanya menginginkan janda. Sedang para Mom (tante girang.red) di Italia yang ditemuinya rat-rata tidak begitu ingin terikat hubungan sakral. Wak Lah pada akhirnya menjadi seorang yang gemar kumpul kambing dengan para Italian Mom. Nama Wak Lah berubah menjadi Jhondal Wak Lah. Jhondal itu dari kata janda.

Shakir atau akrab disapa Shakir The Jing (Jing adalah Jingga, Shakir memaksa agar orang-orang menerima nama itu walaupun dengan berat hati). Lelaki tak tampan itu sekarang berada di Amerika, di sana ia bergabung dengan para gangster dan penyanyi jalanan. Selain itu ia rupanya sudah menjadi penyanyi R&B dan memiliki perusahaan rekaman di sana, Jingges Voice. Untung saja itu perusahaannya sendiri, jadi dia bebas melakukan rekaman kapan dikehendaki. Kalau saja perusahaan itu milik orang lain, tentu Shakir akan ditolak mentah-mentah.

Menyanyi memang bukan dunia lelaki ini sebenarnya, suaranya sama sekali tidak mendukung, nada lagunya centang perenang, dan pada akhirnya kaset-kaset lagunya sama sekali tidak laku di pasaran. Para pemilik toko kaset bahkan langsung menanam kaset-kaset lagu Shakir sebelum sempat dipajang di rak-rak. Mereka ketakutan membuangnya sebab Shakir adalah seorang yang berbisa. Maka, menanam kaset-kaset itu adalah jalan terbaik.

Anjali sudah menjadi pemain bola di Spanyol. Bergabung di tim Real Madrid junior. Dari segi usia sebenarnya dia sudah tidak wajar bergabung dengan tim junior, tapi daripada tim ini dihancurkan pula olehnya, ada baiknya pihak Madrid menerima. Anjali bebas bermain sebagai apa pun di sana. Dia membeli sebagian besar saham tim sepakbola Real Madrid. Di kaos tim itu terpampang namanya, Anjali Ci Lara. Di sana, Anjali banyak berhubungan dengan gadis-gadis Madrid. Namun, dari sekian banyak yang ditemui, hanya satu gadis saja yang menerima cintanya. Cinta pertama Anjali. Senang tak kepalang lelaki keriting ini. Gadis ini sangat cantik. Memang, hidup tidak disangka.

Seperti juga penerimaan oleh seorang gadis cantik asal ibukota Spanyol itu kepada Anjali, seperti itu juga nasib lelaki ini. Serba tidak tertebak. Sepulang dari bar pada malam Minggu yang romantis, Anjali dan Anne Amora memasuki hotel bintang lima di seputaran Calle de Montera. Anjali turun lebih dulu dan dengan secepat kilat berlari ke pintu mobil tempat Anne duduk, membuka pintu dengan manis. Mereka pasangan yang berbahagia sekarang. Mereka serasi nampaknya (warning: kata “serasi” dituliskan dengan sangat berat hati).

Maksum kembali ke Mauro Raya. Dia meninggalkan cinta di sana. Benarlah sudah, untuk membuktikan cinta terkadang seseorang mesti menantang mautnya. Maksum dengan gagah berani, sendiri, turun di Bandara Internasional Raja NSA Mauro Raya. Dengan pistol disisipkan di pinggang, ia menuju rumah Ramlah, menemui perempuan itu untuk kembali mengatakan bahwa ia pulang untuk membuktikan betapa cinta telah membawa dia ke ambang kematian.

Malam itu dingin sekali. Mauro Raya dilanda hujan lebat. Maksum menyusup ke dalam apartemen Ramlah dan masuk ke kamar gadis itu. Ramlah terperanjat mendapati Maksum di hadapannya. Dia tidak punya persiapan apa-apa. Pistolnya di laci lemari, dia tidak berkutik.

“Kamu takut pada kedatanganku, Ramlah? Sudahlah, jangan cemas,” ucap Maksum dengan tenang dan duduk di sofa putih dekat kaca solek gadis itu. “Aku buronan besar, kan? Sedang kamu adalah orang yang menerima tugas untuk menghabisiku. Aku datang padamu malam ini bukan untuk menyerah pada pemerintah, tapi aku tiba untuk menyerah pada cintaku. Padamu, Ramlah!”

“Ini berbahaya, Maksum. Aku tahu kamu mencintaiku dan kamu juga tahu bahwa aku demikian juga. Tapi sekarang posisi kita berseberangan. Aku mesti patuh pada tugasku dan kamu keras kepala, tidak mau menyerah. Aku bisa mengurus kebebasanmu dan pada saat itu kita menikah, lalu hidup bebas dan bahagia,” bujuk Ramlah dengan harapan buncah.

“Aku mengerti mimpimu. Tapi bagaimana mungkin kita bisa bahagia sedangkan banyak sekali orang-orang tak bersalah terbunuh di sini, orang-orang kita tidak bisa bersuara, tidak boleh memprotes, diancam, dibunuh. Kami ingin mewujudkan kedamaian seperti semestinya, Ramlah. Pada saat seperti itu kita akan lebih tenang dan berbahagia.”

“Aku takut ketika kelak kalian berhasil, cara kalian memerintah jauh lebih buruk daripada sebelumnya,” tuding Ramlah.”Di mana kawan-kawanmu sekarang, Maksum? Kita akan berunding!”

“Aku hanya tahu tentang diri dan hatiku, Ramlah. Aku hanya tahu kemana cinta membawaku. Sekarang aku ada di hadapanmu, mereka tidak kuketahui di mana,” ucap Maksum penuh penghayatan. Mereka tidak lagi berbicara. Malam yang dingin membawa mereka ke dalam romansa yang patut dikenang. Cinta dan rindu yang tertahan sekian lama pecah dalam balutan suka cita.

Pengko adalah satu-satunya anggota Apache yang kehilangan kabar. Dia berada di Hawaii sekarang, membangun sebuah rumah besar, menikmati hidup yang flamboyan. Di rumahnya, pada tiap malam Minggu akan diadakan pesta. Beragam pementasan ada di sana, dari tari Tanggo, Samba, bahkan sampai Seudati tersedia. Namun, ada satu acara yang menjadi langganan di panggung bebas di halaman rumahnya yang luas itu dan selalu menyedot pengunjung, yaitu perpaduan Rapai dan Saman. Pelatih-pelatih para penari ini diterbangkan dari daerah-daerah asal tarian itu, biar benar-benar terasa.

Pengko mendapatkan penghargaan dari PBB atas apresiasinya terhadap seni dunia. Selain itu, ia juga mendapatkan pengukuhan dari Badan Pengakuan Dunia atas ketampanannya. Penghargaan sebagai insan tampan sejagat ini adalah yang kelima kali berturut-turut. Sang kaya raya ini dalam pidato kehormatannya menyatakan bahwa uang $1 juta dihibahkan kepada korban perang di Mauro Raya.

***

“Bangunlah, sayang. Permainanmu selesai!” suara itu membelalakkan mata Maksum. Seorang perempuan berdiri dengan gagahnya dengan pakaian kepolisian lengkap dan di belakangnya telah berdiri pasukan tak kurang dari sepuluh orang dan kesemuanya menodongkan senjata kepada lelaki berberewokan lebat itu. “Katakan, di mana semua anggotamu?”

“Boleh aku pakai baju?” tanya Maksum sembari beranjak bangun dari tempat tidurnya dan memungut baju yang ada di meja. Setelah memakai kemeja biru mudanya dan mengikat kain bandana merah di kepala, Maksum mencuci muka di wastafel. Dia dengan tenang kembali ke hadapan Ramlah. “Silakan borgol aku. Atau, kalau mau tembak saja. Aku tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang sama sebab jawabannya akan tetap sama!”

Ramlah mengarahkan pistolnya ke jidat Maksum, lelaki itu tidak bergeming. Sebuah tubrukan gagang pistol mengenai jidatnya hingga mengeluarkan darah segar. Maksum menatap mata Ramlah dengan tegas. “Di mana mereka?” tanya Ramlah.

Maksum melepaskan dua kancing atas bajunya,”tembak aku di sini, Ramlah. Aku ingin kau membunuh dirimu yang berada di sini,” ucap Maksum menunjukkan tengah dadanya. Ramlah kesal, dilepaskan satu tembakan ke lutut lelaki yang mencintainya itu.

“Aku lebih mencintai negaraku,” ucap Ramlah lalu menyuruh anggotanya membawa Maksum.

“Ramlah, aku lebih mencintaimu!”

***

Kabar tertangkapnya Maksum dimuat di koran-koran. Berita nasional dan internasional tidak lupa mengabarkan. Foto dan video lelaki kekar itu beredar dengan cepat, dia digantung di depan penjara tanpa baju. Maksud para polisi itu adalah untuk memancing Apache’s keluar sarangnya.

Keinginan para polisi itu terkabul. Kabar itu diterima dengan cepat oleh Apache’s. Geram semua mereka. Shakir segera menghubungi Wak Lah. Lelaki ungu itu segera terbang ke Amerika. Pengko kehilangan akses kawan-kawannya, jadi dia bergerak sendiri dari Hawaii ke Mauro Raya. Shakir dan Wak Lah bertemu di kantor rekaman sang The Jing. Mereka berbicara sangat serius ditemani bergelas-gelas bir.

Anjali begitu mengetahui kabar Maksum segera berbenah hendak menuju Mauro Raya. Namun sebuah telepon mendadak menghentikan langkahnya. Seperti dulu kita tidak menyangka bahwa akan ada perempuan cantik yang menerimanya, seperti itu pula kejadian yang menimpa Anjali malam itu. Lelaki kribo dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju Calle de Montera, tempat perempuan cantik kekasihnya berada. Di hadapan apartemen gadis itu, tiga dentuman terdengar. Anjali berlari ke kamar gadisnya. Sebuah badan terkapar bersimbah darah. Anne ditembak oleh orang tak dikenal. Anjali jatuh di depan pintu. Tersungkur lesu. Cintanya hanya bisa dinikmati dua minggu. Rencana pernikahannya bulan depan hilang seiring berlumurnya darah perempuan harapan.

Anjali terkejut mendapati tulisan di pintunya yang ditulis dengan bahasa Mauro Raya: ini peringatan, kamu selanjutnya, Anjali! Lelaki itu membanting pintu dan berteriak-teriak tak jelas. Ia bergegas ke bandara, membeli tiket dengan cepat hendak menyerang Mauro Raya. Wak Lah dan Shakir sudah lebih dulu berada di sana rupanya. Mereka berkumpul di Hotel Jing Afrika, miliknya Shakir The Jing. Pengko belum juga tiba bahkan ketika Anjali dengan mata merah sebab menangis saban waktu telah sedia.

Wak Lah berhasil menemui seorang ibu dari polisi yang bertugas di sana. Seperti yang diketahui, bahwa mengenai peluluhan hati perempuan tua Wak Lah adalah rajanya. Dia bersedia menjadi kekasih perempuan tua itu denga catatan si perempuan bisa mencari tahu jalan menuju Maksum. Kesepakatan terlaksana. Perempuan itu diberikan GPS map (sebuah alat pendeteksi jalan dan berguna untuk membuat peta) kecil yang dilekatkan di jam tangannya. Peta pun didapatkan. Mereka sepakat akan menyerang pada malam hari nanti dan menculik Maksum pergi.

Pintu kamar diketuk pada senjanya. Di luar hujan sedang lebat sekali sehingga menyayupkan suara-suara. Ketukan itu semakin kuat dan tegas sehingga hampir seperti gedor. Ketiga lelaki di dalamnya saling tatap. Shakir memegang bahu Wak Lah yang nampak ketakutan.

“Lah, Jali, sekarang kalian keluar dari pintu rahasia. Aku akan menghadapi mereka. Bawa semua peralatan yang dibutuhkan,” ucap Shakir tak bisa menyembunyikan ketakutan.

“Hati-hatilah, kawan,” jawab Wak Lah dan menarik Anjali dengan cepat keluar. Shakir mendekati pintu dan membukanya dengan tenang. Tujuh moncong senjata mengarah ke mukanya, hampir mengenai giginya yang kebetulan agak nakal.

“Mana dua orang lagi?” tanya seorang polisi dengan suara tegap.

“Dari tadi saya sendiri di sini,” jawab Shakir. Dua polisi masuk dengan awas. Shakir membiarkan. Polisi yang membentak tadi mendorong kening Shakir dengan ujung senapannya. Shakir berang. Dia memegang kepala polisi itu dengan kedua tangannya dan dengan sangat cepat menghantukkan kepala itu ke giginya.  Suasana riuh. Beberapa tembakan muntah dengan cepat ke arah Shakir. Namun gerak setan yang ada pada Shakir berhasil menguasai perlawanan. Namun itu, sebuah letusan di halaman depan hotel membuat Shakir kehilangan konsentrasi. Dia berlari ke dekat kaca. Di sana, Anjali dan Wak Lah sedang dikejar oleh polisi, mereka berlari sempoyongan. Dalam kekalutan hati Shakir, sebuah peluru mengenai pahanya. Shakir tersungkur. Jatuh ke dipan.

Anjali membalas tembakan. Saling serang terjadi lagi. Wak Lah yang tadi terkena timah panas di bahunya tersuruk-suruk berlari dan membalas tembakan para polisi. Mereka semakin terdesak. Anjali meminta Wak Lah turun ke sumur tua di sana. Dia berjanji akan menyusul kawannya itu. Namun, siapa sangka rupanya setelah Wak Lah turun, Anjali berlari ke arah lain, mengelabui petugas. Anjali berlari sekuat tenaga ke arah jalan raya, dia kehilangan kendali. Tembakan bertubi-tubi di belakangnya tidak ia peduli. Namun malang tak bisa diurung, sebuah mobil yang sedang melaju menghantam tubuhnya. Anjali terkapar di pinggir jalan raya.

***

Tiga badan yang sejak tiga hari lalu digantung di halaman kantor polisi dibawa masuk ke sel untuk menikmati hidangan terakhir. Seluruh orang Mauro Raya diwajibkan datang ke halaman kantor polisi itu untuk menyaksikan penyiksaan demi penyiksaan yang akan dilakukan sebentar lagi. Siang yang panas, sekelompok polisi bertopeng bersiaga di dekat tiang gantungan. Tahukah bahwa dalam tiga hari ini beragam penyiksaan telah mereka dapati? Shakir tidak lagi bisa merasakan keberadaan giginya setelah dikontak sebab tidak menjawab Pengko di mana. Anjali digunduli rambut keritingnya, penyiksaan terbesar baginya meski dia tidak sampai luka. Sedang Maksum, ketampanannya hampir terenggut sebab dibakar matahari saban kala dan cambuk yang melibas punggung dan dadanya. Celakanya Maksum, tiap ditanya di mana Pengko, ia menjawab bahwa yang diketahui olehnya adalah Ramlah dan perempuan itu ada di hatinya.

Lima menit waktu tersisa, Apache’s sedang makan di sel mereka. Tidak ada lagi harapan. Tapi mereka masih tertawa. Seorang polisi berbadan tegap bersama seorang polwan masuk ke sel itu. mereka menunduk seolah sedang makan dengan khusyuk.

“Sekarang semua orang sudah menunggu penghakiman. Kita akan menghina pemerintah dengan cara lain, Kawan!” ucap polisi tegap itu. Anjali, Maksum, dan Shakir kenal betul suara itu. Mereka ternganga. Di antara nganga itu, pemilik nganga terbesar adalah Shakir, tentu saja.

Pengko datang bersama komisaris Bianglala. Di luar sana dengan baju polisi lengkap Wak Lah sedang awas. Rupanya selama ini Pengko tidak pulang ke hotel, melainkan menghabiskan waktu bersama komisaris Bianglala yang sudah sangat rindu. Dengan berbagai bujuk, ia berusaha agar Bianglala mau membantunya melepaskan Apache’s yang sudah ditangkap. Pengko menjemput Wak Lah yang diketahui dari seseorang sedang berada di rumah janda yang membantunya ketika Bianglala bersedia membantu mereka. Berhari-hari Pengko memelajari peta yang didapatkan Wak Lah dari janda kenalannya tempo waktu. Begitu sudah paham betul, baru Pengko bergerak. Lelaki ini memang punya cara yang matang dalam melakukan segala yang diinginkan.

Apache’s keluar sel. Bianglala ikut bersama mereka, menunjukkan jalan belakang untuk mereka keluar. Wak Lah memapah Shakir yang kelewat lemah sebab penyiksaan. Maksum diangkat ke punggung Pengko. Anjali berjalan sendiri tanpa ada yang membantu.

Jadwal penyiksaan tiba. Polisi menjemput para akan disiksa. Pintu penjara terkunci, di dalamnya sudah tidak ada sesiapa. Polisi yang menjemput segera melaporkan ke halaman. Begitu para yang diundang di sana tahu bahwa Apache’s berhasil kabur, sontak para warga menyorak pemerintah yang terlanjur mengundang. Presiden Mauro Raya yang sudah berdiri di dekat tiang penyiksaan marah bukan main. Permainan Apache’s rupanya belum berakhir!