Karya Nazar Shah Alam

Ketika perang antara kaum preman dengan pemerintah mulai pecah di Mauro Raya, segalanya menjadi kacau. Orang-orang terpecah belah menjadi kelompok-kelompok. Parahnya, dalam kelompok-kelompok itu mereka juga saling curiga, saling tuding, saling merasa hebat, jadinya mereka terpecah-pecah lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Perang tidak hanya merenggut nyawa dan darah rupanya, melainkan juga persahabatan, persaudaraan, dan segenap ketenangan.

Pemerintah Mauro Raya kalang kabut menghadapi banyaknya kelompok preman yang seolah membentuk sebuah aliansi menyerang di segenap pelosok. Sejatinya kelompok-kelompok preman ini tidak pernah mau bersatu. Mereka saling ingin menunjukkan taji kepada kelompok lain dalam penaklukan pemerintahan. Pemerintah mengerahkan banyak sekali tenaga keamanan untuk mengentaskan para preman. Di banyak tempat mereka berhasil ditumpas, namun tidak sedikit juga yang lolos.

Di antara kelompok-kelompok preman yang paling kejam, pemerintah menaruh perhatian besar kepada salah satu kelompok yang sangat menakutkan. Beberapa kali presiden diteror oleh kelompok ini. Di antara banyaknya kelompok preman, hanya kelompok ini yang memiliki akses kuat dalam tubuh pemerintahan. Maka presiden memaklumatkan kepada segenap personil keamanan agar menembak mati siapa saja yang tergabung dalam kelompok itu. Kelompok ini hanya terdiri dari lima orang. Beberapa kali wajah mereka terpampang di koran yang di atas gambar mereka tertullis “The Big Wanted: Apache’s”

Apache’s sudah pecah juga. Mereka terbagi ke dalam dua golongan: setengahnya bekerja untuk pemerintah, dan setengah lagi menjadi preman kelas kakap. Adalah Pengko yang memutuskan untuk menjadi preman saja ketimbang mesti mengikuti titah kepala pemerintahan yang sejatinya tidak paham apa-apa tentang hukum negara dan hukum agama. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi makmum sedangkan imamnya tidak pandai sembahyang (sesuai agama manapun).

Pengko mengajak seluruh anggota Apache’s untuk ikut mengambil bagian menjadi pemberontak. Seperti yang diketahui, Shakir, Wak Lah, Anjali, dan Maksum mengangguk. Mereka siap menjadi martir dalam perang besar ini. Siapa nyana, dari sekian banyaknya kelompok, rupanya hanya kelompok mereka saja yang paling memberi ketakutan kepada pihak penguasa.

***

“Aku tahu ini sulit, Pengko. Tapi aku tidak mau melukaimu sama sekali. Kuharap kamu menyerah kepada pemerintah,” usul Komisaris Bianglala. Perempuan lembut ini memilih bergabung dengan polisi bersama dengan Ramlah. Ya, pada akhirnya mereka meninggalkan Apache’s dan segenap kenangan indah bersama genk ini.

“Kamu satu-satunya polisi yang baik, Bianglala. Selama ini aku takut pada polisi, tapi tidak sekarang. Sekarang aku lebih takut pada orang-orang kampung ini dibandingkan polisi. Artinya aku tidak akan pernah takut ancaman apa pun yang datang darimu, Sayangku!” jawab Pengko dengan senyum tenang. Bianglala mati kalam.

Setelah kepulangan Bianglala, Ramlah berulang kali mencoba meyakinkan Apache’s untuk menyerah. Dia akan menjamin kehidupan Apache’s kalau-kalau mereka mau bergabung dengan pemerintah. Bahkan mereka akan diberikan pangkat yang tinggi nantinya. Ketika Ramlah yang datang, Maksum hampir saja jatuh dalam penawaran. Cinta yang besar membuatnya gamang memilih antara pemerintah dan preman. Apalagi Ramlah ketika itu sempat mengatakan akan bersedia menjadi istri Maksum kalau lelaki itu ikut bersamanya, tunduk pada pemerintah.

Namun, bukan Pengko namanya kalau tidak keras kepala dan percaya diri. Pengko bertahan berikut keempat kawannya. Mereka kembali mengadakan perlawanan. Ketika yang tersisa hanyalah sebagian kecil saja dari kelompok preman, Apache’s menjelma menjadi mafia yang menyeramkan. Pengko dan Maksum sering melakukan aksi perampokan bank dan showroom mobil. Jadinya, seluruh anggota Apache’s memiliki mobil yang mewah, setara Ferrari Enzo dengan warna beragam. Pengko Enzo merah, Maksum hijau, Wak Lah ungu (konon seperti warna janda), Anjali kuning (bertolak belakang sekali dengan warna kulitnya), sedangkan  Shakir tetap dengan warna yang sama, jingga. Perkara mendapatkan mobil Ferrari Enzo berwarna jingga, Pengko dan Maksum sangat kewalahan dibuat Shakir. Cara punya cara, akhirnya mereka mendapatkan bangkai mobil tersebut di salah satu bengkel tua. Shakir dibawa kesana dan dengan sumringah menerima. Agar bangkai Enzo tersebut cepat larinya, mesinnya ditukar dengan yang baru. Sampai tahap itu kegilaan Shakir akan Jingga.

Meskipun Pengko dan Maksum mencuri dalam jumlah yang besar, rupanya yang paling sering mencatat namanya di buku kejahatan dibandingkan semua anggota adalah Wak Lah. Setiap hari ada saja kejahatan yang dilakukannya. Dalam buku absensi kejahatan atas namanya, tercatat 95% dilakukan di rumah para janda. Apakah Wak Lah melukai janda-janda itu? Tidak, ia hanya datang untuk menakuti sambil tebar pesona agar ada salah seorang Janda yang menyukainya. Dia tidak melenyapkan barang-barang, tetapi pada tiap melakukan aksi, ia kerap mencuri foto-foto janda yang diterornya. Hanya foto? Ya, hanya foto. Sebab bagi Wak Lah, foto janda jauh lebih berharga daripada emas atau berlian. Dia perampok yang gagal, sebenarnya. Selama tiga tahun menjadi penjahat, dia tidak memberikan hasil apa-apa selain dari foto para janda yang kalau dikumpulkan sudah penuh satu karung banyaknya.

Shakir adalah seorang yang ditakuti. Selain dari wajahnya yang sangar, dia juga terkenal penjahat yang sudah wafat perasaan. Kejahatan Shakir tercatat beberapa kali saja. Kejadian paling jahat yang dilakukannya adalah menodong penjual pulsa. Sangking jahatnya, selain memoroti sejumlah uang dan pulsa di sana, dia juga mewajibkan agar para penjual pulsa mengubah warna toko mereka menjadi jingga. Bagi yang menolak, akan ditembak. Di salah satu lokalisasi counter hape, di mana toko-toko hape berjejeran, dia meminta agar masing-masing toko menulis satu huruf di sela cat jingga itu. Toko wajib buka jam 10, sehingga bila orang-orang melewati deretan toko itu pada jam 9 pagi, nampaklah kita lihat rangkaian huruf di sana,”Shakir Love Jingga”. Ketika ditanya oleh Pengko untuk apa ia merampok pulsa, jawaban Shakir gampang saja, “untuk menelpon Jinggaku, Pengko. Agar sembuh rindu.”

Anjali keriting memanfaatkan posisinya sebagai orang yang ditakuti dengan menggoda banyak dara. Sayangnya, meskipun sudah menodongkan senjata dan berkelakuan sangar, para dara itu juga tidak jatuh hati padanya. Jangankan jatuh hati secara ikhlas, berpura-pura jatuh cinta saja tidak ada seorang pun dara yang bersedia. Bahkan tak sedikit dara yang rela dihabisi nyawanya daripada mesti berpacaran dengan Anjali. Kasihan sekali.

Suatu hari pada bulan November, di antara hujan yang mengguyur lebat, ketika Genk Apache sedang bersantai di balkon rumah megah Pengko, sekelompok polisi datang menyerang mereka. Apache terpelanting dan buyar ke berbagai arah. Shakir memungut senjata dan membalas tembakan. Perang berkecamuk. Balas berbalas tembak semakin seru seiring anggota Apache sudah mengambil senjatanya masing-masing. Pengko yang paling jitu tembakannnya berhasil melumpuhkan empat polisi dengan empat pelurunya. Wak Lah melepaskan tembakan bertubi-tubi melalui tangga menuju kamar rahasia sembari menggapai pintu kamar itu. Dia segera membuka pintu kamar rahasia begitu tiba di sana dan memanggil semua genk untuk masuk.

Celaka dua belas, ketika mereka memasuki ruang rahasia, Shakir termasuk (kerasukan.red). Dia berdiri dengan gagahnya di balkon, tanpa sembunyi, dan terus menembaki para polisi. Pengko kembali ke balkon menjemput kawannya. Seiring Pengko, keluar lagi Maksum dan Wak Lah. Dalam deru peluru balas berbalas, Shakir berubah menjadi seorang terminator yang gagah berani. Namun…. Thuuuummm! Thiiiiiiinnggggg…!

Sebuah peluru membuat Shakir terpelanting. Pengko memungut tubuh kawannya yang terlempar ke belakang dan mengangkat tubuh tak berdaya itu ke bahunya. Wak Lah terus menembak untuk berjaga-jaga.

Dalam kekalutan mencari tempat berlindung, Maksum sempat melihat Ramlah dalam kelompok penyerang itu. Lelaki tampan di bawah Pengko itu terpacak tak percaya. Badannya ditarik oleh Wak Lah dengan segera. Pintu rahasia ditutup.

Tiba di persembunyian, air mata Maksum sudah tak lagi bisa ditahan. Dia menangis tersedu-sedu mengenang kekasihnya. Dia mengambil foto di dompetnya, dinyalakan api untuk membakar foto itu. Api membesar, ia urung melarungkan gambar Ramlah tersayang. Maksum mencium-cium foto Ramlah dan memeluknya. Maksum dilanda lara.

Apache’s memang tidak lari terlalu jauh, mereka bersembunyi di sebuah rumah tua dengan beton yang sudah menghitam. Di sana tidak ada apa-apa kecuali beberapa tumpukan jerami setinggi dada orang dewasa yang membiaskan aroma menusuk. Di luar hujan semakin deras.  Anjali duduk di dekat pintu yang menghadap ke selatan. Matanya awas. Wak Lah mengeluarkan satu foto janda yang yang dibawanya di antara setumpuk foto yang dicuri tempo waktu. Pengko merebahkan badan Shakir di atas satu tumpuk jerami yang disungsaikan. Kasihan lelaki itu. Satu peluru polisi mengenai giginya yang menjulur ke depan membuat Shakir pingsan.

Dalam pada semua anggota dilanda kelelahan, aroma kematian semakin mendekat. Pengko merebahkan mendekati Maksum demi menghibur kawannya. Lelaki itu terus menangis. Dalam keadaan seperti itu Maksum semakin kalah tampan dari Pengko Khan. Ketika Pengko menghibur Maksum, sebuah dentum terdengar. Anjali berdiri kaku dan basah di pintu masuk.

“Kita sudah tuntas!” teriak Anjali membuat Pengko, Maksum, dan Wak Lah memandangnya. Di pintu sudah berdiri Ramlah dan Bianglala dengan senjata. Pengko dengan tenang menatap ke arah pintu. Wak Lah mendekati Anjali tanpa berpikir mati. Dia berdiri tepat di hadapan moncong AK-47 Bianglala, moncong itu mengenai jidatnya. Wak Lah memeluk Anjali dengan haru.

“Pengko, apa kau kira kita sudah kalah?” tanya Wak Lah membalikkan tatapan, Pengko menggeleng tenang.”Silakan tembak aku, Bianglala. Tapi jangan pernah kau sakiti kawan-kawanku,” ucap Wak Lah dengan suara seperti tertahan haru. Anjali jatuh pingsan sebab tidak menyangka Wak Lah sampai bersedia mati demi mereka semua. Shakir siuman dan begitu ia sedang mencoba berdiri, didengarnya ucapan perelaan Wak Lah tadi, dia pun merasakan efek kata-kata Wak Lah. Setan kembali merasukinya. Setan lama. Dia mulai meraung-raung, memakan apa saja: memakan jerami, batu kecil yang berserak, batu-bata dinding, bahkan pistol yang ada di tangannya. Dia menyeringai ke arah Bianglala dan Ramlah beserta segenap polisi yang berjaga-jaga di sana. Secepat kilat Shakir menerkam pistol di tangan Ramlah. Ia mengunyah pistol itu seperti memakan kerupuk. Ramlah mengisyaratkan agar tidak ada yang menembak. Shakir merebut AK-47 salah seorang menjaga, mengunyah lagi. Semua polisi terpacak di tempatnya, heran.

Dalam pada Shakir mengamuk, Pengko memanfaatkan masa itu. Sang tampan melompat ke arah Bianglala yang keheranan dan dengan cepat merebut AK-47 di tangan perempuan teduh itu. Anjali yang pura-pura pingsan bangun dengan cepat dan mengarahkan revolver hitamnya ke arah Bianglala. Wak Lah menempelkan bom waktu di pinggang Ramlah yang gelagapan. Shakir tersenyum. Perlu diketahui, selama lelaki tidak tampan itu termasuk, rupanya dia berhasil mengajak setan-setan bekerjasama dengannya sehingga ia kebal dan kuat. Setan membantunya memakan senjata tadi, rupanya pada saat berguling-guling ia sempat mengoles senyawa pada tangan para polisi, senyawa yang bisa memicu meledaknya bom di badan Ramlah jika orang yang dioles itu bergerak banyak.  Wak Lah menarik tali pemicu ledak. Maksum mengarahkan FN silvernya ke arah salah seorang polisi yang hendak bergerak, semakin mendekat, moncong FN Maksum lekat dengan jidat polisi itu. Para polisi lainnya seperti tertanam kakinya di tanah.

“Katakan padaku, Komisaris cantik. Apakah Apache’s sudah kalian kalahkan?” tanya Pengko setengah berbisik di telinga Bianglala. Perempuan itu mencoba melawan, tapi gagal. Tangan Pengko di lehernya begitu kuat dan gengaman sang tampan pada kedua tangannya memang sengaja tidak dilepaskan. Bianglala bahagia dan takut. Bahagia sebab Pengko yang rupawan menggenggam tangannya, dan takut kalau-kalau Pengko kehilangan perasaannya.

Shakir berjalan pelan mengutip semua senjata para polisi dan membawanya ke mobil Juke yang terparkir di hadapan rumah itu. Wak Lah menyambung tali pemicu ledak sehingga sambil berjalan dia masih bisa menjaga gerak Ramlah. Anjali masuk ke mobil dan menghidupkan mesin.

“Sampai jumpa lagi, Komisarisku,” ucap Pengko sembari melepaskan tangannya dari leher Bianglala, lalu mencium kening perempuan itu. Bianglala menatap Pengko penuh dendam kekalahan dan cinta yang besar. Maksum mendekati Ramlah dengan pandangan kesal bercampur kasih sayang.

“Aku masih menunggu tobatmu, Ramlah. Kau hampir membunuh kami. Aku setia menunggumu kembali menjadi orang baik. Aku mencintaimu seperti dulu,” ucap Maksum dengan suara perih dan berlalu.

Mobil dihidupkan. Apache meninggalkan para polisi.

“Mengapa kamu meletakkan bom pada Ramlah, mengapa tidak pada lainnya?” tanya Maksum kesal kepada Wak Lah begitu mobil mereka sudah memasuki daerah perkotaan.

“Maafkan aku Maksum, sebenarnya itu hanyalah bom palsu. Aku membohongi mereka dan rupanya mereka takut,” ucap Wak Lah senang. Memang kebohongan telah menjadi tulang pada tubuh bujang lapuk ini. Di sela tawanya, Wak Lah mengeluarkan foto janda tadi lagi, menciumnya berulang kali.

“Masih ingat pepatah China: untuk berperang kita membutuhkan keberanian dan kekuatan, untuk menang kita harus menerapkan seni dan sastra. Wak Lah dan Shakir berhasil melakukannya, Maksum,” ucap Pengko bangga.

“Aku memang pandai, Pengko. Shakir tokoh pembantu saja. Tapi aku berhasil menerapkan ilmu itu sebab mereka gadis, Pengko,” ucap Wak Lah. Semua Apache’s menatap lelaki itu. “Kalau saja di antara polisi tadi ada seorang janda, aku tidak akan pernah membohongi mereka,” ucap Wak Lah dengan pandangan penuh asa.[]