Karya Nazar Shah Alam

Benarlah seperti diduga, sepulang dari panti asuhan tempo waktu Pengko jadi terus merindu.  Bagaimanapun, ia dan Hj. Bianglala sempat memiliki satu kenangan yang wajar untuk diingat. Pengko menemukan tas kecil berisi data-data penting Bianglala. Padahal tas itu sudah terinjak-injak oleh jamaah haji yang melakukan sa’i. Pengko mengembalikan tas itu sehari kemudian. Tidak ada yang istimewa selain dari seulas senyum perempuan yang bahagia.

Pengko yang rupawan merasakan getar yang lain di hatinya. Selama ini ia biasa didekati oleh perempuan cantik dan kaya, bahkan beberapa artis pernah jatuh hati padanya. Namun, Pengko adalah pribadi yang beda. Selama masih belum sah, ia tidak akan menjalin cinta dengan siapa pun juga. Alasannya hanya satu, tidak mau ada hati yang terluka karenanya.

Hati tertambat, gayung bersambut. Sebagaimana yang dirasa Pengko, begitu pula Bianglala si dara lembut. Saban malam ia memegang-megang tas kecil yang ditemukan Pengko di Marwah dulu. Rasa-rasanya masih ada tangan Pengko muda di situ. Bianglala yang cantik dan bermata sendu berdoa lepas shalat pada tiap waktu agar Allah memberikan kemudahan baginya untuk bertemu laki-laki rupawan yang menambat hatinya tempo minggu.

Doa terjawab, kasih terpupuk. Pengko tiba dengan gelora yang ditunggu. Mereka memadu satu janji, bahwa bila sampai kehendak, sepekan lagi Pengko akan meminta Bianglala untuk jadi istri. Tak terperi senang hati sang hajjah. Selama seminggu menunggu ia habiskan dengan berdoa agar dimudahkan jalan mereka dan tentu saja dengan terus menatap foto pujaannya.

Hidup berjalan demikian cepat. Mereka jadilah bertalian, sudah lamar dan sudah bertunang. Maharnya tak banyak, hanya sebuah Al-Quran dan bacaan surat Ar-Rahman. Pengko menyanggupi itu. Bagaimana dengan adat? Adat boleh berlainan, asal hukum tidak dilangkahi. Maka mereka pun sepakat jadi.

Semakin mendekati hari pernikahan, Hj. Bianglala disibukkan dengan segenap persiapan. Pengko juga demikian. Sebuah ruang mewah di Hotel Hermes Nazar sudah disediakan, kebetulan Pengko punya separuh saham di sana. Segala urusan perlengkapan dapur diberikan tugas kepada Shakir. Lelaki tak tampan itu selama pulang dari haji memang sudah sangat update pada harga barang. Maklum saja, di haji dulu ia pernah bekerja sebagai asisten Wak Lah berdagang telur. Naluri dagangnya mulai liar begitu tiba di tanah air.

Anjali meminta agar diberikan tugas mencarikan penari untuk hari pesta. Pengko menatap seolah tak percaya. Anjali memelas lagi, Pengko diam saja. Selain dari Pengko tahu betul bagaimana kawannya dan sampai di mana kelebihan mereka, hasutan Wak Lah malam itu juga patut dijadikan pertimbangan.

“Anjali disuruh cari penari? Apa kamu sudah berpikir dengan matang, Pengko? Jangan kata mereka menerima tawaran, yang ada nantinya para penari menolak mentah-mentah ajakannya sebelum Anjali memberikan usulan. Anjali, kamu memang tidak pernah sadar pada kekurangan, ya. Dengan keadaanmu yang menyedihkan seperti itu masih saja kamu berani minta cari penari. Apa kata orang nanti untuk Pengko? Apakah tidak ada lagi teman Pengko yang berwajah bagus? Itu kata orang. Sekarang sebaiknya kamu masuk kamarku, ada kaca yang besar di sana, lihat lagi wajahmu!” ujar Wak Lah pada saat pembagian tugas. Anjali terluka hati. Pengko menenangkan lagi keadaan.

Pada akhirnya Anjali diberikan tugas memperbaiki bagian-bagian rumah yang rusak, sesuai bidang pekerjaan yang disukainya. Sebab hatinya pilu, Anjali hanya mengangguk. Dia menyimpan dendam kepada Wak Lah. Lelaki berewokan putih itu memang tidak pernah peduli pada hati orang. Tugas mencari penari diberikan kepada Wak Lah dengan alasan bahwa pengasuh dan pembina sebuah sanggar rata-rata perempuan berusia paruh baya? Bagian meluluhkan hati ibu-ibu, Wak Lah adalah rajanya.

Maksum dan Ramlah diberikan tugas sebagai dekorator untuk tempat pesta. Mereka memiliki cita rasa seni yang baik, meskipun rumah mereka sendiri terkesan tidak tertata, misalnya vas bunga diletakkan di atas TV sedangkan di meja tidak ada pun taplak.

Hari pernikahan di ambang, sekarang tiba saatnya mengurus hal-hal yang lebih sakral. Menurut laporan pertanggungjawaban, semua pekerjaan yang diberikan kepada Genk Apache terlaksana dengan sempurna. Besok siangnya akan diadakan foto bersama. Kali ini sesuai dengan keinginan Maksum dan Ramlah, semua Apache’s menggunakan pakaian melayu berwarna hijau, kecuali pengantin. Di sini kembali ada yang terluka batin.

Adalah Shakir yang keberatan dengan pilihan warna itu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Shakir adalah penggemar warna Jingga. Keberatan hatinya tidak pecah seperti Wak Lah. Dia hanya diam. Tapi pelan-pelan matanya memerah, disuruh berbicara dia tidak bicara. Hatinya seperti disayat luka. Dia mengatupkan bibir atas dengan bibir bawah seperti sedang menahan sesuatu yang hendak pecah di dada. Ini kali pertama mulut itu terkatup. Mahkotanya hilang tersembunyi di tempat jauh.

Perihal warna Anjali dan Wak Lah sama sekali tidak mempersoalkannya. Tapi tahukah saudara sekalian bagaimana perihnya menahan beban perasaan? Shakir masuk ke kamarnya. Di sana ia menumpahkan semua luka. Kepalanya ditutup bantal agar suaranya tak terdengar. Pintunya dikunci. Sangking sesak menahan luka di hati, Shakir tak sadar diri. Dia termasuk (kerasukan.red) lagi. Kamar terkunci di dalam, tidak ada yang tahu, tak ada yang bantu. Shakir meronta-ronta dan kembali menggigit apa yang ada di hadapannya. Gelas, besi ranjang, botol pengharum ruangan, semuanya.

Pagi hari Shakir bangun dengan lesu sekali. Dibukakan pintu kamarnya. Semua orang sudah tidak ada di sana. Sebuah tulisan rapi milik Pengko tertempel di pintu,”kami sudah di hotel. Menyusul kesana! Kunci Juke ada di bawah sofa ruang nonton.”

Shakir lupa, dia belum membeli baju hijau untuk foto bersama. Dia singgah sebentar di sebuah toko baju di kawasan Dar es Salam. Celaka alang bertindih, di toko tempat ia membeli baju, bertemu pula ia dengan seorang yang pernah menyakiti. Jingga, kebetulan ia juga di sana membeli baju warna yang sama. Shakir menundukkan pandangan. Setelah mengambil baju, dia tidak lagi menawar, langsung pergi. Di sepanjang jalan pikirannya terus lanang pada Jingga. Ah, cinta lama.

Di hotel sudah menunggu para Apache’s dengan pakaian serba hijaunya. Pengko tersenyum mendapati Shakir sudah dalam keadaan rapi sebentar kemudian. Para Apache berdiri dengan rapi. Hari ini untuk pertama sekali mereka kenal pada perempuan yang diidamkan Pengko, teduh dan bersahaja. Dengan senyum yang terpaksa Shakir mendekat dan berdiri dengan rapi juga.

“Kali ini bajumu bagus, Kir. Aku tidak menyangka ada warna lain yang tepat untukmu,” seru Ramlah menghibur kawan mereka. Pengko tersenyum penuh arti.

“Harta sendiri memang lebih baik untuk kita, Ramlah!” jawab Shakir. Pengko mengernyit.

“Tunggu dulu, harta sendiri? Kamu membeli baju ini sendiri, Shakir?” tanya Pengko.

“Aku tidak pernah mendapatkan kamu yang tidak dermawan seperti hari ini, Pengko. Ini kubeli sendiri, memang. Tapi aku mesti menyicil utangku pada Wak Lah. Untung masih tersisa orang-orang sebaik dia di dunia ini,” keluh Shakir perih. Pengko menatap Wak Lah.

“Kamu memang manusia yang baik, Lahmudin. Sangat baik!” ucap Pengko. Wak Lah tersenyum. “Kamu berutang berapa pada sahabatmu yang baik ini, Shakir?”

“200 ribu. Tadi pagi dia membangunkanku dan mengatakan ‘jangan risau, Shakir, pinjam saja uangku dulu’ begitu saja. Aku tidak akan bisa membalas jasanya.” Shakir terharu. Suaranya seperti tercekat di kerongkongan.

“Kalian juga ngutang sama Wak Lah?”

“Aku ambil dari tabungan,” ucap Anjali heran.

“Kami ambil dari uang  jual kacang!” ucap Maksum sama gelagatnya.

Pengko menatap tajam Wak Lah.

“Sekarang kita berfoto saja dulu, semanis-manisnya,” ucap Pengko sembari terus menatap Wak Lah.

Merasa tak enak hati dan salah tingkah, Wak Lah minta diri dengan alasan hendak mengambila air.

”Lah, kemana uang yang kuberikan padamu untuk membeli baju Apache’s? Berapa kusuruh bagi untuk masing-masing mereka?” seru Pengko membuat langkah Wak Lah tertahan.

“Aku pinjam sebentar, Tuan Haji. Untuk mereka masing-masing 500 ribu, kan? Aku masih ingat itu. Tenang, Tuan Haji, uang upah mencari kelompok tari, kan ada. Kasih ke mereka aja. Aku jangan kasih lagi,” ucap Wak Lah seenaknya.

“Kamu lihat sahabat baikmu, Shakir? Ada tanggapan dari yang lain?” tanya Pengko yang kesal pada sikap Wak Lah.

“Selain janggut putihmu yang rapi, rupanya tidak ada yang bisa dibanggakan darimu, Wak Lah,” ucap Anjali seperti ingin membalas dendam.”Sekarang masuk ke kamar mandi, ada kaca di sana. Coba lihat, apakah kamu layak berdiri dekat para haji? Semoga hajimu tidak mabrur.”

Wak Lah terdiam. Anjali tidak tahu bahwa sampai sekarang titel haji Wak Lah masih tertahan di Kementerian Agama.[]