Karya Nazar Shah Alam

Beberapa tahun kemudian para anggota Genk Apache dibawa Pengko berhaji. Hidup memang tak bisa dinyana. Siapa sangka Wak Lah yang pernah terlibat permainan nomor sekarang sudah berhaji, Shakir yang setia pada warna Jingga itu juga dapat gelar haji, Anjali yang jomblo sampai sekarang itu juga akan mendapat gelar haji, Maksum si tampan—yang pada akhirnya menikahi Ramlah—juga demikian, dan tentu saja Pengko sang rupawan kita (sekedar bocoran, ini haji ketiganya).

Mereka pulang pada kloter pertama. Pengko sudah kembali beraktivitas, mengunjungi beberapa panti asuhan. Dia pergi sendirian sebab Shakir dan Wak Lah sibuk menanti para tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Sedang Anjali—semasa di tanah suci dia sibuk belanja—datang ke tiap rumah di kampungnya untuk membagi-bagikan peci dan gelang Arab, lalu bercerita pada setiap orang yang ditemuinya bahwa dia sudah haji atau di Mekah ada unta, dia pernah dikejar sampai ke halaman Masjidil Haram. Apakah benar yang diceritakan Anjali? Lupakan saja, orang tak berpasangan sampai usia 27 memang kadang mencari-cari cara agar dia bisa melupakan kepiluan hidupnya.

Tidak seperti Anjali, Wak Lah malah hanya diam ketika ditanya perkara haji. Dia mengarahkan pertanyaan itu untuk Shakir. Ada sesuatu yang terjadi, hanya Pengko dan Menteri Agama saja yang tahu. Shakir dengan suara rendah di hadapan tamu akan berkisah perihal bagaimana melakukan rukun, panasnya kota Mekah, bagaimana ketika mereka di sana. Suara Shakir dilembut-lembutkan seolah tidak ingin dinilai sombong.

Maksum dan istrinya, Ramlah pagi tadi meminjam mobil Juke Pengko untuk bersilaturahmi ke kampung sang istri. Mereka memang pasangan serasi. Ramlah mengenakan kerudung warna hijau, khas dan sesuai keinginan suaminya. Sedang Maksum dengan sorban putih dan baju jubah terlihat sangat gagah. Mereka menikah tiga tahun lalu dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Maksum II. Ramlah menggendong anaknya penuh kasih sayang. Maksum menuntun istrinya yang sedang hamil anak kedua mereka, membawanya ke mobil. Dari pintu rumah, Wak Lah menatap pasangan itu dengan senyum dan berbisik dalam hati,”semoga anak kedua Maksum tidak diberi nama Maksum III. Amin!”

Di tempat lain, Pengko menuju panti asuhan di ujung Manda. Seperti biasa, dia akan bertemu pengurus dahulu. Ketika dia sedang berjalan, Bruuuuuukk!

Seseorang menubruk badannya. Memang salah Pengko, dia ladat menatap seorang anak yatim yang menangis di depan pintu kamarnya. Pengko memungut semua yang barang-barang yang tumpah di lantai dan berserak. Orang yang menubruknya juga demikian. Pengko mengambil kitab berkulit merah, tangan yang sama menyentuh barang itu juga. Pengko menatap ke wajah pemilik tangan putih lembut itu. Pandangan mereka bertemu.

“Haji Pengko?” gadis itu semacam terkejut, Pengko mengernyit.”Masih ingat ketika tas saya jatuh di Marwah ketika sa’i? Anda yang memberikan kembali tas kecil itu, bukan?”

“Oh, euum, Hajjah Bianglala. Assalamualaikum,” Pengko teringat juga.

“Waalaikumsalam.”

Mereka terlibat percakapan yang panjang. Hj. Bianglala mengantarkan Pengko dan menemani lelaki itu membagikan hadiah kepada para yatim piatu. Berkali-kali mata mereka bertemu. Hj. Bianglala nampak seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi malu. Pertemuan di Marwah cukup membekas di hatinya. Saat pulang, Pengko meninggalkan satu senyum yang bermakna. Bianglala terpana. Cinta di Marwah menjalar sampai ke Manda.

Di rumah Pengko, Shakir nampak sedang berbicara serius dengan seorang lelaki tua. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Wak Lah duduk di teras dengan jas hitam dan peci bulat khas haji. Pengko berhenti di teras memandang Wak Lah yang seperti seorang kehilangan semangat.

“Haji Lah, kenapa termenung?” tanya Pengko. Wak Lah terkejut dan tersenyum.

“Jangan panggil aku haji, Pengko,” ucapnya seolah mengiba.

Pengko tersenyum dan hampir saja meledak tawanya. Tahukah saudara sekalian bahwa ada hal-hal aneh selama mereka di sana?

Begitu turun dari pesawat di Bandara King Abdul Aziz, kelompok mereka terpecah. Pengko dan Maksum terus berada dalam rombongan, sedangkan Shakir yang sangat setia pada persahabatannya dengan Wak Lah malah mengikuti arah jalan sahabatnya itu. Wak Lah mengikuti langkah seorang perempuan di bandara, ia yakin bahwa perempuan itu seorang janda. Berhari-hari Wak Lah hilang, kawan-kawannya risau. Pada saat melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram, nampaklah Shakir. Dari lelaki tak tampan itu terungkap bahwa Wak Lah sekarang sudah menikah siri dengan perempuan yang diikutinya tempo waktu dan sekarang sibuk bekerja di sebuah kedai tepi jalan di Mina. Sempat-sempatnya dia memikirkan itu. Keterlaluan.

Lain Wak Lah, lain pula Anjali. Suatu hari dia berpamitan pada Pengko hendak mencari Wak Lah yang hilang. Sekian waktu tidak pulang, rupanya di sana dia sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu proyek bangunan toko. Dia bekerja sebagai kuli kasar. Begitu ditanya, dia bilang sekedar pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilan. Selain itu ia mengaku trauma sebab teringat kejadian saat melempar jumrah.

Di Mekah Anjali bertemu seorang perempuan yang lumayan cantik. Mereka saling menyukai sepertinya. Sebab pertemuan itu, Anjali jadi rajin melakukan rukun haji. Mereka selalu berjanji akan bertemu lagi pada tiap perpisahan. Sampailah pada saat melempar jumrah. Anjali dengan mata yang terus memandang ke arah perempuan itu melempar jumrah sekuat tenaga. Ketika perempuan itu tertawa, Anjali semakin kuat melemparnya, bahkan seperti orang kerasukan di sana. Dikiranya melempar jumrah itu adalah proses lempar asal-asalan. Semakin lama semakin menjadi. Tiba-tiba tangannya seperti tertahan, segerombolan orang menatapnya dengan wajah penuh amarah. Anjali ketakutan, kepala orang-orang di depannya semua berdarah. Rupanya Anjali baru sadar bahwa lemparan kuatnya itu dari tadi membentur kepala orang-orang di depannya.

Di antara yang hilang, Shakir mungkin termasuk yang lebih mulia. Semua rukun dikerjakannya, termasuk tahallul, yaitu mencukur rambutnya. Jelek sekali, kawan. Jelek sekali. Namun itu, sembari mengerjakan rukun dia berdagang telur. Konon terkuak rahasia bahwa telur-telur itu dipasok oleh Wak Lah secara diam-diam. Istri siri Wak Lah adalah pedagang telur musiman dari Iran dan Wak Lah sendiri sekarang selain bekerja di kedai istrinya juga disibukkan dengan pekerjaan mencuci unta pada salah seorang janda kaya.

Kesibukan Wak Lah akhirnya diketahui juga oleh banyak jamaah haji lainnya. Mereka iri dan mengadu pada Menteri Agama. Sang menteri yang kebetulan kenal dekat dengan Pengko menelpon si tampan. Keputusannya hanya satu, Wak Lah tidak boleh menggunakan gelar haji di awal namanya. Pengko mengatakan itu pada Wak Lah. Berderai tangis lelaki itu. Dia menyesal. Nasi sudah jadi bubur sebab mereka akan segera pulang. Meskipun Wak Lah sudah ditetapkan tidak bisa meraih gelar haji, namun baiknya, dia tidak pernah mengadu tentang Anjali dan Shakir.

“Biarlah mereka mendapat gelar haji, Pengko. Aku pasti akan mendapatkannya juga. Kamu pasti akan mengirimkan lagi aku ke Mekah al Mukarramah ini, kan? Aku yakin itu!” ucap Wak Lah dengan harap.

Pengko tersenyum. Wak Lah terlalu berharap. Di hati Pengko terbersit,”tidak akan lagi, Lah. Sampai di sana kamu akan sibuk lagi dengan janda nanti!”