Karya Nazar Shah Alam

Sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing sebab sudah dekat lebaran Adha, Genk Apache menyempatkan diri untuk duduk berkumpul di istana megah Muhammad Pengko Khan. Seperti biasa, kalau sudah duduk sepapan, mereka akan menghabiskan waktu untuk bercerita panjang lebar. Tentang apa saja. Pertemanan tawa. Mereka memang bukan sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka (sebab kalau sahabat diartikan seperti itu, maka sebenarnya pekerjaan seorang sahabat adalah menguntit kemana pun sahabatnya. Egois sekali), tapi mereka adalah teman. Teman senang yang adil, kawan susah yang adil pula.

Kisah dimulai ketka Pengko bertanya pada Shakir, apa yang akan lelaki tak tampan itu inginkan jika suatu ketika Shakir terdampar ke masa lalu, ke zaman kerajaan. Lelaki yang baru putus cinta itu tersenyum.

“Menjadi seorang pemanah!” jawabnya.

“Katakan tentang kalian semua,” pinta Pengko pada Apache’s.

“Aku ingin menjadi pendekar samurai,”ucap lelaki hitam bernama Anjali.

“Aku ingin menjadi kungfu master, tanpa senjata,” seru Maksum yang tampan juga.

“Wak Lah, bagaimana denganmu?” tanya Pengko.

“Kamu dululah. Aku terakhir saja.”

“Aku ingin menjadi pendekar pedang. Nah, sekarang kamu, Lah!”

“Alkhamdulillah. Artinya pilihan saya tidak ada yang ambil,” senyum Wak Lah.

“Apa?” tanya Apache’s serempak.

“Ksatria Bergitar. Wak Lah Irama.”

Setingkat Shakir yang resah saja sempat berpikir jadi pemanah, setingkat Anjali yang kurang informasi saja ingin menjadi samurai. Wak Lah, apakah tidak ada yang lebih garang daripada Ksatria Bergitar?

Baiklah, tersebutlah dalam kehidupan masa lalu, di Negeri Tjang hidup seorang putri cantik jelita. Ia menjadi rebutan banyak pendekar. Sesuai dengan matanya, putri tersebut diberi nama Putri Bermata Lautan. Rautnya yang cantik tersiar ke segala penjuru. Senyumnya yang menyerupai bulan sabit, tatapannya yang penuh arti, ditambah lagi ia memiliki satu ajian yang bisa membuat siapa pun yang mendapatkannya bisa menjadi penguasa ilmu silat sejagat.

Oleh sebab Raja Alma, ayahnya Putri Bermata Lautan sedang sekarat dan ia ketakutan akan keselamatan putrinya, sang raja akhirnya memutuskan untuk menikahi putri dengan seorang pendekar. Putri Bermata Lautan adalah putik mawar yang bila menguntum kelak akan melenakan siapa saja yang menghidunya. Raja Alma mulai mencari-cari cara agar mendapatkan seorang pengeran yang tepat untuk putri semata wayangnya. Satu-satunya cara terbaik agar tidak terjadi kecamuk perang di segala negeri adalah dengan mengadakan sayembara. Mulailah Raja berkacamata bulat tebal dengan kumis melintang besar dan buruk seburuk wajahnya yang tua itu (mungkin Putri Bermata Lautan mendapatkan gen dominan dari ibunya, sebab kalau melihat ayahnya, tentu ia akan menjadi putri paling buruk rupa) menyuruh awak istana menyebarkan kabar. Mulai dari daratan China, Eropa, bahkan di segala negara.

Pada purnama ke dua belas, berkumpullah segenap ahli silat dari semua ilmu. Laga dimulai setelah gong di gelanggang tarung ditabuh oleh lelaki berkulit hitam dan botak. Satu persatu pendekar berjatuhan. Mereka diadu sesuai bidangnya masing-masing. Paling banyak dari pendekar pedang yang berhambur darah. Maka gelanggang laga dibalut warna merah, warisan dari tubuh-tubuh yang kalah atau bahkan mati.

Turunlah gelanggang seorang pendekar panah. Dia tidak tampan. King Shakir Archery dari kerajaan Inggris. Rupanya orang Eropa kalau punya gigi yang tidak rapi jeleknya minta ampun. Tapi sudahlah, sekarang bukan masalah adu rupa, tapi masalah keahlian mengadu tenaga. King Shakir telah menundukkan puluhan pemanah. Di laga yang hanya tersisa lima petarung ini, ia akan berhadapan dengan Anjali Samuraki, seorang pendekar samurai dari Jepang. Jangan tanya apakah ada orang Jepang yang berkulit hitam dan berambut keriting parah. Anggap saja ada. Orang Jepang Kecuali. Anjali memaksa diri.

Musik perang ditabuh. Pertarungan mereka dimulai dengan sengit. Tiga bilah samurai patah, ratusan anak panah tidak menusuk lawan. King Shakir kewalahan. Anak panahnya habis sudah. Anjali Samuraki masih menyisakan satu samurai lagi. Anjali meloncat ingin menebas, King Shakir berkilah ke arah lain, tidak kena. Begitu serangan bertubi-tubi melayang ke arahnya, King Shakir mendapatkan cara.

Anjali meloncat lebih tinggi dengan samurai yang siap membelah kepala sampai paha King Shakir. Tidak ada pergerakan lagi lelaki tak tampan itu. Ia hanya mengarahkan busur ke arah Anjali yang masih di udara. Samurai dengan cepat membelah.

Tsiiiiiinggggg….!!! Aaaakkkkhhh…!

Anjali terpelanting ke belakang. Tujuh lubang menembus badannya. Anjali terkapar. King Shakir mencabut ketujuh senjata terakhirnya dari tubuh lawan. Tujuh lubang menganga. Siapa sangka ia memasang tujuh giginya di busur tadi. Anjali Samuraki mati. Begitu bahaya ajian gigi ini.

Seorang kungfu master yang tampan tiba-tiba meloncat cepat ke gelanggang. Dia menanti lawan. Tidak ada yang turun gelanggang. Beberapa kali ia membuka jurus, tidak ada yang maju. Begitu ia hendak menutup jurus pamungkasnya, suara musik dangdut menggema. Wak Lah Irama masuk ke gelanggang diikuti Monita Grup. Dengan pakaian jubah hijau kusam, peci di kepala, Ksatria Bergitar itu mulai mengeluarkan jurusnya. Perihnya lagu Menunggu versi Wak Lah Irama memekakkan telinga. Rupanya itu jurus awal sang Ksatria Bergitar. Kungfu master Maksum Ho Nian beberapa kali tersuruk-suruk ke belakang. Angin dari gitar Wak Lah dan suaranya yang sumbang datang seperti badai.

Maksum mengeluarkan ajian mawar. Wak Lah Irama melompat ke arah lawannya. Terjadilah pertarungan dahsyat. Maksum Ho Nian berkali-kali ditubruk gitar, Wak Lah Irama juga berkali-kali terhempas akibat gerakan cepat tangan Maksum Ho Nian. Perlawanan yang imbang.

Ksatria Bergitar memetik lagi senar gitarnya. Melenting. Dia mengarahkan ujung gitarnya ke arah lawan. Maksum Ho Nian berdiri tegak mempertahankan badai gitar. Sebuah gerakan cepat tangan Maksum Ho Nian menyusup di antara gelombang suara. Tangan yang berisi ajian bahaya itu menghantam dada Wak Lah Irama. Penyakit TBC Ksatria Bergitar kambuh. Ia mulai batuk. Batuk yang tak berhenti diiringi kentut besar bertubi-tubi. Kentut yang parah. Maksum Ho Nian terpelanting jauh sekali tatkala kentut Wak Lah Irama meledak dengan keras sekali. Ajian Angin Capek itu terus menggema, bertubi-tubi. Maksum kewalahan dan dilanda sesak nafas yang parah. Maksum tersungkur. Gugur.

Dua hari kemudian partai penentu digelar. Ksatria Bergitar sudah berada di gelanggang laga, King Shakir sang pemanah dengan wajah beringas juga sudah di sana. Mereka akan beradu tiga orang sekaligus. Siapa yang mereka tunggu? Pengko Shu, seorang pendekar tampan yang dari awal sudah membekap mulut para wanita yang menonton laga. Suasana tenang sekali. Genderang laga mulai ditabuh. Putri Bermata Lautan duduk tenang di bangku kuasanya. Nampak sekali ia berharap sang ksatria harapannya tiba.

Belum ada tanda-tanda Pengko Shu datang. Laga hanya menyisakan waktu sebentar untuk mulai. Ksatria Bergitar dengan peci hitam memandang pahlawan panah, King Shakir. Pandangan keyakinan akan menang. Ksatria Bergitar sudah punya cara menaklukkan lawannya kali ini. Pertama-tama dengan cara merontokkan gigi.

Tiba-tiba terdengar keletuk kuda. Semakin cepat, semakin dekat. Pengko Shu masuk gelanggang. Sorai membahana. Pengko Shu, pahlawan Negeri Tjang yang kesohor tampan. Rambut panjangnya yang lurus dikucir rapi. Pandangannya meyakinkan. Putri Bermata Lautan sumringah.

Pengko mencabut pedangnya. Dari kuda yang meringkik keras itu ia meloncat. Kedua lawannya yang sudah menanti bersiap menyambut Pengko Shu. Tebasan pertama lepas, gerakan selanjutnya diarahkan ke muka Wak Lah Irama. Sang Ksatria Bergitar yang sedang mencari nada gitar untuk lagu Begadang itu terkejut. Satu tebasan terkena di pecinya. Wak Lah Irama ternganga. Itu peci kesayangannya. Peci yang diberikan oleh almarhumah seorang janda yang disayanginya tempo waktu. Wak Lah menangis tersedu-sedu. Di medan laga, siapa yang peduli pada tangisan lawan mereka? Sebuah tebasan pedang tepat mengenai gitarnya yang sakti. Dibiarkan saja. Pengko merusak seluruh badan gitar sampai jadi debu. Wak Lah Irama terkapar, hilang kesadaran disebabkan peci yang rusak hingga hancur dan gitar yang musnah tak berkubur.

King Shakir bertubi-tubi melepaskan anak panahnya. Pengko Shu berhasil menampik. Seperti dulu, satu biji gigi beracun dilepaskan, sialnya gigi itu mengenai paha Pengko Shu. Dia jatuh. Putri Bermata Lautan bangun, penonton diam. King Shakir menarik tali busur panahnya untuk kali kedua, gigi kedua. Namun Pengko Shu berhasil berpindah. Shakir senang sekali.

Dia mencabut gigi ketiga. Tapi, ketika gigi yang licin itu belum selesai diletakkan di busur, sebuah tebasan mengenai mulutnya. Begitu kuat. King Shakir terlempar ke belakang. Mulutnya rusak. Pengko bergegas terbang ke arah Shakir yang sudah kehilangan daya. Ujung pedangnya mengarah ke mulut King Shakir yang menganga. Tak ada kuasa dari Pendekar Panah, dia hanya bisa memasrahkan seluruh isi mulutnya remuk. Pengko Shu kehilangan perasaan, dia mencincang semua gigi Shakir sampai lelaki itu ompong. Shakir menunduk. Habis sudah ajiannya. Dia menangis. Tebasan terakhir Pengko Shu belum jatuh, King Shakir sudah menghembuskan nafas terakhir. Pengko menuju Wak Lah Irama. Sama saja, lelaki itu kehilangan nyawanya sebab menderita.

Putri Bermata Lautan berlari ke gelanggang. Disaksikan oleh seluruh penonton, putri memeluk pahlawan kita, Pengko Shu yang tampan tiada alang kepalang.