Karya Nazar Shah Alam

Shakir duka lara. Lelaki tak tampan itu sedang redup hatinya. Seorang gadis yang selama ini dikagumi mendadak menyatakan agar Shakir tidak mengganggunya lagi. Shakir lara. Luka yang mendalam menceruk hatinya. Maka tidaklah heran manakala suatu malam kita akan mendapatkan pahlawan cinta kita ini sedang tersedu sedan di kamar sembari menatap sebuah gambar ukuran besar dalam bingkai yang tergantung di kamar, dekat pintu. Shakir duduk di lantai, dekat dengan ranjangnya, duduk meringkuk dengan wajahnya diletakkan di atas lutut, seperti mencium lutut itu. Hatinya benar-benar remuk. Berkecamuk.

Lagu Senandung Rembulan dari Imam S Arifin sayup-sayup muncul dari kamar penuh jingga. Sangat perih. Ini lagu dangdut yang benar-benar puitis dan sepadu dengan hati sang pecinta. Apalagi bila sampai pada lirik begini: aku bukanlah rembulan seindah yang kau bayangkan/ tetapi redup dan tiada bersinar. Oh, air mata Shakir menghambur tumpah. Basah segala yang ada.

Shakir luka, hampir seperti Maksum yang tampan juga. Maksum sedang dalam penantian akan kepastian kasih pada seorang gadis—agak ragu disebut gadis sebab perempuan itu sudah  menikah—siapa lagi kalau bukan Ramlah binti Pawang Lah. Dalam penantian itu Maksum mendadak puitis. Dia memang tidak sampai gila, tapi setidaknya cinta sudah membuatnya begitu cepat mengiba, begitu lantas turun air mata.

Apalagi kalau mengenang kejadian tempo waktu. Pawang Lah seperti tidak pernah merasa muda sama sekali. Lebaran ini Ramlah akan dijemputnya dan dibawa pulang bersama. Padahal Maksum sudah berencana jauh-jauh hari akan menikmati perjalanan panjang dengan Ramlah. Namun Pawang Lah punya andil besar atas anaknya. Maksum mengiba, menulis puisi persembahan, lalu menangis tanpa suara. Dia pemalu, memang. Tangisannya diluruhkan ke dalam hati.

Kontra dengan Shakir dan Maksum, Wak Lah malah sedang bergelora hatinya. Jiwanya seperti sedang dibalut birahi yang luar biasa kepada seorang janda di kampung tetangga. Manakala dapat kaca, ia akan terus sibuk membetulkan letak bajunya. Wak Lah sudah mandi tiga kali sehari. Tatkala melihat sebuah gambar, ia akan tersenyum-senyum sendiri. Menyanyi-nyanyi dan tertawa. Wak Lah sedang digilakan cinta. Maka bila ia mendengar lagu romantis, ia akan mengikuti kata-kata itu. Lagu Elvi Sukaesih di ipodnya, yang sedih dihapus semua, tinggallah yang senang-senang saja. Begitu juga lagu Rhoma Irama dan lagu-lagu lainnya.

Dalam Genk Apache, hanya Anjali si keriting parah itu yang mati rasa. Bukan tidak ada yang menyukainya, tapi sikapnya yang terlalu merasa seperti mantan kombatan itulah yang membuat para gadis ketakutan. Memang wajahnya agak manis, walaupun kemanisan itu diragukan juga, tapi badannya yang tegap dan gaya senyumnya itu lumayan bisa menjatuhkan hati perempuan. Namun, seperti yang sudah dikatakan, dia terlalu merasa diri sebagai alumni kombatan.

Tentang cinta Pengko usahlah dibicarakan. Perempuan berebutan mendekatinya, mencari cara agar pemuda tampan dan kaya itu jatuh hati pada mereka. Sedang pada Halimah, sang bermata lautan saja dia bersikap biasa saja, konon lagi pada lainnya. Pengko tidak ingin menambah dosa. Dia hanya ingin mencintai sekali sampai mati. Hanya sekali.

Cinta memang bisa mencuri banyak hal dari manusia. Shakir buktinya. Siapa yang melihat ia sekarang, maka nampaklah sebuah kekusutan yang sangat parah sedang melandanya. Dia kehilangan semuanya, bahkan kerapiannya. Sekarang Shakir termangu sendiri di kamar. Atau kadang berjalan sendiri ke entah tujuan. Pernah sekali, sebab kekusutan pikiran dan pakaiannya itu, ia berjalan di sepanjang jalan di Mandaceh. Tepat di Simpang Romantis, ia duduk sebentar di pinggir jalan. Matanya lena. Tiba-tiba seorang perempuan tua menghampirinya, tidak bertanya. Perempuan itu meletakkan beberapa recehan di tangannya. Dikira oleh perempuan itu Shakir seorang pengemis.

Shakir bisa begitu sebab Pengko sedang tidak ada di tempat. Pengko memang sedang sibuk sekali. Maklum saja, dia berkali-kali mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak atas jasa-jasa besarnya bagi anak-anak yatim dan fakir miskin. Seorang kaya teladan yang jarang. Kecuali Pengko, siapa lagi yang peduli sekali pada Shakir? Wak Lah memang tidak pernah peduli pada apa-apa. Dia merasa bahwa masing-masing punya nasibnya. Apalagi sekarang ia tengah dibalut asmara, kapan ia sempat peduli.

Kejadian paling celaka dalam pada hati Shakir dilanda nestapa adalah sikap Wak Lah sendiri. Di mana pun ia mendapatkan Shakir, ia akan berhenti, seperti orang lain, ia akan memberikan lelaki itu sumbangan. Ketika Shakir pulang, ia minta bagian sebab merasa berjasa telah mempengaruhi orang-orang memberi sedekah untuk Shakir. Pernah di warung kopi suatu pagi ia membawa kotak sumbangan. Dikatakan kepada orang-orang di sana bahwa Shakir adalah seorang fakir miskin yang sedang memerlukan uang untuk menyembuhkan penyakit livernya yang sudah parah. Wak Lah menunjuk ke arah Shakir agar orang iba. Tentu saja ia tidak mutlak salah, sebab penyakit liver yang dimaksudkannya adalah penyakit hati. Bukankah hati Shakir sedang dirusakkan oleh cinta?

Malam itu Shakir menuju ke sebuah cafe. Ia sudah mendapatkan cara menghilangkan laranya. Di film-film telah disaksikan bahwa seorang lelaki putus cinta akan menghabiskan waktu di cafe, menghabiskan bergelas-gelas bir, merokok sepuas-puasnya, mabuk. Shakir akan mabuk? Iya, dia akan mabuk untuk menghilangkan kegelisahannya.

Shakir memasuki cafe. Musik berdentum dipintanya agar diganti dengan yang sendu. Tak ada persediaan, dia memberikan kaset yang sengaja dibawanya. Lagu Aceh, Armawati AR, Seutot Alamat (mencari alamat.red). Asap dari mulutnya mulai berkabuk. Habis satu batang rokok disambung dengan yang lainnya. Dia ingin menumpahkan semuanya. Begitu puncak resah hendak muntah, ia memesan bir. Dia sudah memutuskan semuanya.

“Kami tidak menjual bir, Pak,” ucap pelayan perempuan dengan santunnya.

“Apa? Cafe sebesar ini tidak menyediakan bir? Yang benar saja?” paksa Shakir.

“Kami dilarang jual barang itu, Pak.”

“Baiklah, apa yang ada?”

“Es campur!”

“Baiklah, es campur saja. Warna kuning bening. Biar mirip bir.”

“Tapi yang ada cuma warna jingga, Pak.”

“Sekali lagi kau sebut warna itu, akan kubakar cafe ini. Paham!”

Pelayan itu dengan ketakutan berlalu. Sialan, di sana rupanya ada Wak Lah. Sikap usilnya kambuh. Dicarinya kardus, dibawa ke rata meja.

“Tahukah Tuan dan Puan, penyakit liver lelaki itu sudah sangat berbahaya. Dia akan mati kalau tidak segera dioperasi. Lihatlah, emosinya meledak tiba-tiba. Mohon kesediaan Tuan dan Puan untuk memberi sumbangan demi kesembuhan saudara kita yang fakir itu,” rayu Wak Lah dengan linang air mata palsu.