SMUSH 7 V
Karya Nazar Shah Alam

Ricca masuk dengan gaya yang biasa, beberapa buku pegangan didekap di dada dan rautnya lelah. Aku sedang duduk di bangku panjang Ruang Multitumpah sendiri, mencoret-coret kertas dengan kata bakal puisi. Ini Kamis, aku masih ingat bahwa ini hari Kamis. Ricca duduk di hadapanku. Tepat, di hadapanku.

“Bang, tadi anak-anak kelas tiga tanya sama Ricca, ibu pacaran sama pak Nazar ya? Terus mereka bilang, ciyee, ciyee,” ucapnya sembari menahan tawa.

“Hahaha, anak-anak itu ketular sikap Jakier, kali ya? Suka sama gosip,” jawabku.

“Hahhaha, iya, bang. Memangnya kita pernah nampak mesra ya, bang? Perasaan biasa-biasa aja, kan?”

“Tahulah, anak-anak kadang suka menebak. Ada juga yang tanya ke abang beberapa hari lalu tentang itu. Abang senyum aja. Biarlah mereka menduga.”

Kami saling senyum. Kemudian tidak terlalu banyak lagi saling tegur. Aku sibuk dalam puisiku sendiri sembari sesekali pikiranku digoda oleh pertanyaan anak-anak itu. Bukan hanya siswa kami, tempo waktu pacarku yang ke sepuluh—pacar saat itu—juga pernah menanyakan perihal hubunganku dengan Ricca. Aku berusaha meyakinkan pacarku yang over protektif itu bahwa sama sekali tidak ada yang khusus antara aku dan Ricca. Namun ia kurang percaya.

Kadang aku heran dengan apa yang dipikirkan orang untukku perihal hubungan dengan perempuan. Bukankah di luar juga banyak pemuda yang memiliki kedekatan yang baik dengan gadis di bawah baya mereka? Mereka yang memiliki kedekatan belum tentu punya hubungan yang spesial. Aku dan Ricca, contohnya. Dia adalah teman sekaligus kuanggap adik, sebab dia memang lebih muda. Tidak ada yang lebih. Tapi kemudian orang menafsirkan yang lain. Dan itu bukan terjadi dengan Ricca saja. Ketika aku dekat dengan gadis lain, banyak teman-temanku juga menebak-nebak tentang hubungan khusus.

Ricca. Cantik memang, setidaknya lebih cantik daripada Riza si gila tentara atau dari Jakier sang guru olahraga. Kedua lelaki itu kalah cantik dari Ricca. Kalah telak. Tapi benar, jujur saja, mesti kuakui memang dia cantik. Tapi apakah kecantikan itu membuatku jatuh cinta padanya dan kemudian memiliki hubungan spesial, berpacaran, atau membina satu hubungan yang serius? Aku tidak berpikir untuk itu. Ricca adalah teman yang asyik, aku tidak mau mengubah keasyikan itu sedikit pun.

“Riccha,” panggilku. Dia tersenyum. Sengaja kutambah huruf “H” agar lebih dapat kesan bariton dan menyerupai suara Rhoma Irama memanggil kekasihnya di film-film.

Aku terbiasa memanggilnya tiap jumpa pagi hari seperti itu, atau siang hari, atau kapan bertemu. Itu bagian dari keasyikan kami. Ricca selalu menjawab,”iya, Bang Rhoma!” dengan suara yang dibaritonkan juga. Kami tertawa bila sudah saling sapa itu. Sekali lagi, tawa sebagai teman dan tidak lebih.

Kabar tentang hubungan khusus kami makin menjalar. Hampir di semua kelas siswa-siswa kami menanyakan hal demikian. Aku dengan lagakku sendiri, sedikit dingin, menanggapi pernyataan mereka dengan hanya senyum saja dan kadang-kadang membantah dengan lembut pernyataan mereka. Siswa sebaya SMA memang sudah banyak berpikir, jadi mereka memaksa untuk kuakui saja hubungan kami. Mana bisa, toh kami tidak ada pacaran. Kami cuma berteman. Sia-sia, mereka tidak bisa percaya.

Di pintu Ruang Multitumpah, suatu pagi, aku dan Ricca bersitatap. Tidak ada yang istimewa. Kami hanya saling bersisenyum, bertegur biasa.

“Riccha..!” seperti suara Rhoma Irama memanggil kekasihnya di film-film.

“Iya, Bang Rhoma..!” jawabnya tak kalah bariton.

Sialan, ada seorang siswa kami yang melintas di sana. Dia menatapku dan tersenyum seperti seorang yang sudah berhasil mencuri tahu rahasia sakral. Seperti yang kurisaukan, di kelasnya, begitu aku berdiri di muka, ia memulai keusilannya.

“Ricchaa..!” ucapnya. Berkebuk tawa seluruh kawannya. “Panggilan sayangnya ni yee?”

“Eum, hari ini kita akan belajar..”

“Pak, sebelumnya kami mengucapkan selamat kepada bapak atas hubungannya dengan Buk Cerel, ya. Baru kali ini kami lihat ada pasangan yang serasi seperti kalian. Orang mirip biasanya jodoh, semoga langgeng,” ucap salah seorang siswa perempuan berbadan kurus di sudut kelas itu dan sekali lagi tawa mereka meledak. Cerel adalah panggilan untuk Ricca oleh siswa-siswanya.

Tentang kemiripan, aku sama sekali tidak tahu mereka melihat dari segi mana. Aku yang kusam disanding dengan seorang perempuan yang rapi dan cantik, yang benar saja mirip? Kukira mata mereka perlu diperiksa lagi ke dokter atau klinik-klinik terdekat, agar sembuh rabunnya.

“Iya, terimakasih. Sekarang kita belajar ya. Buka buku kalian tentang Surat Dinas. Sekarang kita akan belajar tentang itu,” jawabku dengan keteduhan terjaga.

“Kenapa gak surat cinta aja, pak?” tanya siswa berkulit hitam dan paling malas di belakang.

“Surat cinta akan kita pelajari di materi lain nanti. Di surat tidak resmi. Sekarang kita belajar yang resmi dulu. Buka buku kalian!”

Kali ini aku tidak fokus mengajar. Kami lebih banyak terpaku pada teori buku, membagi kelompok, meminta mereka mengerjakan tugas, dan kemudian mempresentasikannya. Sampai bel berbunyi, aku keluar dengan meninggalkan kata motivasi. Begitu keluar mereka pun menyempatkan diri menggodaku, “sampaikan salam pada ibu guru kami yang cantik itu, ya, Pak!”

Seperti biasa. Aku sibuk dengan tulisanku atau kalau tidak menulis aku akan tidur. Sampai jam pulang, aku terus berada di Ruang Multitumpah. Kutitip tanda tangan pada Nanas atau Evi yang selama ini hampir selalu menandatangani absen hadirku. Juan yang tegas dan sok sibuk telah pulang sebab ada tugas kampus, Riza apalagi, tak ada urusan apa-apa pun ia bakal cepat sekali pulangnya. Jakier juga cepat beranjak. Raisha pulang dengan seorang siswa yang dekat dengannya. Evi dan Nanas berlalu lebih cepat dari biasa.

Di sini, di Ruang Multitumpah ini tinggallah aku dan Ricca. Dia tak ada kawan pulang.

“Ricchaa..!” seperti suara Rhoma memanggil kekasihnya di film-film.

“Abang pulang ke Darussalam, kan? Cha numpang, ya,” pintanya. Aku dengan senang hati bersedia.

Kami berboncengan untuk pertama kali. Mata-mata liar siswa mengawasi kami. Aku haqqul yakin besok pagi dan seterusnya mereka akan terus berpikir ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Ricca. Seperti di film-film Rhoma.[]