Karya Nazar Shah Alam
Pada akhirnya Wak Lah benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak tergoda dengan pergaulan terbaru. Apalagi setelah mendapati Anjali datang ke rumah Pengko yang kaya dengan mengenakan kacamata besar dan bulat ala artis Korea (padahal benar-benar tidak cocok dengannya mengingat kulitnya hitam pekat dan rambutnya keriting jelek). Wak Lah semakin gatal dagingnya ketika melihat Maksum yang tampan juga berkacamata ala Korea, rambut diemo-emokan, celana hypster yang melorot, dan kaos hijau yang mencolok. Ditambah headset di telinga. Ampun, sungguh lucu gayanya.

 
Genk Apache sudah dihinggapi virus Alay. Shakir yang tidak seberapa tampan itu juga ikut-ikutan menjadi alayers. Mereka berkumpul di rumah Pengko, tepatnya di gudang tempat Pengko menyimpan barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi sebelum diberikan ke panti asuhan atau fakir miskin. Di sana mereka merumuskan semua tata bahasa Alay yang baik dan benar.

Wak Lah yang memang tidak pernah tenang melihat orang-orang bahagia tanpa ia di dalamnya, menggesek-gesekkan diri di dekat gudang itu. Dia benar-benar ingin menjadi seorang anak Alay yang baik. Shakir yang berulang kali sudah dibohongi Wak Lah menaruh ragu yang besar. Bagaimana mungkin Wak Lah bisa menjadi Alayers sedangkan dia sudah ketuaan. Shakir memang diangkat sebagai staf seleksi anggota baru Alayers cabang Manda, maka wajarlah kiranya dia menimbang-nimbang menerima permintaan Wak Lah si bujang lapuk kelewat gatal.


Dengan keputusan Maksum yang tampan (sekali lagi: ketampanannya di bawah Pengko) diterimalah Wak Lah. Si bujang lapuk harus menyediakan baju-baju cerah, celana hypsy (seperti celana Pasha Ungu), headset dan ipod, gelang-gelangan ragam warna, dan sendal melebar. Sebab diterima, senang tiada alang hati Wak Lah. Hujan turun, Wak Lah menari-nari di taman seperti lagak artis Hindustan.
Para Alayers Apache’s, begitu mereka menyebut dirinya, menunggu Wak Lah kembali dengan penampilan baru pada esoknya. Tak tanggung, Kawan, Wak Lah rupanya telah ke salon, mengedit gaya rambutnya sedemikian rupa sehingga nampak Alay. Dia juga sudah memiliki buku Ejaan Alay yang Baik dan Benar. Wak Lah datang ke tempat pertemuan di mana telah berkumpul para Alayers Apache’s.

“Hai, klen liat, ciyus ami an?” ucap Wak Lah dengan bahasa Alay-nya.
“Kammuh nteng li kek tu..” ucap Anjali.
“Cungguh? Miapah?”
“Cungguh. Mi Tuhan!”
“Kammuh yang cemungudh ea klo uda masok tim ami,” ucap Shakir seperti tersekat-sekat katanya.
“Okkeh, capa akut?” jawab Wak Lah.
“Ciyus?”
“Ciyus buaaangeet..!”
“Maaci ya, Lah.”
“Matama…!”
“Ingat, Lah. Ini lahacia. Jangan ampe Pengko taok appah yang kita bikin, eaaa.”
“Eaa, akkoh ciyus. Masya akkoh o-ong cih.”

Kesepakatan sudah bulat. Secara stylis dan bahasais Wak Lah sudah dinyatakan lolos menjadi anak Alay. Berminggu-minggu ia menikmati kehidupan seperti itu. Mereka saban hari berkumpul di ruang tamu Pengko yang luas, memutar acara musik dari televisi lebar di rumah kaya itu, mengikuti gerak anak-anak alay di televisi. Kalau lagunya gembira mereka melonjak-lonjak, kalau sedih bahkan sampai berderai tangisnya. Apalagi Wak Lah yang melankolis itu. kalau tiba lagu yang menyayat hati, dia sampai pingsan.

Suatu hari tibalah saatnya dimana ipod mereka dikumpulkan oleh Maksum sang raja Alayers Apache’s. Revisi isi ipod. Kebiasaan para alayers adalah mengisi ipod mereka dengan lagu-lagu terbaru dalam negeri, lagu-lagu grup band atau penyanyi solo, beraliran pop. Bersih, semua mengisi dengan lagu-lagu dimaksud. Satu persatu selesai diperiksa dan dikembalikan. Maksum tersenyum mendapati perkembangan anggota Apache yang patuh pada azas-azas kealayan.

Namun, siapa nyana Maksum terperanjat dengan apa yang didapat pada ipod merah saga milik Wak Lah. Dari dua ratus lagu yang ada di sana, semua berisi dangdut. Elvi Sukaesih, Rhoma Irama, mengisi sebagian isinya. Memangnya ada anak alay yang mendengar semua lagu dangdut lawas? Ah, Wak Lah.

“Kalian tidak bilang lagu apa. Kalau gara-gara masuk kelompok ini aku mesti melupakan lagu Elvi Sukaesih, maaf, aku keluar,” ucap Wak Lah manakala Maksum memprotes lagu-lagu di ipod-nya.
Belum sampai di pintu belakang, Wak Lah dikejutkan dengan adanya Pengko di sana. Bukankah Pengko baru akan pulang dari Seoul untuk pertemuan para kaya muda tiga hari lagi?

“Aliran apa ini? Saya tidak pernah melihatnya,” ujar sang rupawan itu dengan ketenangan terjaga. Jas hitamnya belum pun dibuka, masih rapi betul ia. Dipadu dengan celana kain tergosok rapi, sepatu mengkilat nan mewah, Pengko berdiri dengan gagah. Ah, apalagi Halimah, perempuan bersenyum bulan sabit itu berdiri di sampingnya dengan pakaian yang pantas. Serasi betul nampaknya.

Shakir yang rambutnya telah merah dan hijau di ujungnya segera mencari kain, dapat spanduk, dikenakannya segera. Maksum tersenyum-senyum salah tingkah. Anjali meloncati jendela gudang dengan cepat sebab terkejut. Sayang, ujung bajunya tersangkut di salah satu paku yang ada di jendela itu, jadinya tergantunglah badannya di sana, ke bumi tak sampai, ke langit apa lagi. Anjali yang hitam itu menangis sebab ketakutan akan dicukur rambutnya oleh Pengko yang sangat paham hukum agama.[]