Karya Nazar Shah Alam

Tentu Kawan tahu bagaimana perihnya jiwa bila rindu pada seseorang datang dengan cepat dan mengelana dengan lama. Aku sedang dalam keadaan itu. Rindu mencabik-cabik seluruh keadaan tanpa belas. Aku benar-benar merasakannya. Rinduku. Rindu yang hebat pada dua manusia. Sekali lagi, dua manusia. Sekaligus. Ini adalah rindu yang menyiksa. Rindu yang mengeruk segala ketenanganku sehabis-habisnya. Sesadis-sadisnya. Rindu yang benar-benar tak menyisakan satu kutikan pun.

Kawan. Sepasang manusia telah diciptakan Tuhan puluhan tahun silam untuk kemudian bersatu dan pada mereka berdua dititipkan benih aku dan kedua adikku. Hanya tiga benih. Tuhan maha tahu dalam pembagian. Tidak akan ada kemungkinan sesiung pun untuk bertambah anggota kami seayah-ibu. Sebab lelaki hebat itu telah pergi sangat jauh dan tak akan pulang. Pergi ke suatu padang. Padang kekal.

Tahukah Kawan tentang kedua manusia terbaik itu? Demi Allah tidak akan kulebih-lebihkan ceritaku. Akan kukabarkan kepada Kawan sekalian seperti yang ada. Seperti yang kurasa. Maka kelak, setelah cerita ini Kawan baca, tahulah Kawan betapa sangat wajar aku mengagungkan keduanya.

 

Dengan mengucapkan nama Allah Yang Maha Tahu.

Kuletakkan di atas nampan emas berlapis sutra ungu dua nama orang spesial bagiku. Ianya adalah ayah dan umiku. Pertama sekali akan kukabarkan perihal ayah. Ya, lelaki berjanggut tebal—antara kumis dan janggutnya itu membentuk lingkaran yang rapi dan bersambung.

Tahukah mengapa aku demikian suka pada cerita? Itu ayahku yang mewariskannya. Ayah sejuta tawa, ayah yang bahkan tidak pernah membentakku sampai nafasnya lepas dihidu padahal ia tahu bahwa aku salah. Ayah yang pernah menangkap lihat aku sedang mengisap asap paling celaka, tapi menegur dengan tanpa menyakiti perasaan hingga aku benar-benar menyesal dan benar-benar meninggalkan kebiasaan celaka itu. Ayah yang menegur dengan isyarat dan kelembutan. Ayah yang menularkan cara menghidupkan khayalan.

Ayahku, ayah yang sedikit sekali ada di dunia. Ayah yang jarang. Ayah yang selalu memberikan mimpi dan keyakinan peraihannya. Ayahku, ayah yang lucu. Yang bila sudah bersamanya, hilang segenap pilu. Ayah yang selalu memberikan janji dan bila ia lupa akan berkata,”manusia wajar khilafnya.” Ucapan yang ia selingi dengan tawa. Ayah yang bila kami bertengkar sesama akan mendamaikan kami dengan menyuruh saling minta maaf di depannya, berpelukan, dan berjanji tidak akan mengulangi sampai kami benar-benar malu dan antara aku dan adik-adikku sampai saat ini tidak pernah lagi berseteru.

Ayahku, ayah yang tiap Jumat sore menanti kami pulang dari lapangan bola dengan pakaian shalatnya, memaksa kami mandi, menjadi imam dengan bacaan Al-Fatihah dan ayat suci pengundang rindu, lalu mengajak kami berlomba-lomba menuntaskan bacaan surah Yasin. Ayahku yang bila mengaji bersama denganku, adikku, dan umi, selalu kalah irama, tapi dengan cepat berkilah,”ini irama ngaji pada zaman kami, irama ayah paling bagus.”

Beda dengan ayah, umi malah dengan merdu melantunkan bacaan kitab suci, sampai terharu kami. Umiku, seorang yang penuh motivasi. Yang kerap berkata,”selain kepada Allah, jangan pernah kamu menyembah!” Seorang yang memiliki semangat yang kuat dalam menggapai apa-apa yang diinginkan. Perempuan tanpa air mata. Umi yang tidak pernah meninggalkan kami meski sejengkal.

Umiku, umi yang punya kata-kata seperti sihir, mampu menundukkan kebengalan dengan petuah-petuah dan pepatah-pepatah yang kelak akan menjadi modal bagi kami menantang kehidupan. Umi yang membiarkan anaknya memilih jalan hidup—selama masih di arah yang benar. Yang selalu menyemangati dalam perang masing kami. Umi yang tidak pernah memaksa kami mengikuti kehendaknya. Umi sebaik-baiknya.

Maka, bila sudah mendapat orang tua semacam ini, masihkan terpikir di kepala suatu kali kelak akan menyakiti mereka? Celakalah kami bila durhaka. Dan manakala aku memang lebih memilih dia daripada yang lain, harap maklum saja. Sejuta kebahagiaan yang ditawarkan orang lain, sama sekali tak ada artinya dibanding tegur mereka.

Hendak sekali aku bertemu denganmu untuk sekedar kusampaikan bagaimana spesial menurutku. Ini masalah selera, kenyamanan, penerimaan, dan ketersambungan antara apa yang kupikirkan dengan mereka yang kuanggap spesial. Spesial tertinggi adalah untuk mereka berdua. Hanya mereka.