Karya Nazar Shah Alam

Semenjak salah satu surat kabar kota menghilangkan kata-kata khasnya, Wak Lah seperti kehilangan semangat membaca. Walau bagaimanapun, minat baca Wak Lah pertama kali muncul sebab adanya kabar-kabar genit di koran itu. Wak Lah tidak bisa pungkiri bahwa adanya koran tersebut telah membuat dia ketergantungan terhadap seduhan berita seperti itu. Agak panas dan merangsang, kata Wak Lah kepada Shakir yang baru sembuh malu sebab insiden angin capek tempo waktu.

Shakir hanya menganguk saja. Dia sama sekali tidak paham maksud Wak Lah tentang sedikit panas dan merangsang itu. Baginya panas itu seperti dibakar api, merangsang itu hanya ketika dielus oleh perempuan seperti dalam mimpi basah. Shakir yang polos. Wak Lah tidak pun menjelaskan lagi maksud kata-katanya itu. Dia sibuk membaca koran usang yang disimpannya dulu di bawah kasur. Sikap Wak Lah menyimpan koran itu sedemikian rupa memang patut dirasa kelewatan. Sebab itu hanya koran dan orang-orang jelas membacanya di mana-mana.

Ketika Shakir bertanya mengapa Wak Lah menyimpan koran itu di bawah kasur, cepat jari telunjuk bujang lapuk itu mengarah ke bibirnya.

“Stttt.. jangan ribut-ribut. Ini koran bahaya, Shakir. Kalau sempat Pengko yang rajin ibadah itu tahu, mampus kita. Ini koran bisa merusak pikiran dan memanjatkan nafsu,” ucap Wak Lah seperti berbisik sembari matanya terus awas ke pintu.

“Memanjatkan nafsu? Aku tidak paham. Dan apanya yang bahaya, Lah?” Shakir belum mengerti.

“Memanjatkan itu adalah kata ganti untuk menambah gelora, Kir. Lambat kamu!”

“Memanjatkan, itu sudah seperti doa, Lah!”

“Beda. Memanjatkan doa itu sambil duduk, memanjatkan nafsu itu sambil….”

Pintu tersingkap. Si rupawan masuk.

“Ada apa, Lah?”

“Kami sedang berbicara tentang memanjat, Pengko,” kilah Wak Lah dengan senyum serba salah. Pengko tahu kawannya itu berbohong. Bukankah Pengko juga menguasai ilmu jiwa? Ilmu itu diajarkan oleh Halimah, perempuan bermata lautan yang sangat mengagumi Pengko dari dulu sampai masa entah. Pengko keluar kamar setelah mengambil topi. Sebuah topi  cap merk Rusty yang sempat dibelinya di Amerika waktu kunjungan dulu, dan dipinjam Wak Lah setahun lalu. Inilah Wak Lah. Entah lupa atau memang sengaja, sudah hampir sepuluh topi Pengko yang dipinjam sama sekali tidak dikembalikan. Janjinya dua hari, tapi sampai topi itu sudah tidak diketahui lagi keberadaannya, ianya tak kunjung kembali.

“Kenapa kamu membaca lagi koran-koran lama itu, Lah?” tanya Shakir ketika Pengko sudah keluar.

“Aku rindu pada kata ‘eh-‘oh, Kir. Rindu yang hebat. Semoga koran ini berbaik hati menyuguhkan kabar ‘eh-‘oh lagi agar pulih rinduku.

“Kamu aneh, Lah!”

“Aneh apanya? Orang rindu kau bilang aneh? Kamu yang aneh. Selain itu, aku juga rindu pada kata yang lugas dalam kabar-kabar, lihat ini,” tunjuk Wak Lah pada salah satu judul.

“Apanya yang lugas? Itu tidak berperikemanusiaan. Orang musibah diberitakan seperti itu,” bantah Shakir.

“Itu artinya mereka tidak mengerti mana lelucon dan mana yang serius, Kir,” jawab Pengko tiba-tiba. Rupanya sang kaya belum pergi jauh. “Mereka tidak belajar tentang eufimisme berbahasa, bagaimana menggunakan bahasa yang lebih halus dalam mengabarkan. Nasir Jitak Le Geulanteu, Aminah Jihambo L-300, apakah pantas kebar seperti itu disuguhkan dengan nada lelucon? Maka kadang aku berpikir bagaimana caranya agar koran itu tidak lagi ada di tanah ini.”

Pengko nampak serius dengan ucapannya. Benar, memang, tidak layak rasanya kabar duka dikabarkan seperti itu. Kasar sekali. Shakir mengangguk. Wak Lah menganga.

“Tapi tentang ‘eh-‘oh kamu tidak keberatan, kan, Pengko?” pelas Wak Lah dengan harapa akan dianggukkan.

“Itu lebih baik daripada kamu mesti keluar malam-malam hanya demi mencari majalah dan buku porno,” labrak Pengko.

Wak Lah tersenyum, Shakir meledak tawa. Dengan nada malu Wak Lah berkata,”hanya untuk memanjatkan nafsu, Pengko. Sedikit saja.”