SMUSH 7 IV

Karya Nazar Shah Alam

Suatu kali dengan sangat celaka aku sempat terkena teguran dari guru lain sebab menyuruh siswa membeli rokok. Kesialan yang muncul sebab aku sedang dilanda kantuk yang hebat—paginya aku terlambat bangun dan tidak sempat mandi—maka kurang bergairah keluar ruang multitumpah. Teguran itu benar-benar membuatku tak tenang. Apalagi guru itu memintaku agar tidak lagi merokok di sekolah. Apa aku peduli? Nyatanya tidak. Aku benar-benar guru yang tidak baik untuk hal itu. Rokok adalah gairah yang tak bisa kutahan bahkan sebentar pun.

Setelah ditegur, tiap keluar pagar sekolah kami ditanyai ini-itu. Tentu saja kami mesti berpandai-pandai mengibuli sang penanya. Aku tidak mau mereka tahu bahwa kami keluar untuk membeli rokok dan kemudian ditegur lagi, digunjing lagi, dimarahi lagi. Sekali kesalahan diketahui adalah kekhilafan, tapi selanjutnya juga diketahui itu bukti kebodohan. Dalam pada itu kusimpulkan, seorang penjahat yang keluar masuk penjara adalah seorang yang bodoh tiada alang.

Aku dan Riza akhirnya mendapatkan kata ganti yang tepat untuk rokok. Dengan sangat santun kami keluar, masuk dengan tenang dan aman. Berulang kali seperti itu. Pada akhirnya kami tidak ditanyai apa-apa lagi. Mungkin mereka sudah paham atau malah sudah enggan melarang. Aku dan Riza tidak pernah peduli pada apa yang mereka pikirkan. Guru-guru tua tidak pernah tahu apa yang para muda kehendaki, memang.

Suatu kali setelah keluar dari ruang mengajar, aku dilanda kemalasan. Malas berlaku apa-apa sebab tadinya aku bermasalah lagi dengan orang yang sama. Bukan salah orang tua itu, tapi murni salahku. Telat datang, telat masuk kelas, tidak menguasai pelajaran, cukup sudah. Begitu mulutku seperti diisi asam, aku kelimpungan. Tak ada Riza hari ini. Satu-satunya yang ada di kelas hanyalah Evi. Sebentarnya masuk Raisha.

Evi, perempuan anti asap, pengicau paling teratur, tukang tawa meletus. Apakah dia bisa dijadikan harapan untuk mendatangkan rokok untukku? Perlu jurus merayu dan memelas untuk mendapatkan kesediaan dia. Ah, Nazar Shah Alam tak pandai meluluhkan hati seorang teman? Kecuali memang yang sudah tak diharapkan.

Evi bangun dari bangkunya mengajak Raisha beli batagor. Pastinya akan keluar pagar sekolah. Aku duduk rapi lagi, menatapnya sampai di pintu. Raisha mengikutinya dari belakang.

“Evi, bisa minta tolong?” pintaku dengan sedikit lantang.

“Kenapa, bang?” dia berbalik ke arahku.

“Tolong belikan pulpen buat abang,”kataku sembari menyodorkan uang enam ribuan.

“Pulpen apa ni, bang? Uangnya sebanyak ini?”

“Seperti biasa, pulpen berasap!” jawabku dengan senyum menggoda.

“Alahai, abang ni. Bilang saja rokok, apa susahnya,” Evi keluar sambil tertawa bersama Raisha. “Berapa pulpen ini?”

“Setengah saja. Jangan lupa, pulpen biasa. Hehehe.”

Sudah kukata, hanya perlu mata yang meyakinkan dan raut yang tak berlebihan ketika meminta bantuan perempuan. Evi berlalu dengan uang membeli pulpen untukku di tangan. Sebentar lagi pulpen berasap itu akan tiba menghilangkan asam mulutku.

Evi datang dengan tawa meletusnya. Diberikannya rokokku sambil masih tertawa. Nanti berulang kali ia akan membantuku membeli rokok, sekalipun ia seorang yang anti dengan barang itu. Kukira dia suka dengan nama pulpen itu. Acap mau keluar dia pasti bertanya,”tidak titip pulpen, bang?”

Olala