(SMUSH 7 III)

Oleh Nazar Shah Alam

Tentu saja aku masih terkenang tawa meletusnya si Evi. Kalau sudah di ruang multitumpah, suaranya tidak pernah tertahan. Evi memang tukang kicau yang asyik. Jarang sekali melihat dia merengut kecuali sekali dua. Nanti akan kuceritakan pada saudara sekalian sebabnya. Di ruang multitumpah, aku kerap mendapatkan muka sebenarnya kawan-kawanku. Kukira mereka juga begitu mendapatiku. Mereka hafal betul sudah bagaimana wajahku kalau tidur siang hari. Tidur? Rasanya aku hanya melewatkan beberapa hari saja selama tiga bulan lebih di sekolah tugas dengan tidak tidur. Tidur adalah rutinitas menyenangkan selain dari merokok dan ngopi dengan kawan-kawan di ruang yang sama.

Sesederhana usulan Riza si gila tentara, sesederhana itu pula aku menjalani hari-hari di sekolah tugas. Aku tidak lagi memperkarakan bagaimana cara terbaik dalam mengajar. Kecuali itu, aku mulai sering terlambat datang ke sekolah dan sama sekali tidak disiplin. Sebab seperti biasa, begadang. Bukan hanya itu, sesekali pada malam hari bila suntukku menguap, aku mencuri-curi kesempatan agar bisa mengisap beberapa balutan tembakau celaka, sesekali bersama seorang teman yang baik aku juga menenggak Baileys. Hidupku sedang marut betul saat itu. Ada banyak persoalan yang menumpuk di kepala. Sudahlah, celakaku saat itu tidak perlu diuap, aku sedang berkisah tentang Smush 7, delapan mahasiswa tugas mengajar di SMA 7, delapan anak manusia dengan laku mengesankan bagiku.

Ditegur berkali-kali, aku tidak ambil peduli. Di hadapan guru pamong aku menundukkan kepala seolah patuh. Di belakangnya, aku akan memperlakukan kelas seperti yang kukehendaki. Mereka senang, siswa-siswaku kelihatan bahagia. Kupastikan, kelas tidak lagi menjadi keresahan dan ketakutan, kejemuan dan tekanan, mereka lepas, selepas-lepasnya, semau-maunya.

Sekali waktu aku ditangkap lihat guru pamongku sedang memberikan contoh puisi kontemporer: puisi yang sudah tidak terikat aturan-aturan tertentu. Kukira aku tidak salah dalam pada ini. Tahukah saudara bahwa bila kutanya ciri-ciri puisi pada siswaku yang sudah kelas tiga SMA itu rata-rata menjawab: terdiri dari empat baris, bersajak ab-ab, berima, dan zigzag? Kutekankan lagi pertanyaan itu, jawabannya sama saja.

“Apakah puisi Chairil dan Rendra terdiri dari empat baris perbait?” tanyaku. Mereka diam tak menjawab. “Silakan lihat di buku paket kalian!” Mereka serta merta membukanya. Setelah mendapatkan itu, mereka menggeleng. Guru pamongku menatap dari pintu dengan pandangan tak sedap. Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, sedang yang kanan tak henti-henti menggerakkan kretek.

“Tidak ada, Pak. Apakah ini termasuk puisi kontemporer?” tanya seorang siswa yang pada banyak hari sebelumnya lebih banyak diam di bangku belakang.

“Salah satu. Puisi kontemporer tidak terikat aturan-aturan serupa bait, rima, atau persajakan ab-ab. Bahkan ada yang satu kata saja sudah jadi puisi, dua baris sudah jadi puisi,” jawabku dengan pasti.

Mendengar itu serta merta guru pamongku menyahut,”apakah salah kalau berima, berbait, dan bersajak ab-ab?”

“Tentu saja tidak, Pak, anak-anak. Karena teori itu juga termasuk ke dalam teori puisi. Tapi puisi lama yang di di antaranya terdapat pantun, syair, dan sebagainya.”

“Ya, lama dan masih bisa dipakai sampai kapan pun!”

“Benar sekali. Pantun juga puisi, syair juga puisi. Itu perlu kalian ketahui. Sedang puisi yang kita temukan sekarang (dan seolah-olah menyatakan bahwa pantun adalah pantun, syair adalah syair, puisi adalah puisi) adalah puisi yang tidak terikat lagi dengan aturan-aturan itu lagi. Tapi sekali lagi, pantun adalah puisi juga. Dan aturan-aturan itu boleh digunakan sampai kapan pun.”

Entah sebab merasa dibenar-benarkan, guru pamongku itu seperti kesal. Aku memberikan beberapa contoh puisi yang dimuat di koran lokal. Seperti dulu, dia menyergah.

“Berikan contoh yang ditanya di ujian akhir,” kata lelaki itu.

“Oh, maaf, Pak!” gegas kuhapus puisi yang terlanjur kutulis di papan putih dan kuganti dengan puisi Aku, Chairil Anwar.

Lelaki berpakaian rapi itu keluar juga sebelum selesai jam pelajaran. Aku menguntitnya sampai di pintu seperti sedang menggiring kepergiannya.

Dan di sebalik badannya…

”Chairil bukan satu-satunya penyair di Indonesia. Ada banyak lagi setelah dan sebelum dia. Kalian perlu mengupdate pemikiran kalian. Ikuti perkembangan dunia, perkembangan pengetahuan, perkembangan sastra dari bacaan-bacaan terbaru. Jangan hanya terpaku di buku-buku usang peninggalan zaman ke zaman. Ada banyak yang perlu kalian tahu tentang hal-hal baru. Pengetahuan tidak pernah berhenti di tempat. Dan kalian, para cerdas, gali semua yang baru itu. Bila Fira Al Haura yang masih SMP saja sudah bisa menulis di koran, konon lagi kalian yang tiga tahun di atasnya? Taklukkan dunia dengan tulisan kalian.”

Bahana tepuk tangan di kelas kami. Binar mata mereka seperti hendak mengatakan padaku bahwa mereka pun mampu. Kelak beberapa dari mereka menunjukkan dirinya, bersanding dengan beberapa penulis yang kerap memasang nama di media pada sebuah buku kumpulan cerita.

Aku dipanggil ke kantor guru lagi, seperti biasa, menerima pencerahan (agar lebih lembut daripada kukata teguran) dari lelaki yang kupanggil guru pamong itu. Berkali-kali aku mengangguk dan mengalah. Sampai setelah semua selesai, aku keluar demi menuju ruang pelepasan: Ruang Multitumpah.

“Aku telat sedikit keluar, ibu itu sudah marah-marah. Aneh!” kudengar Evi mengeluh.

Nanas si pendengar setia malah bertanya,”terus, kamu gimana tanggapinnya? Aneh ya?”

“Kesal aku, langsung aku keluar kelas.”

“Kenapa, dek?” sejatinya hendak kukabarkan pada mereka tentang teguran untukku, tapi kuurung saja sebab Evi juga sepertinya mendapatkan celaka yang hampir sama.

“Gini, bang. Evi kan belum habis menjelaskan pelajaran. Gak sampai sepuluh menit lagi pun. Biasanya ibu itu telat, hari ini datangnya tepat waktu. Eh, pas datang udah marah-marah. Kesal kali Evi,” adunya. Nampak rautnya diselimuti amarah.

Kawan, itu pertama sekali kulihat dia kesal. Selama ini Evi lebih banyak terlihat mengumbar tawanya. Tawa berpagar, kata Jakier. Nah, pagar gigi adalah karakter Evi yang diberi Jakier.

Evi tertawa juga pada akhirnya, ketika Riza gila tentara menyahut seadanya, “itu aja jadi masalah. Aku lebih capek lagi. Guru pamongku kalau ketawa, mulutnya menganga besar, tapi gak ada suara. Ada yang bersedia mencari suara untuknya?”

Meledak tawa kami. Ya, seperti inilah, kami memang lebih memilih tertawa bersama daripada duduk di piket. Sejatinya sudah ada jadwal yang jelas tentang piket. Tapi, siapa yang paling rajin ke sana? Tidak ada yang benar-benar betah duduk di piket. Kami lebih betah di ruang multitumpah. Namun, di antara semuanya, yang memang paling banyak menghabiskan waktu di ruang itu adalah aku dan Riza. Kami menghabiskan berbungkus-bungkus rokok di sana. Ada yang bisa merokok ketika PPL? Kalau ada, selamat, berarti kalian orang-orang beruntung. Aku berjanji akan mengisahkan tentang rokok dan kaitannya dengan pulpen pada edisi selanjutnya. Keseruan sebuah imajinasi. Kami sangat menikmati ini.

Ruang Multitumpah. Setelah Evi mengadu, aku tidak jadi lagi bercerita tentangku. Beberapa hari kemudian Ricca yang terkena kabar tak sedap dari seorang guru. Raisha, Juan, dan Jakier terus berada dalam posisi aman. Nanas tidak pernah punya beban yang terlalu berat dan terus mengantuk. Ricca masih rajin dan tepat waktu sambil sesekali meledak tawanya. Riza adalah pembohong paling tega, Evi tetap jadi perhatian sebab penampilannya yang selalu mencoba menarik, sedang aku, tak ada yang bisa kukatakan selain dari kekusutan pakaian dan kemeriahan di kelas ketika mengajar. Seperti itu, dan akan selalu seperti itu.