Oleh Nazar Shah Alam

Setelah sempat panas dan dibicarakan hingga di media lokal dan nasional, pada akhirnya hubungan Wak Lah dan Shakir sudah seperti sediakala. Shakir memang pemaaf dan baik hati. Dia tidak mendendam, apalagi menuntut balas atas luka yang telah ditimpakan orang padanya. Semoga ia masuk surga. Amin.

Wak Lah sudah bertobat dan berjanji di hadapan Pengko yang bijak bestari tidak akan mengulang lagi sikap yang sama, mempermalukan temannya (lih: Shakir in Love). Perjanjian itu dicatat di atas materai enam ribu. Sebab Pengko yang cerdas itu sangat tahu bahwa Wak Lah adalah salah seorang teman yang tidak pernah bisa dipegang janjinya. Bujang lapuk itu juga seorang pelupa. Tak tanggung, Teman, akibat penyakit ingkar janji dan lupa itu, ia seringkali ditagih di kawanan, bahkan di dunia maya pun pernah ia ditagih utangnya. Sebagai manusia yang baik, marilah kita mengheningkan cipta sembari berdoa agar Wak Lah bisa berubah. Amin.

Sejak ditandatanganinya nota perjanjian damai antara Shakir dan Wak Lah, nampaklah terlihat mereka saling bergandengan tangan ke mana-mana. Kompak bukan main. Mereka lebih akrab daripada sebelum berkonflik silam. Sekarang, manakala Shakir dibantah dalam debatnya di warung-warung kopi, Wak Lah segera mencabut rencongnya, memaksa orang-orang menyetujui apa yang diucapkan Shakir. Senang tak kepalang hati Shakir mengetahui telah ada yang membelanya. Bertambah sombong dia. Shakir memang begitu, kalau sudah ada yang membela, lagaknya sombong minta ampun.

Sekali waktu mereka diundang ke acara pemberian penghargaan mahasiswa terhebat di Universitas Shah Alam. Siapa lagi kalau bukan Pengko yang bakal mendapatkannya. Memang anak muda berkulit putih berseri dan taat beribadah itu dikenal di seantero kampus dengan kecerdasan dan berprestasi. Siapa yang tidak mengenal Pengko akan dicap sebagai mahasiswa bodoh. Mereka akan dikucilkan sebab sangat ketinggalan informasi. Namun Kawan perlu tahu, sampai sudah dihargai seperti itu, Pengko tetap rendah hati, tidak sombong sama sekali.

Baiklah, ketika sudah di sana, seperti biasa, Wak Lah tidak mau jauh-jauh duduknya dari Shakir. Mereka duduk di meja 67, dekat pintu masuk. Acara berjalan dengan baik sekali. Pengko yang akan diberikan penghargaan sudah duduk di bangku VVIP. Pakaiannya rapi dan begitu padan.

Rektor Universitas Shah Alam naik ke mimbar. Pidato kehormatan dimulai. Tatkala segenap undangan tiada basa, pidato pun terlaksana. Pujian demi pujian diberikan kepada Pengko yang budiman. Dia dinobatkan menjadi mahasiswa percontohan bukan sebab kaya rayanya, melainkan sebab budi dan prestasinya. Ruang bahana tepuk tangan.

Seketika ruangan senyap seperti sediakala. Rektor mengucap kata-kata penutup. Diam dan tenang sekali ruangan.

Namun, Thuuum…!!!

Sebuah ledakan terdengar dari pintu. Orang-orang terkejut. Rektor terperanjat dari tempat berdiri dan terjatuh. Semua mata menatap ke belakang. Wak Lah menatap Shakir dengan pandangan kesal. Semua mata menatap Shakir. Marah, kesal, tak senang, berbaur menjadi satu di mata para tamu.

“Siapa yang kentut?” tanya Rektor setelah bangun dari jatuhnya.

“Kenapa kamu kentut?” tanya Wak Lah kepada Shakir yang terganga. Orang-orang menuju tempat duduk Shakir, menyiapkan tinju. Shakir kelu.

“Sumpah bukan aku,” ucap Shakir dengan enyuh.

“Siapa yang kentut?” tanya rektor lagi di microphone.

“Bukan aku, Pak!” jawab Shakir dengan suara gemetar. Teman, bayangkan seorang yang takut semakin dikerumuni orang-orang. Mukanya pias, rautnya kehilangan darah. “Aku berani bersumpah demi Allah. Kalau kalian tidak percaya, silakan ambil Al Quran, mari kita sumpahi semua orang yang ada di sini, kalau dia kentut pantatnya akan rusak.”

Semua mata mengarah ke Wak Lah.

“Jangan bercanda bagitu, Kawanku. Entah apa, dikit-dikit pakek kitab suci. Jangan bercanda pakek kitab suci,” sahut Wak Lah serta merta. Pengko yang juga di sana menatap kawannya itu. “Aku tidak kentut, Pengko. Hanya angin capek, kok. Keluar pun sedikit. Yok, lanjutkan acaranya,” sambung Wak Lah berharap tidak diperkara.

Seorang lelaki memeriksa tempat duduk Wak Lah. Opotallah, apakah gabus tempat duduk ini memang rusak dari awal atau dirusakkan angin capek yang liar? Untung ada Pengko di sana, kalau sempat sang bijak tak ada, belur muka Wak Lah terkena tangan mereka. Pengko masih menatap Wak Lah dengan tatapan teduhnya. Dasar, pemilik angin capek itu masih saja tersenyum-senyum, bahkan dengan berani meminta bangku yang lain. Di bangkunya, Shakir tersedu sebab ketakutan yang terlanjur datang. Pengko masih menatap, Wak Lah mati tingkah.

“Hanya angin capek, Pengko. Itu pun sedikit!” yakin Wak Lah.

Sedikit? Semua orang di ruangan ini terkejut, rektor sampai jatuh, ruangan bergetar, bangku rusak, itu sedikit? Kalau saja Pengko bukan seorang yang sabar, sudah disumpalnya pantat kawannya itu. Sungguh besar efek angin capek pada Wak Lah. Sampai-sampai di akhir pidato, rektor menutup dengan ucapan, mari kita mengheningkan cipta agar lelaki tadi sembuh dari gejala angin capeknya. Hening cipta mulai!

Pagi-pagi koran kota memuat berita: Insiden Angin Capek Resahkan Warga Kota!

 

Rawasakti, 4 Oktober 2012