Oleh Nazar Shah Alam

 

Kuberikan satu hidangan penutup untuk cinta yang sudah tutup

Pada satu perhelatan perpisahan yang bodoh

 

Tahukah bahwa kesendirian adalah suatu gejala yang baik

Kadang-kadang dan pada banyak kali?

Kesendirian adalah perenungan yang asik

Bukan kerisauan yang perlu dirisaukan

Kesendirian adalah kesyahduan yang membawa kita ke peraduan dan

Bermimpi indah di sana

 

Tahukah bahwa aku menyelesaikannya setelah menyelesaikan harapan

Beberapa silam waktu dan pada banyak hitungan ketika

Aku sudah tidak lagi merasakan sesuatu yang sama

Seperti di ketika silam tatkala cinta merasuk dengan celaka

Menyesatkanku dan membunuh dengan kejam

Ketika aku lupa pada luka sebab cinta menyusup ke nadi serupa pentil dingin

 

Tahukah aku terlalu banyak mengharap sehingga aku tidak lagi ingat

Harapanku sudah berapa dan apa-apa saja?

Terlalu tumpang di kepala, aku lena

Entah seberapa banyak yang selesai atau tertunda

Namun begitu semua tamat aku baru sadar ada banyak sekali yang tidak selesai

 

Tahukah bahwa aku sudah melupakan diriku dan cinta menyesatkan

Aku lupa kapan mulai melupakannya tapi aku memang sudah melupakannya

Untuk apa mengingat segala yang tidak perlu diingat

Tapi melupakan terlalu cepat adalah tidak mungkin

Aku tidak terlalu cepat melupakan, bahkan sangat lama

Aku sudah melupakan kesesatan itu sejak masa yang—seperti kukata—telah lupa

 

Hari ini aku menikmati sekali kesendirianku serupa sufi

Cinta tidak pernah dibawa mati

(Yang mati sebab cinta adalah pecinta yang bodoh)

Maka cinta dan kesendirian manakala duduk di sisi berbeda adalah kelumrahan

Yang tidak perlu disesali

Dan perpisahan adalah luka sementara: tidak membuat mati

Sebab cinta akan usai dan datang ganti berganti

 

Rawasakti, 3 Oktober 2012