(Kepada Ena)

Nazar Shah Alam

Ketahuilah bahwa semalam ketika kau lelap dan badai sedang lumayan hebat, aku menyempatkan diri merampok bibirmu. Dari bibir itu aku mendapatkan semacam keganjilan; tiap ia tersungging, badanku menggelinjang, kepalaku berkunang-kunang, aku seperti terkena mabuk gelombang sembilan. Gelombang sembilan? Aduhai, sadarkah sudah sembilan gelombang tertaklukkan?

Sekoci kita lepas papannya satu dan satu dan kita hampir kehabisan papan untuk mengganti yang rusak itu. Genang air yang menusuk lubang kecil dan menyembur serupa pancuran sesekali membuat kita tak tenang. Menyumpah air, menyumpah papan, menyumpah diri kita sendiri yang lalai. Tapi, hei, tahukah bahwa ketika kau tersenyum sejenak aku malah berhenti menyumpah apa-apa? Aku ladat dalam senyummu. Maka semalam ketika kau lelap dalam hatiku, aku merampok bibirmu. Aku berjanji akan mengembalikan bibir cantikmu di tempat semula bila sudah puas kutatap senyum darinya. Bukankah merampok bibirmu itu lebih baik daripada aku mesti membangunkanmu pada malam dingin dan kelam sebegini?

Oh, maafkan aku sebab kelewat ladat menatap bibirmu yang kurampok semalam jadinya aku ketiduran lalu bangun kesiangan. Aku telah membuatmu mencari-cari bibirmu sendiri. Mengapa tak bangunkan aku? Matamu memandangku dengan rayu, aku mengembalikannya. Izinkan aku yang memasangnya lagi di tempat semula.

Sayangku, masuklah lagi ke hati. Aku tidak mau kau kedinginan oleh hujan yang tiba-tiba datang ini. Angin menerbangkan garam dari laut ke seluruh badan, aku tidak akan pernah mau kau merasakan demikian. Masuk lagi ke hatiku. Berselimutlah dengan kain satu-satunya di sana. Biar hari ini aku saja yang mendayung sekoci kita.

Sebentar lagi kita akan mendapatkan pulau. Sekala saja kita singgah. Sebelum lelap, cobalah ingat. Di mana kunci bibir itu lebih baik kau letakkan. Sebaiknya kau sembunyikan di tempat terjauh, agar aku tidak lagi tergoda senyummu lalu merampok kedua belahan bibirmu yang menyala ke mataku.

Nanti malam, ketika aku sendiri, ketika malam datang dengan kelam yang keji, aku akan masuk lagi ke tempat tidurmu, ke hatiku. Aku berjanji hanya akan mencuri tatap bibirmu. Maka sekali lagi, kuncilah bibirmu. Sebab bila tidak, aku tidak yakin bisa menahan diri untuk membawa pergi kedua buntalan itu.

Rawasakti, 29 September 2012