Nazar Shah Alam

Tatkala tadi lepas siang seekor tekukurku pulang dengan tersuruk-suruk, aku ngilu. Memang, bahkan seekor rajawali pun juga terjerembab ke tanah tatkala sudah bertarung melawan ratusan burung lainnya. Rajawali itu jatuh setelah laga hanya tinggal 20 langkah persilatan. Tapi, sudahlah, tekukurku pulang dalam keadaan paling parah.

Setiap tekukur yang lepas kutandai dengan satu rajah, tepat di bawah dadanya. Semacam garis tipis melengkung ke kanan. Aku ingin menandai agar tak bertukar sampai ia pulang. Tekukur pertama yang lepas ini adalah kegelisahan paling titik. Aku mencabut dua bulu ekornya, menjadikan bulu-bulu itu sebagai cenderamata.

Ia pulang dengan lunglai. Kudapati ketiak kanannya patah dan berdarah, sedang paruh kirinya luka hebat dan bernanah. Aku menyesal sekali. Tidak, aku tidak menyesal melepas dia ke medan tarung. Dia sudah dewasa dan luka adalah kewajaran baginya. Tekukurku terjerembab setelah tak mampu menahan darah yang terus alir dari dekat lengkung ujung rajah. Sobekannya parah. Setelah tiga kali mengetuk pintu pelan, ia rubuh. Kepalanya membentur dinding. Oh!

Begitu terkejut sebab benturan—maafkan, aku tidak membuka pintu sebab ada kerisauan pada beberapa orang yang sedang mencariku untuk mengabarkan fitnah, aku tak mau mendengar—aku berlari mendekat. Kubuka perlahan pintu itu. Matanya masih nyala ketika kuangkat badannya dan dengan derai tangis kurebahkan tubuhnya ke tilam. Darah menyusup pori tilam dan memerahkannya hingga penuh.

Matanya sesak pilu, mulutnya tak pun mengeluh. Dia paham sekali bahwa sakit ini wajar didapat setelah usianya kini. Tekukurku menatapku seperti kelu. Dia menyarang penyesalan dalam jiwa dan semangatnya yang luruh.

“Di mana lagi?” tanyaku.

“Berhentilah mengobatiku, Tuan. Aku membawa kabar paling nista dari gelanggang adu,” ucapnya sembari memindahkan tanganku. Jelas turun dua bulir air dari bola matanya.

“Lihatlah dirimu. Babak belur, semua luka. Apa aku mesti membiarkanmu mati lalu menanammu di belakang rumah, di bawah perdu pisang, kemudian kutancap dua batu sebagai bukti bahwa kau ada di situ? Aku tidak soal kau kalah atau menang, aku melepasmu dengan yakin sekali,” bentakku.

“Lihat ini,” dia mencabut bulu di tengkuknya,”kau menulis harap di sini, bukan? Aku bertanggung jawab. Aku tidak membawa apa-apa padamu. Apa kau tahu bahwa aku lebih sakit sebab tidak bisa membuatmu tersenyum saat pulang daripada menerima luka-luka ini?”

“Persetan, aku tidak peduli pada harapan yang sirna. Aku juga melepas banyak sekali tekukur dan di tengkuk mereka juga kutulis hal yang sama. Aku hanya berharap, apakah itu salah? Berharap kamu menang, berharap kamu pulang dalam keadaan baik, itu saja. Berharap! Aku tidak mewajibkan. Sudah kukirim surat untukmu kemarin malam, bahwa pulanglah dengan keadaan apa pun, aku akan menerimamu. Apa kau sudah lupa cara mengeja aksara?”

“Lupakan! Sekarang tinggalkan aku sendiri. Aku akan mengobati lukaku sendiri.”

“Tidak, aku yang bertanggung jawab atasmu. Aku yang membawamu kemari dan menulis rajah itu. Kau milikku. Kalah atau menang, kau milikku.”

Malamnya, ketika sedang tidur, aku membungkusnya pelan-pelan dengan selimut belel. Tekukurku begitu nyenyak lelap. Kumasukkan badannya ke keranjang rotan. Aku memikulnya. Kami membelah malam dingin sebab badai kembali kuasa. Aku hendak membawa dia ke rimba, tentu akan menemaninya juga. Empat hari lagi kami akan pulang ke rumah singgah di kota. Mungkin sebentar, untuk mencari garam kalau-kalau habis atau bubuk kopi kampung, setelah itu kami mesti kembali ke pengembaraan.

Maka, kutuliskan sebuah wasiat dengan darah tekukurku yang pulang sebab kalah dan kuwarnai pula beberapa sisi dengan nanahnya pada trisula batu di dapur, bahwa kepergianku adalah pencarian beberapa mustika yang berserak di tujuh gua, bertapa demi mendapati kesaktian mandraguna. Dan, tekukurkulah yang akan kerap turun rimba bila kelak sembuh luka sayapnya demi menyiapkan segala yang kukehendaki. Mungkin akan tiba pula beberapa tekukur lain yang terlanjur kulepas tempo masa. Kalau mereka pulang berdarah-darah ke rumah singgah dan kami sudah menuju rimba, ah, nantilah. Kuharap mereka tahu bahwa aku sudah tiada di seluk kamar lama.

Pada trisula batu, kujabarkan pula perihal beberapa warisan yang kutinggal. Jaga baik-baiklah. Aku hendak jua bercinta dengan malam, menelanjangi kekesalanku pada harapan demi harapan. Aku sudah lelah. Rajah yang kutulis di tengkuk tekukurku yang lepas, semoga tak jadi beban bagi mereka hingga takut pulang. Aku ingin juga berkeliaran di rimba. Sudah cukup teguran demi teguran rajam badanku padahal tiada aku pun tahu siapa yang laku. Sebab aku sumur, maka padakulah jatuhnya timba. Aku sudah habis aksara. Maafkan, aku hanya bisa menanti tekukur yang kulepas tempo waktu dengan keyakinan bahwa mereka akan pulang dalam keadaan berdarah-darah.