Malam sebelum ulang tahun Bosso Badares antara kedua puluh tiga atau dua puluh satu-sebab orang tuanya ragu-ragu akan tahun lahirnya-terjadi gerhana bulan yang hebat. Semua anak-anak kota tua dan padat ini keluar dari rumahnya. Beberapa anak perempuan masuk lagi ke rumahnya, mengambil air dalam bejana besar dan kemudian mengarahkannya ke bulan. Konon di sana  akan terlihat bulan sedang berkelahi dengan matahari. Beberapa anak-anak usia sekolah dasar mencabut-cabut rumput di halaman rumah mereka, berharap bisa membantu bulan lepas dari cengkeraman matahari seperti rumput lepas di tanah dan bisa berjalan lagi seperti biasanya.

Bosso Badares memandang gelagat anak-anak kota kecil ini sembari tersenyum. Pada masa lalu dia tidak pernah melakukan hal itu,  sebab pada tiap gerhana ia akan berlari memeluk emaknya. Tentu saja sambil menangis,  sebab takut kiamat akan datang bila matahari tidak melepas bulan sekian waktu lagi. Emaknya akan mengusap-usap kepala Bosso Badares kecil, lalu menyenandungkan syair-syair agama hingga ia terlelap.

Bulan lepas juga setelah beberapa jenak melawan matahari, namun sinarnya tampak lelah. Orang-orang kota yang keluar rumah tadi masuk kembali. Anak-anak berbohong ria mengatakan bahwa ia melihat bulan dengan gagahnya melawan matahari hingga lawannya itu sempoyongan dan hilang pijakan. Kalau saja Bosso Badares masih sebodoh dulu, tentu saja ia akan percaya hal itu. Tapi, sekarang lain. Dia adalah seorang yang berhasil di tanah rantau dan mendapat pengetahuan yang banyak dari buku-buku yang dibaca. Dia sudah jadi pengusaha toko buku ternama.

Ketika pemuda legam itu masuk ke rumah, ia melemparkan pandangannya ke almanak. Tanggal empat. Dihampirinya perempuan tua yang masih sibuk mengayam tikar di serambi belakang, “Berapa tepatnya usia saya, Mak?”

Perempuan itu tidak menyahut. Diulangi lagi pertanyaan itu. Emaknya menatap bubung sebentar. “Manalah teringat, Mak. Hitung saja, kamu lahir ketika pertama kali di kampung kita dulu kedatangan orang Jerman untuk bikin jalan. Ya, tahun itu. Sekitar 89 atau 91 begitulah, kalau tidak salah. Almarhum bapakmu lebih tahu itu. Datang ke kuburannya, tanyakan saja.”

Bosso tersenyum dan berbaring di anyaman yang sudah jadi. Emaknya memang begitu, selalu menjawab data yang ditanya dengan peristiwa. Ketika ditanya kapan sang ayah meninggal, Lalu dijawab dengan kalimat, “Ketika ujian sekolah kakakmu, kamu masih beringus.”

Bosso bingung, karena kakaknya  tak cuma sekali ujian. Dia pun tak mampu mengingat lagi berapa kali dan kapan persis dirinya beringus.  Kapan kakak mulai merantau ke luar negeri? “Ketika bapakmu mulai sakit-sakitan.” Tepatnya? Entahlah. Bosso Badares mencoba memahami emaknya, walaupun kadang juga kesal.

Paginya, beberapa kawan pemuda berperawakan kasar itu datang ke rumahnya. Rumah setengah mewah-sejatinya rumah itu termewah pada masanya—di tengah kota kecil Cateraga mendadak ramai. Bosso Badares tersenyum-senyum mendapati orang-orang ramai yang mengejutkannya. Dia melihat ke almanak bergambar masjid di ruang depan, tanggal lima. Sore ini akan ada yang meriah, tentu saja.

Cateraga siangnya tiba-tiba mendung. Lelaki berkulit legam itu melongo ke luar jendela. Tidak akan berpengaruh apa-apa. Mereka akan mengadakan acara di rumah saja, sebab kalau hujan, halaman belakang rumahnya yang sempit itu tidak bisa digunakan sesuai kehendak mereka sebagai tempat meniup lilin. Gadis-gadis yang tiba dalam rombongan yang sama dari kota besar-salah satunya kekasih Bosso Badares-sibuk membantu emak lelaki tegap itu menyiapkan satu dan  lain hal untuk pesta.

Benar, hujan jatuh juga di Cateraga, bersama badai. Semua yang telah disiapkan sedemikian rupa hanya berubah sedikit saja. Kawan-kawan lelaki dari tadi lebih memilih menghabiskan waktu bercerita tentang gerhana dengan kanak-kanak  Bosso  memilih masuk ke rumah. Di sana mereka membicarakan kebiasan menghadapi gerhana di Cateraga yang unik. Kecuali ketika kekasih Bosso Badares kelimpungan mencari lilin kue tar.

“Angka berapa yang mesti dicari?” tanya gadis berpakaian rapi dan pantas berwarna ungu dengan rambut panjangnya terurai begitu saja, kekasihnya. Bosso Badares mengarahkan tatapan ke wajah emaknya. Perempuan tua itu seperti bingung hendak menjawab apa.

Angka berapa? Tidak ada tahun yang pasti kapan Bosso Badares lahir. Ketika Jerman masuk kampung mereka dulu, antara 89 atau 91. Kapan pastinya,  tak ada yang tahu lagi. Mereka saling tatap. Emak Bosso Badares menyamakan raut dengan yang lainnya. Bosso Badares orang hebat di kelompoknya di kota. Ia seorang yang pintar dan rajin membaca. Tanggal lahir di akta? Bosso Badares ingin pada kali ini ia pasti merayakan ulang tahun ke berapa. Selama ini di kota ia selalu ragu pada usianya. Tidak mungkin usianya 22 rasanya. Tapi,  waktu antara yang ditawarkan emaknya sangat jauh dan seperti meyakinkannya memilih yang di tengah.

“Angka berapa, Mak?” tanya Bosso Badares dengan pandangan mengenyuh. Emaknya tidak menjawab dan seperti sedang berpikir. Semua memandang. Tenggat pesta dimulai semakin dekat, angka berapa belum ada kata sepakat. “Tepatnya saya lahir tahun berapa, Mak?” enyuh Bosso Badares.

Emaknya mengerutkan dahi. Kerutan tua dan tak lagi rapi. Emaknya masuk ke kamar, lantas keluar dengan membawa sesuatu. Sebuah gambar lelaki gagah bertengkuluk kain seadanya, tak memakai baju,  dan hanya mengenakan celana puntung dari kain kasar. Gambar yang hanya menampakkan kejelasan sedikit saja,  sebab sebagian di rata sisinya telah terbasuh air dan dikaburkan masa. Namun, Emak Bosso Badares tersenyum,  seperti menemukan jawaban sakti yang menentukan masa tepat kelahiran anak lelakinya, “Kamu lahir persis pada hari ketika foto ini diambil oleh juru kamera Jerman. Ya, Persis!”