(kepada NSA)

Nazar Shah Alam

Mak, ini musim yang kurisaukan telah tiba

aku mencarimu sejak kemarin petang

 

aku tidak menemukan apa-apa kecuali rindu; itu saja

 

Mak, hujan turun ketuk metuk dan renyah di seng tua rumah singgah

aku mencarimu dan ayah sebab takut pada petir dan takut kau dan ia rindu lalu menangis

aku mendapatimu sedang lelap; lelaplah!

mendapati ayah sedang istirah; istirahlah!

 

tahukah bahwa mendengar suaramu saja aku semakin gagah menyandang gunung di bahu kiri kananku?

siapa yang bisa menaklukkan bin Alam, katamu

aku getir mendengarnya dan berdiri dengan tegap

bergunung-gunung lara tak akan mampu menjatuhkanku lagi

 

sebuah diorama duka lara memburai-burai di mataku dan aku menantangnya

 

Mak, ini musim sedang lain sekali

seorang lelaki berpakaian putih belel dengan tengkuluk kain panjang tersenyum mendapatiku kemarin

aku membalasnya dengan ikhlas sekali

tahukah bahwa lelaki itu telah menulis beberapa suhuf fitnah tentangku dan menyebarkannya ke riba seorang pemangku?

barangkali aku tak akan mengundangmu melihatku mengenakan toga sampai bertahun-tahun lagi

 

atau, jangan menangis, aku akan membelinya untukmu

 

Mak, pada masa yang tepat aku akan memanggilmu kemari

menatapku mengenakan pakaian impianmu-aku sudah lama tak lagi memimpikan itu, padahal- tapi kumimpikan lagi sekarang, untukmu

 

aku tidak akan bertingkah lagi, untukmu

 

Mak, hujan semakin kuat saja dan kilat membentuk pedang menusuk berkali-kali ke tanah basah

aku mencarimu di sini

tahukah bahwa aku tak pernah bisa puas rebah di pangkumu dan ketagihan pada saat kau kucir rambutku?

Maka aku akan pulang lagi padamu dalam keadaan kau benci itu; dengan rambut gondrong seperti disungsai badai

sebab dalam keadaan itulah kau akan memanggilku sebelum pergi kemana pun

lalu menarik kepalaku, menyisir rambutku, mengikatnya membentuk payung kecil di kepala

 

tahukah aku tidak pernah mencoba melepaskan kuciran itu sampai aku kau paksa mandi dan rambutku dikucir lagi?

 

Mak, katakan pada pusara ayah bertambah sudah bayaku hari ini

kudengar suaramu dari seberang; lupakah dirimu ini  tanggal berapa?

aku sudah tidak perlu apa-apa lagi bahkan ucapan itu

aku bangga telah kau lahirkan dua puluh tiga tahun lalu sebagai anakmu

 

sebagai abang dua adikku yang teduh

 

Akan kuturuti apa pun yang dipinta pemangku, untukmu

aku akan tunduk pada fitnah sesakit apa pun itu, untukmu

tapi berjanjilah akan berhenti bekerja bila-bila sudah kupakai toga, untukmu

maafkan bila aku tak bisa mengirim apa-apa sekarang, untukmu

 

bukankah aku mesti mengikuti hendak pemangku agar bisa berpakaian mimpi, untukmu?

 

Sabarlah sejenak aku sedang mencari

 

Mak, aku akan tiba pada saat yang tepat untuk memberikanmu maujud mimpi

 

hujan di luar; hujan enggan berhenti

Mak, aku ketakutan pada keadaan yang menimpa sehingga bertambah gigil

nanti bila aku sudah lelap datanglah di mimpi

agar aku kuat dan tak ada  yang bisa membuatku takut lagi

 

Rawasakti, 5 September 2012