Nazar Shah Alam

Kisah beringsut begitu jauh dan hidup siapa nyana akan berubah. Selain dari Pengko yang tetap seperti sediakala, nasib melempar sahabat-sahabatnya ke rimba yang beda dari sebelum-sebelumnya. Tersebutlah Genk Apache suatu malam mengunjungi Shakir di kampusnya pada suatu pagi yang cerah. Adalah ini tahun ke delapan atau semester ke 16 untuk Shakir di bangku perkuliahan. Bila semua mahasiswa sudah di-DO pada tenggat 14 semester bila belum selesai, Shakir malah tenang-tenang saja. Ia bahkan belum memogramkan tiga mata kuliah sisa yang otomatis akan duduk satu semester lagi setelah ini.

Siapa yang tidak kenal Shakir? Seorang yang rapi walaupun kegantengannya jelas diragukan. Seorang yang baik budi meski tidak sebudiman Muhammad Pengko Khan. Seorang yang rupanya—tanpa ada yang tahu di antara Genk Apache—mulai menjadi pujaan di kalangan mahasiswi se-fakultas sebab dikenal bijak dan rendah hati.

Shakir mulai dipuja sekarang, sungguh di luar duga. Nampak jelas dua perempuan cantik—entah mata dan hati mereka masih aman-aman saja—menggapit jalan lelaki yang kerap memakai sepatu berwarna Jingga itu. Kesetiaan dan konsistensi pada warna, itu salah satu alasan kedua gadis itu mengagumi Shakir. Siapa bantah? Shakir tetap mengenakan baju dalam jingga, kemeja jingga, celana kain jingga, sepatu dan kaos kaki jingga, dan tas selempang jingga. Tak lupa kawat gigi dengan warna yang sama. Jangan heran, sebab Shakir bila sudah di toko pakaian tentu akan mencari semua pakaian dengan warna jingga. Semua demi Jingga, sang cinta lama. Shakir in Love mulai menggema di mana-mana, memuja kesetiaan dan pesona Shakir dalam kisah asmara.

Shakir duduk dengan sombongnya di dekat semua yang ada. Maksum yang tampan—standar ketampanannya di bawah Pengko, catat!—rupanya membawa anak Pawang Lah yang bercerai dengan suaminya tempo masa, Ramlah. Hanya Maksum yang tak begitu peduli pada tingkah polah Shakir yang merasa gagah. Wak Lah hanya bisa nganga, pilihannya terhadap janda membuat dia semakin kesulitan mendapatkan gadis selaik Shakir yang tak tampan. Anjali diam saja, dia memang seorang wafat rasa.

Perempuan bermata lautan tiba juga dengan Honda Jazz biru tosca. Pengko belum juga nampak batang hidung mancungnya. Di hadapan Halimah, Shakir seperti menampak-nampakkan kemesraannya, biar perempuan senyum bulan sabit itu cemburu, maksudnya. Padahal Halimah tidak pun melihat ke arahnya. Shakir mencubit pipi perempuan cantik di dekatnya, untuk bikin Halimah cemburu juga, perempuan itu malah sibuk dengan ponselnya, bertanya Pengkonya di mana. Kalaupun Halimah melihat kegenitan Shakir, manalah mungkin ia cemburu, hatinya penuh untuk Pengko yang tampan dan bijaknya sudah tak lagi diragukan sama sekali.

Tuan yang dinanti tiba pula ke hadapan mereka di kantin fakultas yang sesak. Sebuah Ferrari Enzo warna merah berhenti, pintunya diangkat seperti sayap burung sedang terbang. Pemuda gagah dan tampan dengan balutan jas hitam oriental dan pakaian perlente itu segera menuju ke meja di mana Genk Apache berkumpul. Tiba-tiba saja kantin yang sesak itu seperti diam, semua menatap sang rupawan dengan kekaguman berganda-ganda. Pengko tetap dalam keteduhannya, menyalami semua kawan tanpa kecuali.

Mendapati Shakir sedang diapit dua perempuan cantik, mengernyit rapilah kening Pengko. Tanpa menunggu kawannya bertanya, Shakir dengan membara menjelaskan duduk perkara,”siapa sangka nasib memihak padaku, Pengko? Perempuan ini seperti sudah kena getah di hatiku. Kupinta mereka pergi, tak mau pergi, bahkan aku ke kamar mandi pun dinanti-nanti. Sekarang namaku Shakir in Love, catat, Shakir in Love,” Shakir mengucapnya dengan congkak tiada alang, kata “Shakir in Love” diarahkan kepada Wak Lah seperti sindiran.

Wak Lah mencibir di depannya, seperti hendak melabrak Shakir sebab kesal. Pengko memegang tangan kawannya yang bujang lapuk itu agar menahan. Memang bijak Pengko Khan, betapa kesenangan Shakir tak mau diredam. “Pengko, it’s my style,” ucap Shakir sembari mencolek dagu gadis di samping kirinya,” it’s Shakir in Love,” lanjutnya sembari mencubit bahu gadis di kanannya.

Menanggapi kawannya itu Pengko biasa saja, mereka bercerita sangat banyak tentang hal kuliah Shakir. Wak Lah tetap tidak senang dengan raihan keberuntungan Shakir yang kelewatan. Maka manakala Shakir mengajak kedua perempuan itu menuju parkiran, Wak Lah pun segera melempar petaka,”Kir, berapa hari lagi mobil Juke Pengko kau kembalikan. Aku mau pinjam juga, mau menjemput senja di Langsa. Lain kali kalau bergaya jangan dengan mobil pinjaman, pakai mobil pemadam kebakaranmu itu, dasar!”

Semua mata menatap Shakir, gadis yang lekat bersamanya melepas tangannya tiba-tiba. Shakir tersenyum getir. Selama ini tidak ada yang tahu itu mobil pinjaman lelaki jingga, tapi Wak Lah memang kesal tiada hingga. Dua gadis yang merasa dibohongi pergi dengan meninggalkan kata,”pembohooong!” Shakir bengong. Lamat-lamat dua bulir air turun pelan di pipinya, Pengko mendekat, memberi semangat.

“Pakailah, ini mobil kupinjamkan setahun lagi padamu. Aku juga tidak perlu. Wak Lah kubeli yang lain saja nanti,” rayu Pengko yang baik hati.

Shakir tersenyum, bangun, berlari ke arah mobilnya. Sedang tadi matahari cerah, ketika Shakir lari dentum petir terdengar, hujan turun seketika. Bersatulah haru dan hujan dalam satu jiwa, Shakir yang terkuak rahasia.

 

Rawasakti, 4 September 2012