Nazar Shah Alam

Sejatinya di sini saya hendak berkata, fitnah itu adalah perusak paling keji di dunia. Namun sebelum berbicara fitnah, saya hendak bermain-main terlebih dahulu. Kiranya permainan ini bisa menjadi pengantar apa-apa yang hendak  saya sampaikan kemudian. Insyaallah!

Dalam salah satu game online, Top Eleven yang bisa diakses melalui pesbuk di mana pemilik akun bertindak sebagai manejer sebuah tim yang dibeli (dibaca: bikin) saya memberi nama tim bola milik saya dengan Persifitnah. Selain oleh sebab saya ingin tim tersebut punya nama berbeda dengan rekan lain yang juga bermain itu dan rata-rata timnya menggunakan FC, United, CF, nama sendiri, dan nama-nama tim besar dan ternama, aku juga punya maksud lain dalam penamaan itu.

Sejatinya bagi saya, Persifitnah bukanlah nama yang baru. Persifitnah pertama kali muncul ke dunia ketika saya kelas tiga ESEM-A (2007). Siang itu ketika guru kami tidak masuk kelas, siswa perempuan duduk berkelompok-kelompok. Kebetulan hanya ada dua kelompok yang masih berada di kelas, selebihnya ngeluyur kemana-mana. Beberapa siswa laki sibuk sendiri-sendiri di kelas sembari tidur-tiduran, dan sebagian banyaknya juga berada di luar.

Saya dan Aden (Muhammad Ishak) siang itu memilih duduk saja di bangku kami, bangku paling belakang di baris ketiga dari pintu, bangku yang untuk kesekian kalinya kami duduki berdua (sejak kelas empat SD hanya dua kali kami tidak sebangku sebab berbeda kelas; menjemukan tapi cukup menandakan kami sepasang sahabat yang baik). Seperti biasa bila sudah berdua di kelas, kalau tidak ketuk bangku dan bernyanyi dangdut, kami mencari-cari cara lain untuk membuang jenuh.

Sebab tidak ada kegiatan yang berarti—kami bukanlah seorang siswa yang rajin baca buku atau belajar tanpa guru walaupun Aden selalu juara kelas dan aku kerap masuk sepuluh besar—demi menghilangkan suntuk kami mulai berkoar. Adalah saya yang memulainya. Kami bertingkah seperti seorang komentator sepakbola, sedang kedua tim yang bertanding adalah dua kelompok siswa perempuan yang duduk berkelompok-kelompok itu. Saya memberi nama kelompok di dekat pintu dengan Persifitnah, sedang Aden memberi nama kelompok dekat jendela, baris paling akhir di bangku depan, dengan Upek FC atau dalam bahasa Indonesianya Upat FC.

Siang itu mereka yang taksir kami memang sedang bergosip itu seperti terganggu dan kemudian melihat-lihat ke arah kami. Kecuali itu beberapa dari mereka juga tertawa cekikikan manakala ada komentar kami yang menggelikan. Pelan-pelan semua dari kawan kami itu seperti tertarik dan ikut pula cekikik.

Seperti itu asal muasal Persifitnah muncul. Bukankah ide-ide bisa muncul dalam sekejap waktu bahkan ketika sedang usil sekali pun? Maka tatkala kawan-kawan di sini mengajakku tiga musim yang lalu (satu musim dalam Top Eleven adalah 26 hari) aku langsung menamakan timku dengan nama tersebut. Sampai di paragraf ini sejenak aku ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada Aden dan pemain Persifitnah juga Upek FC pada masa silam.

Selain dari asal muasal tersebut, nama Persifitnah juga saya harap akan memberikan efek yang besar kelak. Bukankah kita ketahui bahwa sesungguhnya fitnah  lebih kejam daripada pembunuhan? Dengan nama Persifitnah saya harap semoga tim ini bisa menjadi tukang fitnah bagi lawan-lawannya kelak, membuat tim lawan terpecah belah sehingga tidak fokus bermain lagi, dan mendapatkan kemenangan yang mudah—bahkan dengan cara-cara yang licik sekali pun.

Sungguh semua keinginan saya terkabul pada musim pertama menjadi manejer Persifitnah. Kami berhasil menjadi menjadi runner-up dan maju ke liga tingkat dua, lolos Liga Champions hingga perdelapan final. Namun, sayangnya pada musim kedua dan di liga tingkat 2 Persifitnah hanya berhasil menduduki peringkat ketujuh (posisi terakhir yang mendapat tiket lolos ke liga tingkat selanjutnya).

Adapun di liga Level 2 tersebut Pukoleumo FC (Akmal M Roem) menjadi jawara, Mirza FC (Mirza Gralel) runner-up, (Iqbal Perdana) finish di posisi tiga, Bavarian FC nangkring di posisi empat, urutan kelima diraih Bineh Lueng FC (Makmur Dimila), Kapan Main FC (Sayed Jamaluddin) menyusul setelahnya, baru setelah itu Persifitnah mendapatkan tempatnya. Regedit FC (Fahrijal Yr), Ha Oi FC (Don HC/Hamdani Chamsyah), dan Ibnoe FC (Ibnoe Hadjare) tidak lolos ke putaran selanjutnya karena berada di bawah peringkat tujuh besar.

Liga Level 3 bergulir, Persifitnah menang di laga pertama dua gol tanpa balas melawan Dem FC. Adalah pemain yang baru dibeli, Ovejero yang menjadi pahlawan berkat satu gol dan satu asist-nya kepada Salihin di laga tersebut. Namun Pukoleumo (AMR) yang menjadi juara tahun lalu menundukkan Persifitnah dengan skor 2-1 di Vucos eLmous Bonenen, kandang Pukoleumo FC.

Kalah dalam lawatan ke kandang juara bertahan musim lalu, manajemen klub mengundang Rindu Ternoda FC (Ikbal Rizki) untuk sebuah pertandingan amal demi membantu korban banjir bandang di Aceh Tenggara (18/08) silam. Pertandingan ini juga sebagai ajang uji coba pra-versus Jawara FC beberapa waktu kemudian. Perrsifitnah menang telak dalam pertandingan tersebut dengan hasil akhir 7-0.

Dengan semangat pelampiasan emosi sebab kalah pada laga sebelumnya, Persifitnah bertandang ke Jawara FC Stadium (31/08/12). Pertandingan melawan Jawara FC tersebut menjadi juga menjadi laga perdana bagi kapten tim, Pengko NSA yang mengalami cedera engkel serius sejak pertandingan leg kedua Cup dan tidak bisa mengikuti serangkaian pertandingan-pertandingan pra-musim berikut dua laga sebelumnya.

Turun dengan formasi lengkap, Persifitnah terlihat sangat berambisi meraih poin penuh. Pertandingan baru memasuki menit ketiga ketika Hilton, bek tengah Persifitnah sudah berhasil melesakkan gol pembuka kemenangan Persifitnah ke jala gawang Jawara FC.

Berhasil unggul cepat, Persifitnah mulai mengamuk. Alhasil, jumlah 10 gol tanpa balas di kandang lawan didapatkan. Adapun gol-gol Persifitnah dicetak oleh Hilton (3’), Saliman (23’, 53’), Natasan (32’), Pengko NSA (44’ pen, 49’), Salihin (65’), Kalumata (70’), Ovejero (74’) dan  Lopez Cardosa (82’).

Natasan menjadi man of the match dalam pertandingan ini atas konsistensinya menjaga pertahanan sehingga penjaga gawang, Eda Toke tidak begitu kesulitan menghadapi gempuran-gempuran pemain depan lawan. Pencapaian ini adalah sejarah kemenangan terbesar Persifitnah selama tim tersebut diambil alih oleh saudagar kain kaya raya dari Spanyol, Pablo Pengko.

***

Seperti Persifitnah yang buas pada pertandingan ketiga itu, seperti itulah barangkali buasnya fitnah bila sudah berhasil merasuk. Ianya akan mencabik-cabik sebuah hubungan dan meninggalkannya begitu saja tanpa belas kasihan. Tukang fitnah tidak akan mendapatkan efek sedemikian rupa (apalagi kalau ia sempat meyakinkan yang menerima fitnah agar tidak mengatakan siapa yang membawa berita itu) setelah memberi fitnah. Namun yang mendapat kabar dari tukang fitnah tentu akan terbakar telinganya, remuk hatinya, dan tak tenang perasaannya. Sedang yang difitnah akan mendapat petaka lain, barangkali serupa dijauhi dan dibenci dengan benci paling benci.

Fitnah bisa masuk di celah-celah sebuah hubungan yang saling tidak menyukai. Boleh jadi juga kepada hubungan yang awalnya saling mengasihi, namun salah satu diantaranya bisa dengan mudah dipengaruhi pikirannya. Maka sebelumnya perlu dicatat, fitnah akan datang dengan sangat mudah kepada orang-orang yang mudah percaya begitu saja akan kabar yang dibawa oleh orang tertentu dan sama sekali tidak menyelidiki kebenaran kabar tersebut sedemikian rupa. Juga kepada orang sensitif hatinya, mudah tersinggung, dan tidak berpikir bahwa boleh jadi kabar-kabar itu tidak ada benarnya.

Selumrahnya sebuah kehidupan kau akan mendapati bahwa ada yang menyukai segala gelagatmu, beberapa saja, atau bahkan ada yang sama sekali tidak menyukai apa pun yang kamu lakukan. Itu adalah kelumrahan dan tidak perlu dipertanyakan sejelas-jelasnya tentang mengapa atau ada apa sebenarnya orang lain itu. Bukankah semakin banyak berpikir tentang orang yang membenci kita akan membuat kita semakin terpuruk dan mundur? Lalu dengan usaha sekuat tenaga kita akan mencari-cari apa yang orang benci dari kita, bertindak seperti yang mereka kehendaki, lalu kita disenangi oleh yang mula membenci. Kita lupa, bahwa setelah berlaku begitu pun masih ada yang membenci kita.

Baiklah, tentang kebencian. Kadang kala hal itu muncul sebab selera belaka. Orang yang hidupnya rapi tidak suka melihat seorang yang berantakan, seorang rajin bekerja mungkin tidak suka pada pemalas, atau—sekarang lagi banyak di kalangan mahasiswa—anak kantin kurang suka (tidak semua) kepada anak lembaga dakwah. Ini masalah selera, bukan? Semua punya selera dan cara masing-masing bagaimana bertingkah laku dan memandang hidup. Untuk menanggapinya sebenarnya mudah; biarkan saja, biar aman.

Ini yang kadang jadi masalah dalam kehidupan bukan cuma kebencian belaka. Adalah bila-bila sudah memutuskan untuk tidak suka pada seseorang, kita kerap memvonis bahwa apa yang dilakukannya tidak baik dan tidak benar. Apa-apa tentangnya adalah keburukan dan tidak tepat. Kita lupa bahwa tidak ada yang hitam putih dalam hidup. Selalu ada sebinar kebaikan di antara keburukan-keburukan. Kebencian yang besar kerap membawa kita ke jalan yang gelap sekali lalu mengajarkan kita tidak bisa melihat dan merasakan apa-apa lagi  dengan mata, bahkan dengan hati.

Hidup dan pilihan. Semuanya berbeda-beda. Seperti yang kerap kami (Saya, Iqbal Gubey, Musmarwan Abdullah, dan Makmur Dimila) leluconkan dan perdebat-kusirkan di pesbuk tentang rokok. Bahwa saya perokok yang merasa bahwa rokok itu sangat penting bagi hidup dan tidak berefek seperti yang dikatakan oleh orang kebanyakan—sempat saya tuang dalam tulisan Pembelaan Para Perokok—mendapat reaksi dari Gubey yang bukan seorang perokok. Kami saling membela kebenaran statement masing-masing dengan baik, tidak saling menuding dan menyakiti sebab paham betul bahwa semua orang bebas memilih bagaimana ia menjalankan hidupnya, memilih kebaikan dan keburukan baginya.

Di sana saya tertegun mendapatkan komentar Dimilano (Makmur) yang pada dasarnya bukan perokok. Seperti yang saya ungkapkan tadi bahwa dia paham tentang kebebasan memilih kehidupan pada seseorang dan tidak mengutuk perokok atau mengatakan bahwa perokok akan begana-begini. Juga Bang Musmarwan yang menanggapinya dengan bijak. Artinya di sini saya berpikir, akan selalu ada kebaikan bila semua orang bisa berpikir bahwa hidup seseorang ditentukan secara mutlak oleh orang tersebut dan sebagai orang lain tidak perlu mengurus apapun yang diperbuatnya selama tidak mengganggu kehidupan pribadi mereka yang tidak sejalan pikir. Sederhana sekali pada dasarnya.

Benci dan Fitnah

Telah saya katakan di awal bahwa kebencian akan membawa kita semakin jauh dari hal-hal yang dibenci itu. Membenci seseorang akan membuat kita jauh dan semakin berjarak dengannya. Begitulah sebuah pilihan. Maka sebelum membenci—kata orang tuaku—rumuskan dulu lebih banyak mana kebaikan dan keburukan seseorang pada masa lalu itu kepada kita, agar kita paham apakah wajar dia dibenci atau kita sedang dibalut sebuah keegoan sebentar.

Dalam pada benci membenci, kemunculan fitnah dan adu domba adalah suatu hal yang tidak bisa ditolak. Ini mungkin datang dari orang yang sedang cari perhatian kepada pihak tertentu, mungkin juga dari seorang yang baru atau juga berlawanan dengan yang dibenci pihak tersebut. Hal lain yang membuat kita sengsara oleh sebab membenci dalam hati adalah syak wasangka yang tumbuh manakala yang dibenci itu berujar atau berkelakuan.

Pernah ada seorang teman yang berkata pada saya bahwa ia dituduh menghina dosennya dengan memberikan gelar dosen (dalam fitnah) itu sebagai pawang hujan. Benar dia sempat menulis sebuah status pesbuk menyangkut pawang hujan, tapi teman saya ini rupanya iseng saja dan menujukan status tersebut kepada rekannya. Namun fitnah yang tiba kepada sang dosen malah sebaliknya. Kawan saya itu merasa terfitnah dan diadu domba oleh orang yang tidak senang padanya dan ia tahu siapa.

Lain waktu ia datang lagi pada saya dan bilang bahwa orang yang tidak ia ketahui menyampaikan pada orang yang berseberang pikir dengannya bahwa ia sudah menghina sang berseberang. Dia tidak merasa pernah melakukan hal tersebut sebab selama itu ia disibukkan dengan pekerjaannya sendiri sebagai guru kontrak dan menjaga jualannya di kios kecil seputaran Darussalam. Saya hanya bisa berkata bahwa itulah resiko setelah mengambil keputusan mengambil jalur berbeda dengan orang. Selain dari mengusulkan agar dia tidak perlu terusik jika tidak melakukan, saya tidak berkata apa-apa lagi.

Sungguh celaka bila dalam berseberang pikir itu kamu mendapatkan di seberang adalah orang yang mudah percaya fitnah dan adu domba. Di belakang kamu akan terus diserapahi, barangkali. Tapi paling penting adalah, keep calm. Tidak perlu latah, titah guru saya ketika saya juga tertimpa hal sama: fitnah.

Suatu malam ketika musim ketiga dimulai untuk pertandingan liga level 3, pikiran genit saya muncul. Bagaimana kalau para tukang fitnah membentuk satu koalisi saja, agar jelas siapa-siapa saja yang bisa mengobarkan semangat perang di antara dua kubu yang berseberangan. Mungkin saja ada perang lagi nanti, mereka bisa direkrut menjadi provokator demi membangkitkan semangat perang masa. Dan kalau sudah ada sebuah koalisi, pastinya bisa diajak bikin satu tim bola. Tentu saja nama timnya Persifitnah. Nah, kalau sudah terbentuk koalisi atau tim tersebut, hak cipta atas nama saya minta 10% dari keuntungan yang ada dan silakan transfer ke rekening saya. Olalaaa….!

 

Rawasakti, 31 Agustus 2012

*sedang dalam keadaan tenang setenang-tenangnya menikmati kemenangan besar Persifitnah di kandang Jawara.