Nazar Shah Alam

Kita sudah di sini satu purnama lamanya. Kau selalu bangun lebih awal, kecuali beberapa pagi di mana kau sangat kelelahan, barangkali. Pagi-pagi kubangunkan dikau sebab matahari akan memanjat langit, matamu sembab. Aku sempat mendengar isakmu semalam sebelum aku juga lelap. Dan masih sadar pula aku ketika kau bangun dalam gulita rajam dari hatiku, keluar sebentar demi melepaskan kulitmu yang lembut dan menindihkannya di badanku sebagai ganti selimut. Beberapa bulir air matamu jatuh di perutku yang melompong dan di dalamnya—tentu kau tahu—cacing-cacing termangu menanti (mereka seperti pengemis; lusuh dan kelaparan). Kau menangisiku? Sudahlah, ini keputusan!

Angin sedang buas. Kau masuk lagi dengan hati-hati ke hatiku, menuju kamarmu di sana, dan kembali terisak. Kau menangisi keadaanku. Maka pagi hari, setelah membangunkanmu aku menghapus cepat-cepat linangan air di sana (di bantal tidurmu) di hatiku sendiri. Kau sering lupa menghapusnya sebab terkejut dan buru-buru mencuci muka di laut.

Benar ramalan seorang nujum sebelum kita berangkat menuju pulau sunyi ini, bukan? Di sini tanah tidak begitu bagus dan kita akan mendapatkan bulan hanya beberapa malam saja, selebihnya hanya kelam belaka. Sedang matahari hanya akan tiba dalam beberapa jam, kemudian tenggelam lagi di balik pulau.

Sekoci kita terhempas kuat pada gelombang terakhir sebulan lalu. Aku sudah mencoba memperbaikinya. Kau yang bersembunyi di salah satu bilik hatiku pelan-pelan menyingkap daun pintu dan meloncat dengan cepat keluar. Hampir tak ada suara. Dari dapur sembunyi kau bawa setalam makanan; katamu, ini adalah sambal bunga dari sebatang seroja yang tumbuh di hatiku. Aku mengernyitkan dahi; bagaimana mungkin ada batang seroja di sana sedangkan sekian lama aku tidak makan apa-apa?

Kau cepat menyapu beberapa garis tak rapi di jidatku yang (masih) kering sebab laut kerap melempar-lempar garamnya ke mukaku. Sembari terus menghapus garis heran itu, kau bercerita sangat panjang. Tentang cinta? Aku juga tidak tahu. Ceritamu kadang membuatku terkantuk-kantuk-tapi terus kudengar dan kurasuki ke telingaku.

Benar kata nujum kurus yang meminjamkan sekocinya untuk kita berlabuh. Di sini—seperti sudah permintaan tanah—kita akan ribut bila sudah dekat matahari punah. Tentang apa saja. Maafkan aku, tanah ini telah mengajarkan kemarahan yang berlipat ganda padaku dan aku begitu cepat tunduk. Kau selalu saja tersenyum padaku seolah ingin menyuruh kata-kata loncat dari sabit bibirmu, aku selalu mencintaimu, katamu.

Sekoci kita hilang beberapa malam lalu, mungkin sebab lanun. Adakah lanun ke sini, kekasihku? Kau menggeleng.

Matahari sudah tenggelam padahal masih seharusnya siang. Kau tidak ada di tempat biasa dan begitu tiba dengan cepat kau menunjuk ke barat. Sekoci kita di sana, katamu. Nafasmu terputus-putus, maka kuberi nafasku untuk merekatkannya. Aku menyuruhmu masuk ke hatiku lagi. Kau setuju. Kutemukan sekoci kita telungkup di bibir pantai dan sepotong dimain-mainkan gelombang. Cepat balikkan sekoci kita, sayangku, kamu berbisik seperti bisikan seorang istri pejuang yang menyuruh suaminya bertindak sebab serdadu sudah merapat. Aku melihat kiri kanan, seperti serdadu rimba yang awas.

Segera kulakukan apa yang kau minta. Sembunyilah, ada lanun di sekitar sini, paksaku. Kau gegas berlari ke bawah ranjang dan sembunyi. Tidak ada pengayuh, celaka. Kau menjulurkan tanganmu. Aku paham itu, sayangku. Tanganmu adalah isyarat, seperti alam yang melempar sekoci kita semalam dan seolah menyuruh agar kita bergerak ke barat, mungkin. Aku mendorong sekoci itu ke arah pinta lautan. Pelan-pelan kulihat matahari dalam rupa siang.

Sayangku, kita ke mana? Kau menunjuk ke arah matahari. Di depan ada pulau bunga. Kita akan ke sana? Aku lupa bertanya pada nujum tempo waktu perihal apa pinta tanah di pulau tuju. Yang kutahu di sana matahari datang tepat waktu. Segera tidur, sayangku. Beberapa malam kau tak sempat beristirahat sebab acap tersedu mendapatiku yang melengkung tidur. Kali ini giliranmu.

Aku mencopot kulitku yang kasar. Ambillah sebagai selimutmu, sayang.

TP, 29 Agustus 2012