Nazar Shah Alam

Telah menjadi sebuah kebiasaan di tiap lebaran ada semacam budaya saling berkunjungan. Di rata tempat begitu. Tak terkecuali di Kuta Ganteng, tempat di mana Pengko menghabiskan sebagian masa kecilnya dan mencecap garam gula kehidupannya. Kebiasaan ini bermanfaat untuk mempererat silaturahmi sesama. Pengko yang budiman kerap berkunjung ke rumah teman, kecuali pada lebaran ini. Ia didera sakit pada beberapa bagian badan dan sang rupawan tiada mampu melawan takdir Tuhan Yang Rahman.

Pengko berhari-hari terbaring di rumahnya. Ia hanya bisa menanti kunjungan beberapa kawan tanpa memaksa mereka tiba. Maka itu, ia tidak pula mengabari sejawatnya seorang pun demi memberitakan musibah yang dianggapnya teguran Tuhan padanya. Hanya Wak Lah satu-satunya sahabat yang kerap bertanya dari jauh: sebab lebaran kali ini Wak Lah tidak pulang kampung dan memilih tinggal di istana Pengko di Mandaceh.

Shakir yang berkampung tak begitu jauh pernah tiba dan bermalam di rumah sang tampan Muhammad Pengko Khan. Anjali juga seperti itu. Mereka berdekatan dan saling memberi kabar. Lebaran kali ini dirasakan sempurna oleh Pengko sebab ia kedatangan seorang yang kaya raya berdarah Belanda dari Milan, Italia. Kedatangan pemilik Bandara Sultan Akmal van Roem itu sungguh membuat semua sakit yang dideritanya berangsur sembuh. Ini adalah kunjungan paling spesial sebab sangat jarang pemilik 25% saham di salah satu klub sepakbola kota mode itu berkunjung ke mana-mana.

Memang bukan rahasia lagi, Pengko sangat dekat dengan banyak orang kaya di dunia. Kekayaan pribadinya dari hasil usaha-usaha halalan thayiban menduduki peringkat ke-8 di seantero jagat. Banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya. Namun Pengko tidak cepat latah, ia terus mempertimbangkan kebaikan dan keburukan dari usaha tersebut.

Kembali pada cerita saling berkunjung, Wak Lah memberi kabar tentang pesan-pesan yang masuk ke ponselnya terkait mengapa ia tidak datang ke berkunjung ke rumah-rumah kawannya. Wak Lah dianggap sudah sombong sebab sudah kaya (padahal kekayaan dan benda-benda yang dipakai Wak Lah rata-rata milik Pengko—kecuali celana dalam). Wak Lah terusik rupanya. Ia mengadu pada sang rupawan.

Itulah keegoisan kita, sebenarnya. Mengapa mesti Wak Lah yang datang ke rumah kawan-kawan, mengapa tidak sesekali kawan-kawan yang datang ke rumah Wak Lah?

Begitu balasan Pengko dari kampungnya. Wak Lah membalasnya dengan senyum saja. Benar adanya. Kadang-kadang teman kita seperti itu, berharap didatangi setiap waktu, padahal apa salahnya mendatangi sesekali. Keegoisan ini kemudian memunculkan prasangka, bahwa yang biasa datang dan sekarang tidak tiba itu telah sombong atas segala peraihannya. Padahal belum tentu begitu.

Seperti Pengko, contohnya. Dia sakit dan otomatis tidak bisa memaksa diri untuk bergerak terlalu berlebihan demi menjaga agar tidak semakin parah. Apakah dia sombong sebab tidak bisa mengunjungi? Mungkin beberapa dari kawannya berpikir demikian, tapi sudahlah.

Seperti juga kunjung mengunjungi, kadang kita mempertahankan diri untuk tidak mengucap maaf lebih awal pada seseorang, mungkin sebab lebih tua atau merasa bahwa kita tak punya salah. Kita terus egois untuk hal ini. Padahal alangkah mulianya saling minta dan memberi maaf, lengkap rasanya hari fitri.

Pengko sudah sembuh dan sudah kembali berada di Mandaceh kemari malam. Sang rupawan berkunjung ke rumah penulis cerita dan berkisah. Sadarlah sudah penulis kisah Pengko dan sejawatnya bahwa ia juga punya salah yang banyak kepada orang banyak. Maka melalui kisah Pengko edisi kali ini, penulis yang tiada daya upaya melainkan dengan kuasa Allah saja ini memohon maaf kepada semua yang pernah tersentuh hati dan perasaannya. Mungkin dengan canda, serapah, hujatan, hinaan, sengaja atau tidak, hamba Allah yang menulis ini minta maaf sebesar-besarnya.

Dengan ini juga Pengko, Wak Lah, Shakir, Halimah, Maksum, Ramlah, Anjali, Pawang Lah, Sulaiman, Samaun, Maryam, dan seluruh tokoh dan kru cerita lainnya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.