(SMUSH 7 II)

Nazar Shah Alam

Sebab terlalu banyak waktu kami bertemu di ruang berantakan itu, maka aku dan Raisha semakin dekat. Kedekatan sebagai teman cerita belaka, tak berlebihan. Aku selalu menyempatkan waktu untuk berbalas pesan dengannya—tentu saja pesan-pesan itu akan kuhapus secepatnya demi menjaga perasaan pacarku saat itu yang sensitif.  Kurasa kami tepat sebagai kawan berbagi kisah dan kesah. Maka tak heran kalau pernah suatu kali kami saling berkirim pesan sejak sore hingga tengah malam.

Bila mesti kembali ke pertama jumpa, aku hanya ingat ketika hari kami dikumpulkan dengan pakaian putih hitam itu di halaman Gedung Pemuda dan Olahraga, Lampineung. Di sana aku berdiri di belakang Raisha. Dari jilbab putih tipis yang ia kenakan bisa kulihat dengan samar rambutnya yang tersulam. Aku sempat memutar otakku: kudapati perempuan yang membelakangiku itu tidak mengenakan jilbab dengan rambut kepang dan berkacamata. Not so bad!

Untuk ukuran 157 cm yang kumiliki, Raisha kukira adalah pasangan yang cocok. Tapi, ceramah demi ceramah dan beberapa kali tepuk tangan itu telah melenyapkan khayalan nakalku. Ya, kemudian kami bertemu lagi pada hari pertama menuju sekolah tugas: aku berpakaian dan penampilan buruk sekali. Raisha masih tetap seperti yang kutemui pada sebelumnya, diam dan hanya bersuara seadanya.

Hanya saja ketika jarum jam berputar sudah dalam hitungan tak lagi kami peduli, keadaan menyarankan agar kami semestinya lebih akrab. Raisha dan aku yang lebih senang di ruang pemberian sekolah tugas untuk kami itu pada saat—aku sudah lupa—mulai sering bertutur.

Aku berkesah pada Raisha. Pada dia saja. Tidak pada keenam lainnya. Paling senang manakala dalam banyak kesempatan dan keadaan rumit yang menimpaku saat itu dia menyediakan waktunya.

Selain bercerita tentang diri, kadang kami berilusi tentang banyak sekali hal yang menarik tentang keenam sahabat sesama tugas. Raisha seperti sungai kering yang butuh air tumpah ruah, sedang aku amsal tenaga yang bisa mengalirkan air ke mana kusukai. Air yang dikehendaki sering tersesat dan kadangkala menyusupkan diri ke tanah. Aku yang salah mengaturnya. Dan manakala kuketahui ia butuh tertawa dan cerita-cerita, aku memberinya. Air mengalir dan menyusup ke sungai yang tepat. Sejak pucuk hingga segenap ceruk basahlah ia.

Perempuan itu kerap memajukan bibirnya dengan ukuran yang pantas. Aku menyukai itu. Maka bila-bila ia kugoda, dia memajukan bibirnya, aku bahagia. Bila-bila lama tak kulihat ia berlaku seperti itu, aku akan memintanya, dia selalu menuruti mauku. Raisha menjadi seorang yang penting bagiku saat itu—lebih penting dari seorang yang sudah sekian lama bertali kasih denganku. Tugas menjadi pengajar itu menjadi indah bila sudah di ruang carut kami—yang di belakang mereka kunamai Ruang Multitumpah. Di sanalah kami meruahkan semua kekesalan dan bualan bila tidak sedang mengajar. Bukan hanya aku dan Raisha, tapi semuanya.

Raisha juga dekat dengan Riza. Seperti denganku, sebagai sahabat. Tentu saja dia tidak akan pernah menjadi milik siapa pun, Raisha sudah memiliki lelakinya sendiri dan sudah lima tahun bersamanya. Luar biasa untuk sebuah pertalian yang belum sah pada saat ini. Aku dan Riza juga tidak berniat menggantikan lelaki itu—kecuali itu aku sedikit berharap sebenarnya walaupun tidak pernah kuurai secara tersurat, Raisha pasti tahu itu.

Aku menulis puisi demi puisi untuknya. Dia menyukainya. Dan suatu kali aku meminta ia membaca puisiku, bagus sekali. Sengau suaranya, kelembutan itu, kupadu dengan sepotong musik, jadilah ia sepotong sajak isntrumentalia yang sendu. Aku mendengarkannya acap hendak tidur atau manakala suntuk mencabik-cabik pikiranku. Puisiku yang pertama kali dibaca dengan indah. Sangat indah. Melebihi harapan.

Raisha mengaku suka puisi romantis yang kutulis kadangkala di hadapan mereka saat mereka minta. Evi yang ribut selalu saja memintaku mengulang ucap puisi Sapardi Djoko Damono kesukaannya, Aku Ingin. Jakier yang mulai sibuk dengan gayanya sendiri kerap protes pada celoteh-celoteh Evi. Mereka mulai sering mengolok-olok dengan seru sekali. Ricca tetap sibuk dengan laptopnya dan bila menyahut pasti akan mengundang tawa. Nanas, si pelampung kerajaan, terus menjadi pembela yang setia tatkala Evi dilabrak Jakier pada setiap ketika. Dan Juan sang ketua terlalu sibuk dengan berkas-berkasnya dan kadang terlihat lucu, ia mencari pulpen seperti orang kehilangan kunci berangkas uang.

Riza memang paling celaka di antara kami semua. Berulang-ulang kali ia membohongi guru pamongnya. Sekali lagi, berulang-ulang kali. Dia datang ke sekolah tugas dengan tas selempang kecil atau tidak membawa apa-apa selain badannya beserta rokok filter murahan. Rokok itu kerap menjadi penyelamat asam mulutku pada siang hari.

Ibu Cut yang sudah tua kurasa adalah orang paling salah dalam perkara kebohongan Riza si gila tentara. Guru tua itu kukata bersalah sebab dengan suka rela telah membiarkan memori pengingat di kepalanya pergi begitu saja. Semakin dia lupa, semakin menjadilah kebohongan Riza. Bagusnya, hubungan kedua sejoli—sebab kami menjodohkan Riza dalam canda dengan ibu Cut, sang guru pamongnya—itu sama sekali tidak terlihat berbeda pendapat.

Bualan aku dan Raisha berlanjut tanpa diketahui keenam kawan lain. Suatu malam Raisha memintaku berdongeng untuknya. Aku tidak bisa mendongeng. Iya, aku menulis cerita-cerita, tapi tidak pernah mencoba menulis dongeng sekali pun juga. Baiklah, aku tahu ia hanya ingin menjadikan cerita itu sebagai hiburan agar bisa tertawa sebelum lelap. Kami sepakat. Dongeng tentang kancil si anak nakal. Aku lupa ceritanya bagaimana. Tapi sudahlah, kukisahkan dalam dua potongan padanya. Begini saja:

#Potongan 1

Tersebutlah sebuah kisah di sebuah rimba hidup seekor kancil yang nakal. Ia hidup bersama seekor istrinya yang sedang mengandung. Suatu hari, istrinya dilanda sakit perut. Maka, mulailah sang kancil nakal itu berlari kesana kemari, mencari bidan. Namun, sayangnya tak satu pun bidan yang bersedia menolong istrinya.

Di jalan ia bertemu dengan seekor tentara kancil. Rupanya tentara itu adalah seorang tentara kandungan di kelompoknya. Dia meminta tentara kandungan itu membantunya. Dengan senang hati tentara kandungan kancil itu berlari ke tempat istri sang kancil yang sedang melahirkan. Dan setiba di sana, tentara kandungan yang bernama Serdung Riza itu mampu menyelesaikan dengan baik tugasnya. Bayi kancil itu rupanya betina. Maka dengan senang hati mereka memberikan nama anak mereka itu, Cut.

#Potongan 2

Lalu dengan tersenyum sang tentara kandungan mengangkat tubuh bayi kancil bernama Cut itu. Dia merasakan hal yang aneh ketika menimang bayi jelita tersebut. Kemudian ia melihat kembali istri si kancil nakal yang baru saja dibantunya melahirkan

“Nanas?”

“Pak Riza?”

Betapa terkejut tentara kandungan kancil itu ketika ia tahu bahwa yang ditolongnya adalah mantan istrinya sendiri

Kancil nakal yang dikiranya suami dari kancil yang melahirkan itu rupanya adalah saudara mereka. Ketua para kancil yang bernama Kancil Juanda.

Aku bisa membayangkan berderai-derai tawa Raisha di tempat tidurnya. Di sekolah begitu bertemu denganku dia langsung tertawa. Aku senang dengan tanggapannya itu. Mereka memang kawan-kawanku yang apresiatif, orang-orang yang tahu bagaimana cara menghargai karya orang lain dengan cara-cara kecil dan layak. Mereka adalah tujuh warna yang membentuk halo di langitku selama tiga kali purnama datang dan tenggelam.

Perempuan berkacamata itu juga menjadi pendengar setia ketika pagi itu aku ditegur oleh guru pamongku. Lelaki paruh baya tersebut kesal tak alang. Bermula dari kenekatanku mengubah kebiasaan proses belajar mengajar di kelas. Sebuah ketidakbiasaan di sini.

“Siapa nama penulis lokal yang kamu perkenalkan pada siswa?” tanya lelaki itu dengan raut tak senang.

“Fira Al Haura, Makmur Dimila, Nash Al Mayra, dan Azmi Labohaji, Pak,” jawabku setengah menunduk.

“Siapa mereka?”

“Penulis muda Aceh, Pak!”

“Di buku paket ada nama mereka?” suaranya meninggi.

“Tidak ada, Pak. Tapi tidak salah kalau saya memperkenalkan mereka, kan?”

“Salah! Anak-anak mesti diberikan contoh yang biasa mereka dengar.”

“Saya memberikan contoh yang dekat, Pak!”

“Apa pernah kuminta Anda untuk mengajar seperti itu?”

“Tidak, tapi apa salah kalau mereka diperkenalkan dengan penulis dari kampung mereka sendiri, Pak? Mereka bisa melihat orang-orang itu secara nyata.”

“Aku tidak menyuruh Anda memperkenalkan orang lain. Aku menyuruh Anda mengajar dengan baik dan tepat. Nama mereka tidak akan ditanya di ujian nasional!”

“Mereka saya gunakan sebagai contoh dari teori di buku. Saya mengembangkannya sedikit saja, Pak. Mereka sudah sangat tahu tentang Chairil Anwar atau Rendra. Nama-nama itu sudah didengar sejak SD. Mereka…”

“Jangan merasa sangat pandai. Nilai Anda di tangan saya. Keras kepala!” guru pamongku itu menancapkan tatapan benci padaku. Aku mencoba untuk tidak menantangnya. Mengalah dengan menerima usulannya.

Dengan perasaan bercampur aku masuk Ruang Multitumpah. Kulemparkan begitu saja buku paket yang diberikan lelaki berkumis itu di meja. Aku berbaring sekian lama. Menatap langit-langit yang pada beberapa bagian telah dirusak hujan berkali-kali. Seperti langit-langit itu, beberapa bagian cara mengajar di sini rusak oleh kemonotonan cara yang diterapkan secara bertali-tali.

Pertama sekali kuceritakan itu kepada Raisha, dengan takzim dia mendengarkannya. Ketika cerita itu diketahui oleh yang lain, semua kami berkumpul di meja. Jakier berhenti sejenak mengolok Evi, sedang perempuan itu menyela berkali-kali demi membenarkanku. Juan menyahut dengan tangannya terus menyilang di dada—mungkin ingin terlihat berwibawa, tapi kelihatannya malah seperti seorang menahan kentut saja.

Nanas tetap dengan keteduhan seorang psikolog yang mendengar pasiennya, tenang lalu sekali-kali menyahut memberi saran. Ricca tak jauh beda dari Evi. Kadangkala bila dua mulut itu bertemu, ceritanya malah berimbas ke tema lain. Sedang Riza sang gila tentara hanya berkata,”tenang saja, nanti juga akan habis masa kita di sini.” Sederhana sekali.

Bersambung….