(sekedar ingatan)

Nazar Shah Alam

Lelaki itu memandang ke arahku. Dari jauh. Dari bangku kantin yang ramai dan celah-celah batang tubuh manusia yang kelewat larut dalam canda katanya. Tidak ada yang berubah. Dia masih saja seperti kala pertama bertemu denganku. Hampir setahun lalu. Aku tidak akan lupa pada masa-masa dimana pada setengah hari awal aku mesti bersua mereka. Itu salah satu yang rumit dan indah. Rumit dengan masalahku sendiri, dan indah manakala bersama mereka.

Dia memanggilku. Aku ke arahnya. Dalam pada berjalan menuju ia, aku sempat mengingat banyak hal. Mengulang kembali ke masa lalu. Dari sejak bertemu.

“Itu kalian mesti potong rambut. Kamu yang gondrong, guru tidak ada yang seperti itu. Kamu juga, jangan seperti orang Korea,” ucap pembimbing PPL. Lelaki itu menunjukku dan lelaki di sampingku yang sedari tadi diam saja dan hanya bicara dengan orang di sampingnya. Aku hanya mengangguk tak senang.

Lelaki di depan kami terus saja berkoar. Aku sama sekali tidak peduli. Kecuali ketika ia meminta kami bergumul dengan orang-orang yang sama sekolah praktek, aku bangun dan menuju ke bangku belakang. Di sana seorang gadis ribut telah sibuk memanggil-manggil anggotanya.

“SMA 7, SMA 7..”

Delapan orang berkumpul di sana. Seorang perempuan yang tadi ribut sekali mulai bertutur. Entah apa yang diucapkannya. Dia memperkenalkan diri dan meminta kami semua melakukan hal yang sama. Sudah. Perkenalan selesai dan ketua regu terpilih. Juanda. Sebab dia paling tua di antara kami semua. Lagi pula dua lelaki lainnya, tiga denganku, tak berniat sama sekali menjadi ketua di situ.

Beberapa hari setelahnya kami bertemu kembali. Di bawah sinar matahari siang, dengan sangat celaka kami diwajibkan mengenakan pakaian putih hitam. Pertemuannya hanya untuk seremonial belaka. Bertemu lagi dengan lelaki gondrong tempo hari. Ia seperti mencari-cari cara untuk bisa bertutur denganku. Kecuali yang tak ubah, adalah perempuan ribut. Ia terus saja berkoar.

***

Pagi celaka. Semalaman aku tidak tidur dan kemarinnya juga tak sempat mencuci baju putihku yang kotor. Ponselku berdering sudah sekian kali. Aku terjaga dan dari seberang terdengar ucapan mesti cepat sekali. Aku gegas dan tanpa mandi lagi mengenakan pakaian dinas. Sialan. Aku mesti buru-buru sekali. Tak ada kereta di sini. Aku mesti meminjam kereta orang yang terparkir di sana dan berjanji akan mengembalikannya setelah pulang dari sekolah tugas itu.

Muzakir, kami memanggilnya Jakier, seolah memang sudah menungguku. Ia bergegas menghampiriku pada pagi celaka itu manakala aku tiba di balairung sekolah. Ada senyum di wajahnya. Kawan yang baik. Dialah yang menelponku pada pagi pertama itu. Beberapa wajah lain kulihat hanya diam belaka dan sibuk dengan dirinya. Kami masuk ruang. Ada ceramah seremonial para tua sampai kami diterima dan dilepas dari ruang pengap yang tak kusukai itu. Kelak, kalian perlu tahu bahwa berbulan-bulan di sana, aku hanya mengunjungi ruang ini sebanyak dua kali saja.

Evi yang ribut tak kepalang tanggung bertanya-tanya nomor kontak kami dan akun jejaring sosial masing-masing. Kecuali seorang perempuan berkerudung besar warna hitam dan seorang lelaki yang memaksakan diri terlihat tegap, semua telah memberi akunnya. Dua kawan baruku itu rupanya tidak punya akun. Aduhai, hari gini? Ahahhaa

Kami sepakat duduk di kantin, dan keadaan masih datar saja. Aku berpenampilan paling buruk di antara mereka. Kira aku peduli? Tidak sama sekali. Penampilan bukan suatu yang perlu dibanggakan, tapi isi kepala.

Hari-hari selanjutnya adalah cerita yang mengesankan. Perkenalkan, kami Smush Seven (Smush 7). Nama yang diberi Nanas, salah satu dari kami. Di satu ruang yang dikhususkan untuk keempat belas pemuda (setelah kami berdelapan rupanya ada enam orang lagi dari universitas berbeda ditugaskan ke sana) menceruk kisahnya hari ke hari. Di ruang berkelupasan cat itu kami menghabiskan waktu bila-bila tidak masuk ke ruang kelas.

Kecuali keenam kawan dari universitas lain dan dua orang dari kami, enam pemuda dari tempat asal yang sama itu kurasa sama malasnya. Bila tak ada jam mengajar, kami lebih memilih untuk berdiam di ruang khusus itu. Jakier tentu lebih banyak waktu untuk di sana, sebab sebagai seorang mahasiswa olahraga ia hanya mengajar pagi saja. Sedang kami berlima dan yang lainnya mendapat waktu mengajar yang bertumpuk-tumpuk tak beraturan.

Jakier duduk di bangku panjang yang disediakan untuk kami sembari mengutak atik ponsel. Aku baru saja bangun tidur—mungkin sebab jarang tidur malam hari aku jadi sering tidur di sekolah: di ruang itu—dan duduk malas saja. Gadis berbadan kecil dan lebih sering memajukan bibirnya itu larut dalam bacaannya, yang seorang lagi, dulunya kukira ia seorang pendiam, sesekali terbahak ketika ada adegan lucu dari laptopnya, sekarang dia lebih banyak gerak. Sedang lelaki berbadan tegap sedang menelpon habitatnya, sebuah lembaga mahasiswa agak ketentara-tentaraan. Dan Nanas sibuk dengan kacamatanya. Gadis Jakarta yang sama malas dan suka tidur. Evi dan Juan masih di kelas. Aku ragu pada mereka, apakah memang jam mengajar mereka jauh lebih padat dari kami? Setahuku sama saja.

Semuanya sudah terbalik. Ricca yang pendiam sekarang sudah menjadi seorang yang lucu sekali. Dia sering membuat kami tertawa dengan ucapannya. Paling terkenang adalah manakala ia bertanya, kata tanya yang sama dengan tiga bahasa berbeda, why kenapa pakoen. Raisha yang selalu larut dengan bacaan dan ponselnya, kukira benarlah ia membaca, rupanya tak lebih dari melihat-lihat saja untuk memupus suntuk.

Di kaum delapan ini, Juan adalah yang paling rajin, tentu saja bersama Evi. Mereka seperti gila sekali menjadi pengajar. Jakier tak lebih dari seorang yang mempertahankan gayanya dan kemudian menjadi seorang guru olahraga yang kelewat berani membentak. Ricca, ya mungkin dia lebih rajin, tapi kerajinan dia terbatas sekali. Bila ada ruang bermain, dia akan bermain dan terpingkal-pingkal sendiri menonton film. Kemudian ada kami, aku, Raisha, dan Riza yang sok tentara itu. Kami bertiga adalah yang paling sering terlihat di ruang pemberian sekolah itu. Kami trio malas mengajar. Sangat malas bertatap muka dengan para siswa di ruang. Sedang Nanas adalah seorang yang memang seperti tidak punya tugas sama sekali. Dia sibuk di ruang bimbingan sekolah itu. Kutaksir mungkin di sana ia juga tidur.

Aku kerap mendapat teguran dari guru pamong musabab paling sering telat dan jarang mengikuti aturan pengajaran. Aku membawa siswa keluar kelas manakala belajar puisi dan belajar dengan mereka seseru mungkin. Itu tidak diizinkan di sini. Apa aku peduli? Tidak sama sekali. Maka pada akhirnya aku mesti berpandai-pandai cakap untuk mendapatkan nilai yang baik.

Jakier lebih seru kurasa. Tak ada guru pamongnya di tempat membuat dia lebih leluasa memainkan perannya sebagai guru yang idealis. Di ruang kami, ia kerap memuji diri. Di hati kukata, “tentu saja kau bisa begitu, toh tak ada yang memantaumu.”

Pada akhirnya, kudengar kabar Evi ditegur karena lewat batas jam mengajar. Aku tertawa dalam hati. Siapa suruh menjadi seorang gila mengajar, Nong? Dia merepet sangat panjang. Allah Ta’ala, cepat sekali kicaunya. Ini gaya yang tak pernah lepas dari perempuan itu. Kami mesti mendengar, sesekali nyelutuk membenarkan dia. Yang paling takzim mendengar adalah si Nanas. Terpana dia. Entah apa yang dianalisis olehnya. Beberapa hari kemudian giliran Ricca pula yang dihujat entah sebab apa oleh guru perempuan di sana. Si centil itu mengadu. Kami mendengar dengan takzim, sesekali nyelutuk membenarkan dia. Yang paling takzim mendengar juga si Nanas. Yang paling banyak berkomentar tetap saja si Evi.

Riza adalah paling celaka. Bila malas melandanya, ia akan membodoh-bodohi guru pamongnya. Memang dasar guru pamongnya bodoh dan pelupa, dia selalu mengambil keuntungan dari sana.

“Kuncinya dimana?” tanya guru pamong Riza padanya.

“Kan sudah Riza kasih ke ibu?” ujar lelaki itu.

“Oh ya, ibu lupa taruh di mana. Sudahlah, biar ibu saja yang masuk,” jawab guru itu lagi.

Sebalik badan perempuan tua itu, Riza tersenyum. Kunci ditinggal di rumahnya sendiri. Tega hati. Sungguh tega hati. Kami tertawa bersama-sama. Mengutuk Riza. Namun itu, Riza juga kena batunya. Saban hari ia mesti memeriksa tugas siswa. Beratus-ratus butir. Luar biasa lelahnya.

Aku dan Raisha lebih tenang. Kami hanya masuk mengajar dan kalau memang sedang tidak selera kami hanya mengajar saja. Tidak ada tugas yang berlebih, kecuali diminta pamong. Dibanding aku, Raisha lebih aman lagi. Guru pamongnya kerap mengajar sendiri dan dia hanya duduk menemani. Aku malah dilepas begitu saja. Guru pamongku ampun malasnya. Sesekali masuk lihat proses, keluar kasih protes. Dia usulkan pembaikan, aku mana mau dengar. Siswa jangan terkungkung dengan teori dan kekakuan, pikirku. Biar saja mereka lepas menjadi seperti yang mereka inginkan. Dia menyuruhku lebih serius. Sekejap dan di depan dia kuaminkan itu. Di balik pantaunya, aku tetap memberi ruang eksplorasi pada siswa-siswaku. Kami bermain-main dengan serius dan serius sambil terus bermain-main.

Juan masih sibuk sampai pada akhirnya kami mesti mengumpulkan tugas-tugas akhir berupa laporan. Tetap, aku paling telat. Riza semaunya. Evi tercepat. Raisha dan Ricca tepat waktu. Jakier, aku tak tahu kapan dikumpulkan tugas itu. Nanas, entah ada, sama aku tidak tahu. Kadang aku berniat minta maaf pada Juan, sebab oleh keterlambatanku ia mesti bekerja keras kesana kemari mengurus kekuranganku. Dia sangat bertanggung jawab. Dan dulu, ketika kesalku sudah di kuduk serta ingin berhenti dari tugas mengajar di sana, Juan salah seorang yang melarangku. Juga Evi yang kerap memuji puisi-puisiku.

Selain Evi dan Juan yang memberikanku semangat, yang lain juga. Aku masih terkenang kala beberapa kali Raisha memintaku membuatkan puisi untuknya. Dia membacakan puisi itu. Sangat bagus. Hanya saja dia tidak begitu berani menunjukkan diri. Kasihan bakatnya. Ricca dan Nanas memberiku semangat dengan cara sangat bersahabat. Kami bercanda sesuka hati. Aku senang sekali. Riza kerap bertanya tentang sastra. Dan Jakier si idealis, selalu saja ingat “kek na lu” kata yang kuucap dalam satu pementasan teaterku.

Sungguh aku ingin menulis cerita ini selengkap-lengkapnya tentang mereka. Menjadikannya novel atau sebuah cerita panjang tentang sebuah perjalanan. Aku hanya mengambil batang, belum daun, bunga, buah yang ranum dan tak jadi masak, belum semua cerita. Bila kehendakku meledak-ledak, aku ingin mengurai satu persatu. Aku senang sekali bertemu mereka, orang-orang yang pada awalnya kurasa tak menarik sama sekali untuk dijadikan sahabat.

Pada kemudian, aku hanya ingin menulis. Aku tidak bisa menghentikan jemari untuk terus mengetik ini. Seolah cerita terus tumbuh dari pucuk kuku. Kami sudah saling jauh. Dan manakala suatu waktu bersua lagi, entah bagaimana sudah jadi. Aku terus terkenang Riza sebab bersamanya selalu aku merokok di ruang khusus kami, mengenang Evi dengan puisi Sapardi Djoko Damono yang dikagumi, mengenang Jakier bersama baju olahraganya dan cerita keberuntungan ia, mengenang Nanas si pelampung kerajaan yang tak pernah menampakkan kesalnya pada tiap kucandai, mengenang Ricca dengan “why kenapa pakoen”nya, mengenang Raisha dengan mulut yang dimajukan dengan ukuran sepantas-pantasnya, mengenang Juan dengan kerja keras dan kesibukan yang kelewatannya. Aku masih mengenang semuanya hingga masa yang entah. Bagaimana kabar kalian semua?

Aku mendekat ke arah lelaki yang memanggilku. Kami duduk semeja. Kukira hanya aku saja yang banyak bertemu salah satu dari kalian. Bersama Jakier siang itu. Kami bercerita sangat banyak. Aku dilanda keinginan bertemu kalian semua.

Rawasakti, 12 Agustus 2012