Karya Nazar Shah Alam

Pada akhirnya Wak Lah memang sangat betah berada di Mandaceh. Selain bekerja sebagai seorang pramusaji di salah satu warung nasi, ia juga kerap mengunjungi puaknya di Aceh Rayeuk. Maka pada malam harinya Wak Lah tidak serta merta pulang ke rumah Pengko. Ia lebih banyak menghabiskan separuh malam awal di kampung asal kakek buyutnya. Untuk menjemput kembali kenangan dan menyambung tali silaturahmi, apa yang dilakukan Wak Lah tentu sangat baik. Namun itu, di luar semua kebaikan itu, ia juga punya misi lain, apalagi kalau bukan bermain togel bersama kawan-kawan lamanya.

Togel memang tidak hanya ada di kampung asal Wak Lah, di mana-mana ia lestari. Orang-orang yang memainkannya rupanya terdiri dari beragam muasal pekerjaan. Mungkin orang akan mengira bahwa yang kerap terkena pengaruh togel adalah orang-orang susah frustasi. Itu tidak mutlak benar, pada kenyataannya orang-orang bergaji pun ikut juga memainkannya. Seperti juga judi lainnya, akan dimainkan oleh siapa saja dengan alasan-alasan tertentu.

Penjelasan dari Wak Lah membuat Pengko paham dengan judi nomor itu. Memang Pengko tidak pernah terlibat pada kemaksiatan-kemaksiatan demikian. Ia tidak mudah terpengaruh oleh hal itu. Sebagai orang yang sejak kecil sudah ditanamkan ilmu agama, Pengko paham pada dosa yang disebabkan oleh judi dan maksiat lainnya. Jangankan untuk berjudi, menatap perempuan saja ia tidak berani lama-lama. Takut ia akan terjadi fitnah dan dosa akibat zina mata. Maka jangan heran kalau mendapatkan ia kerap menundukkan pandangan bila bertemu dengan perempuan.

Selama di Mandaceh, Wak Lah sudah kembali bisa berbicara dengan logat kampung asalnya kembali. Pengucapan R redik pada tiap ucapannya kini muncul kembali. Bila hendak mengucap “rah” atau cuci ia akan berkata “khrah”, “sira” atau garam diucapkan “tsighre”. Seperti itu. Dia tidak pernah malu dan tidak pula segan mengucapkannya dalam percakapan. Bukankah itu adalah dialek yang menjelaskan betapa kayanya warna ucap pada orang-orang kita.

Aceh memang dikenal dengan kekayaan dialek bahasa yang beragam. Dalam bahasa Aneuk Jamee saja misalnya, antara penutur di Labuhan Haji dan Tapak Tuan yang masih dalam lingkup Aceh Selatan ada beberapa gaya pengucapan dan berbeda ucap pada beberapa kata. Apalagi dialek bahasa Aceh. Antara Aceh Besar, Peusangan, dan Barat Selatan Aceh, pengucapannya memag sangat kentara.

Aceh Besar paling dikenal dengan pengucapan R kasarnya, Peusangan (juga ada dua macam menurut penelitian dalam kitab Pengkoisme) fasih R dan mengucap kata yang berakhiran O dengan Au, semisal kata “mano” atau mandi diucap “manau”. Aceh Barat di beberapa tempat mengucap huruf E di akhir kalimat dengan Ai, misal pada kata “male” atau malu diucap “malai”. Sedang di bagian Aceh Selatan terkenal dengan ayunan suara dan bila diperhatikan lebih teliti akan terdengar huruf A di akhir kata sebagai E (seperti kata “ane” dalam bahasa betawi) missal pada kata “hana” atau tidak ada diucap “hane”.

Apapun itu, kata Pengko, yang penting jangan pernah saling membeda-bedakan diri saja. Bahasa itu tidak ada yang lebih baik antara satu dan lainnya. Kalau memang berbeda, anggap saja sebagai sebuah kekayaan bahasa kita.

Pulang dari tempat saudaranya Wak Lah langsung duduk di sofa. Shakir masuk dengan muka tertunduk. Begitu ditanya, ia hanya bisa. Selidik punya selidik, rupanya tadi Shakir dilarang azan di masjid sebab suara tidak menarik dan nafasnya sangat pendek. Ia kecewa sekali. Memang tidak boleh sebenarnya melarang siapa pun yang hendak melakukan kebaikan. Tapi kalau ditilik lebih dalam, tentu tak salah kalau imam masjid itu melarangnya. Sebab pernah satu kali ia azan dengan gayanya sendiri, tak ada satu pun jamaah yang tiba. Pada saat itu di masjid hanya ada Shakir dan imam saja.

Wak Lah juga duduk dengan muka murung. Pengko yang baik hati langsung menanyakan apa yang dirasakan sahabatnya itu. Wak Lah menitiskan air mata dan juga bisu saja. Tak putus asa Pengko memaksa, Wak Lah menunjuk bajunya. Ditanya mengapa dengan baju itu, Wak Lah menjawab,”sudah tiga kali kucuci, Pengko. Wanginya tetap sama.” Ditanya wangi apa, Wak Lah menatap langit-langit dan dengan pelan berucap,”wangi Halimah.”

Apakah perempuan bermata lautan itu pernah berpelukan dengan bujang lapuk merana itu atau menyemprotkan minyak wanginya? Rupanya tidak. Halimah hanya berdiri di dekat Wak Lah suatu pagi ketika ia berkunjung ke rumah megah Pengko dan menemui Wak Lah demi bertanya di mana lelaki bermata seteduh embun itu berada. Pertemuan tiga menit itu rupanya benar-benar menyiksa Wak Lah.

Ia tidak bisa tidur selama empat hari empat malam karena terus terbayang senyum bula sabit perempuan itu. Bila rindu semaki menyiksa, Wak Lah akan menangis sejadi-jadinya. Basah sudah sarung bantalnya. Wajarlah kiranya tiap pagi ia keluar kamar dengan muka sembab. Wajarlah ia sudah tak makan dan minum dalam empat hari terakhir ini. Wak Lah nan lara. Rindu yang menyiksa. Kata Wak Lah, rindu itu sangat asin, seasin Tsighre (garam) yang berlebihan dalam makanan.