Karya Nazar Shah Alam

Hidup itu tidak segampang ocehan Mario Teguh. Tidak semudah pelisiran kata bijak. Masalah adalah sebuah kelumrahan. Pasti akan datang dalam berbentuk-bentuk keadaan. Ia seperti nafas yang dimiliki oleh semua manusia. Tak ada yang lepas dari kungkungannya. Maka itu, sedianya masalah sebesar apa pun tidak perlu terlalu didramatisasi. Tidak perlu diceritakan secara berlebihan. Tapi adakah yang bisa lepas darinya? Tidak ada.

Bagaimana jadinya kalau kamu didatangi setumpuk masalah dalam sekali waktu? Ayahmu meninggal, SPP sudah pada tenggat akhir pembayaran dan kamu tak ada uang sama sekali bahkan untuk makan, diancam penagihan utang yang kamu pinjam sebulan lalu, teguran dari saudara sebab kamu merusak komputernya, bermasalah dengan pacar atau teman, dan dikejar tenggat pekerjaan yang sejatinya belum bergaji.

Kegalauan tingkat nasional melandamu. Apa yang akan kamu lakukan dalam keadaan seperti itu? Barangkali akan tercenung-cenung, hilang semangat, protes Tuhan, menyendiri, atau lebih ekstremnya berencana bunuh diri. Apakah ada yang bisa berpikir positif saja, menjalaninya tanpa beban dan menyelesaikan semua masalah dengan tenang? Tidak ada.

Sebagai manusia biasa wajar rasanya kita terbeban dengan masalah. Apalagi bertubi-tubi dalam satu waktu. Cara terbaik mungkin dengan menganggap itu cobaan yang mesti dijalani dengan tabah dan berusaha menyelesaikannya dengan cara sebaik-baiknya. Tidak mudah, memang. Tapi berusalah agar lepas dari kungkungan keadaan yang menyiksa itu. Paling penting adalah jangan pernah mengutuk Tuhan. Sebab tanpa kuasa-Nya, tak ada apa-apa yang bisa dilakukan.

Kita kerap mendengar ocehan bahwa Tuhan tidak sayang pada hamba yang diberi masalah. Kalau sudah sampai pada tahap seperti itu, maka bukankah itu berarti betapa lemahnya kita? Cobaan demi cobaan adalah salah satu bentuk betapa Tuhan Maha Peduli pada hambanya. Ia membuat kita teguh dan kuat secara tidak langsung. Seorang yang sudah terbiasa berjalan kaki dalam jarak dua kilometer dengan membawa beban sebanyak 4 kilogram pada awalnya juga merasa kelelahan dan berat. Namun itu, bila kegiatan yang sama terus dijalani, ia akan terbiasa dan semuanya akan dijalani dengan mudah sekali. Ini bukti, secara tidak langsung Tuhan menguatkan kaki dan tangannya, juga badannya secara keseluruhan dengan cara memberinya cobaan. Artinya, cobaan berupa tak ada kendaraan untuknya lama-lama mengajarkan ia kuat dan tangguh dan tidak semua orang mampu melakukan hal seperti itu.

Contoh lain adalah pada orang yang dililit utang. Bila memang dia sudah terbiasa (disebabkan ketidaksesuaian pemasukan dan kebutuhan atau kemendadakan yang sering) tentu ia akan sangat tahu bagaimana cara paling efektif melunasi utang-utangnya. Gali lobang tutup lobang mungkin bisa jadi salah satu cara efektif. Hal ini tentu dengan catatan bahwa pelan-pelan ia mesti terus bekerja untuk membayar semua utang-utangnya.

Dalam hal mengutang untuk menambal kebutuhan mendadak, perlu cara khusus memang. Kalau dibutuhkan satu juta, pinjam di beberapa tempat saja. Jangan hanya di satu tempat sebab kemungkinan tidak ada. Hal ini mungkin lebih mudah karena kita bisa berangsur membayarnya sebab tidak semua butuh dalam waktu yang sama. Paling penting tidak berusaha bohong atau melupakannya saja: tetap dibayar.

Bila dihadapkan masalah bertubi seperti yang diceritakan di atas, persiapkan diri lebih kuat lagi. Tidak mudah, memang. Tentang kematian, yakinlah bahwa semua akan pulang ke muasal.  Bahwa yang hidup pasti mati. SPP belum dibayar, ngutang saja dulu. Bukankah meminjam itu tidak dosa selama memang tidak ada niat untuk membohongi orang yang telah membantu sembari terus berusaha menutup kekurangan demi kekurangan yang dihadapi. Bila ada pula yang menagih tapi belum ada, minta penangguhan padanya dengan sopan. Kalau dia pun terdesak, cari utang di tempat lain.

Teguran yang diberikan selama masih bisa dilunaskan secepatnya, lunaskan saja. Yakinkan bahwa kamu akan menyelesaikannya pada waktu yang tepat. Kalau memang ada kendala, jelaskan sebaik-baiknya. Tentang masalah dengan pacar atau sahabat, sebaiknya jangan dibesar-besarkan. Tidak ada jalan yang selamanya lurus. Beri ruang untuk saling memperbaiki diri. Jangan menuruti ego untuk sementara waktu agar bisa lebih cepat tenang. Tenggat pekerjaan yang mendesak, kerjakan saja.

Hidup itu mudah bila dilihat secara mudah. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pemikiran bahwa hidup mudah dan memudahkan cara melihatnya. Tapi semua butuh proses, proses butuh waktu. Selama Tuhan masih belum dibuang dari ingatan, insyaallah akan lunas semua masalah. Sungguh tak ada penolong yang lebih baik selain dari Tuhan Yang Pengasih. Terus berdoa dan berusaha. Semoga semuanya akan menjadi lebih baik kelak. Amin.

 

Rawasakti, 10 Agustus 2012

Sumber: Pengkoisme