Nazar Shah Alam

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

Tulisan tersebut terpampang jelas di bungkusan rokok sebagai peringatan akan bahayanya rokok dan kengerian yang dimunculkan oleh tembakau campur tersebut. Aneh sekali yang terjadi menanggapi peringatan ini. Semakin diancam dengan peringatan, semakin ramai pula pengonsumsi rokok di mana-mana, khususnya di Indonesia. Apa sebabnya?

Mengupas tentang rokok tentu saja tidak pernah habis-habisnya. Di satu sisi penelitian terus digencarkan dan kampanye-kampanye anti rokok semakin banyak dilancarkan oleh para orang yang sadar akan bahaya asap dan zat yang terkandung di dalamnya. Namun di sisi yang lain, rokok sudah dianggap sebagai kebutuhan (kalau tidak dianggap dewa) bagi kehidupan. Mereka yang mengonsumsi rokok tetap pada komitmennya—kecuali sebagian perokok yang kemudian berbalik arah (tidak dikata ‘sadar’ karena rokok bukan berupa kesesatan atau kegilaan: setidaknya menurut perokok).

Seorang perokok menyatakan bahwa baginya lebih penting rokok daripada nasi. Wah, ini sudah tahap luar biasa. Tapi, faktanya memang demikian. Bagi seorang perokok, daripada hal lain, rokok adalah yang utama. Begitu dinyatakan tentang kerugian merokok, mereka kerap mengatakan, tidak ada fakta terang yang bisa dibuktikan oleh penelitian tentang bahaya merokok.

Berikut pembelaan demi pembelaan dari para perokok:

Beberapa yang mengaku mati sebab asap rokok—barangkali benar—bolehkah saya katakan lebay? Sebab kalau memang terbukti asap nikotin itu membunuh dengan keji, maka otomatis sebagian besar—kalau tidak dikata semua—perokok pasif di dunia akan mati disebabkan hal demikian juga. Luar biasa sebuah pengakuan sebelum menghembuskan nafas terakhir mereka. Seolah ingin menguatkan bahwa betapa kejamnya rokok dan perokok, dan bahwa merokok sangat merugikan kesehatan sang perokok, bahkan orang-orang di sekelilingnya.

Mengapa orang-orang begitu percaya pada penelitian tentang tidak baiknya rokok untuk kehidupan? Baiklah, rokok adalah racun. Apakah tidak pernah kita sadari betapa racun memang sudah menguasai segala sisi kehidupan? Makanan mana yang tak ada lagi racun di dalamnya? Sayur, diracun. Padi, diracun. Kue-kue, apalagi. Obat-obatan, jangan ditanya. Jadi, mengapa seolah hanya rokok saja yang dianggap racun dan berbahaya bagi kesehatan? Dan jangan pernah mencoba berlaku adil untuk ini: bahwa yang mengandung unsur racun tidak boleh dikonsumsi, sebab bisa-bisa mati kelaparanlah kita.

Penelitian demi penelitian itu sejatinya dilakukan demi mendapatkan satu keuntungan, kadangkala hanya untuk kepentingan tertentu belaka. Apakah ia mutlak benar atau mutlak salah? Tentu ini tergantung penerimaan. Boleh saja dipercaya, namun tentu tidak salah kalau tidak dipercaya sama sekali. Ini bergantung pada bagaimana seseorang menafsirkan penelitian dan pemahamannya sendiri. Bagi seorang perokok, lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Apakah itu salah? Terserah, yang jelas ini masalah kebutuhan semata. Seperti seorang yang tidak bisa datang ke suatu acara karena tidak ada kereta, padahal orang lain bisa menjangkaunya dari jarak yang sama dengan hanya berjalan kaki. Kebiasaan, mungkin, bisa jadi.

Lalu, benarkah rokok merugikan kesehatan? Lihat saja sendiri. Saya menemukan demikian banyak orang di sekeliling saya yang merokok, tapi mereka sehat wal afiat. Kalau dikata bahwa kelak ketika tua akan mendapatkan imbas dari merokok, tanpa merokok pun kalau sudah tua ya sudah (pasti) sakit-sakitan. Namanya saja sudah tua.

Bau nafas: apakah cuma pada perokok saja? Kembali, lihat Anda sendiri, orang terdekat Anda, atau siapa saja yang tidak merokok. Apakah nafas mereka wangi tanpa mengemut permen wangi? Masalah bau nafas (lihat saja iklan obat gigi atau odol untuk lebih jelasnya).

Statement paling santer sekarang adalah perokok tidak akan pernah tua sebab akan mati muda. Seberapa banyak fakta yang ditemukan demikian? Buka mata Anda selebar-lebarnya, bila sakit silakan pakai kacamata. Lihat di sekeliling Anda. Banyak sekali orang tua yang masih teguh menghisap rokoknya, bukan? Lihatlah, mungkin orang tua Anda, kakek Anda, saudara Anda. Tanyakan sejak kapan mereka mulai merokok. Maka statment ‘perokok tidak akan tua sebab akan mati muda’ itu saya rasa perlu sekali dipertimbangkan kembali. Sebab ungkapan itu mendekati kesalahan mutlak. Perokok atau orang yang merokok, sebagian besar perokok dan keluarga perokok masih hidup sampai tua. Mana buktinya bahwa perokok akan mati muda.

Statement itu rasanya semakin salah bila dikaji lebih dalam lagi. Tidak dikatakan di sana‘sebagian besar perokok atau sudah banyak perokok’ tapi hanya menggunakan kata ‘perokok’. Ini rasanya seperti sudah pasti sekali bahwa semua yang merokok akan mati muda. Sekali lagi, lihatlah di sekeliling Anda. Banyak orang tua yang dari muda sudah merokok hingga sekarang masih terus setia mengisapnya tapi masih hidup. Statement yang konyol sekali bagi yang bisa memahami dan mengkaji.

Perokok cenderung cepat marah. Ini mungkin sama dengan orang yang merasa bahwa nasi adalah kebutuhan utama. Orang yang lapar juga cepat marah. Ini masalah kebutuhan yang kurang terpenuhi saja, sebenarnya. Bahkan di sisi yang lain, jika setelah makan yang muncul adalah semacam kelelahan atau kantuk, maka setelah merokok pikiran akan terbuka dan bergairah (tentu saja bagi perokok). Jika ketika makan (yang beradab) tidak bisa melakukan kegiatan apa pun, maka ketika merokok (yang beradab sekalipun) banyak hal yang bisa dikerjakan dan diselesaikan. Ini sebenarnya tidak layak dibandingkan. Tapi beberapa responden dari pihak yang tidak merokok memperbandingkan yang demikian. Dan para perokok menyatakan pembelaan.

Statement paling konyol terakhir adalah ‘padahal kalau uang rokok itu ditabung….’

Para perokok, mari menyorak. Faktanya juga banyak perokok yang punya rumah besar, kaya raya, dan memiliki mobil mewah. Eum, lihat lagi, orang yang tidak merokok apakah semuanya telah sangat kaya raya. Tidak semua. Jadi tidak mutlak kekayaan dan kemiskinan itu disebabkan oleh rokok salah satunya. Barangkali masalah hemat. Mesti diakui bahwa merokok itu salah satu kegiatan pemborosan. Tapi, tak merokok pun demikian. Nah, pada kerisauan ini sebaiknya berdiri pada bagaimana manajemen keuangan yang kita terapkan.

Ah, rasanya cukup sudah membanding-bedakan satu sama lain. Apapun pilihannya semua juga terpulang pada yang melakoninya. Tanpa mengancam seperti di kampanye-kampanye anti rokok, masih maukah Anda demikian?—berpikirlah sejernih-jernihnya. Merokok saja kalau memang mampu dan mau. Kalau tidak, ya tidak usah. Ini kan masalah pilihan? Jadi, sebaiknya jangan saling merendahkan atau menuding saling buruklah. Nikmati saja pilihan itu sendiri-sendiri.

Meskipun sudah dibela, perokok pun mesti sadar bahwa ada tempat di mana boleh mengisap tembakau nikmat itu sepuas-puasnya dan ada tempat dilarang. Kalau memang di kawanan orang-orang tidak merokok, jangan merokok, bisa celaka jadinya. Buanglah puntungan, bungkusan, dan abu kok di asbak yang telah disediakan. Jadilah perokok yang toleran dan budiman.