Nazar Shah Alam

Maka, berjalanlah Pengko, Wak Lah, dan Shakir berpetualang. Sejatinya Pengko hendak menuju ke Palestina demi menjenguk warga muslim di sana. Tentu saja niatnya tak jauh-jauh dari hendak meringankan beban saudara seimannya. Namun itu, mengingat Wak Lah dan Shakir memang belum pernah pun ke luar negeri, bahkan ke luar provinsi, maka Pengko menuruti saja apa yang dikehendaki sahabat-sahabatnya.

Wak Lah ingin mengunjungi negara asal kapal megah Titanic, Inggris Raya. Sedangkan Shakir berkehendak menuju Italia. Alasannya gampang saja, di sana adalah tempat asal sejoli kasih berkasih, Romeo dan Juliet. Inilah yang membuat kedua kawan Pengko dan berbudi bahasa halus tersebut sama. Mereka pemuja cinta.

Walaupun semula mereka sempat bersitegang musabab memperebutkan perempuan bermata lautan, namun pada akhirnya mereka bersatu pula. Halimah tentu tidak terkena penyakit mata yang parah. Mata cantiknya itu sangat tahu mana yang tampan dan mana yang memaksakan dirinya untuk tampan. Ketampanan sejati adalah milik Pengko yang berbudi, sedang ketampanan Shakir adalah ketampanan yang mustahil akan diakui, dan ketampanan Wak Lah adalah ketampanan yang patut dipertanyakan kembali.

Halimah memilih Pengko. Dalam pada ini tentu bukan sebab ketampanannya saja, melainkan pesona yang muncul dari dalam dirinya membuat perempuan bersenyum bulan sabit itu bertekuk lutut. Halimah mengantarkan Pengko dengan derai airmata di Bandara Sultan Akmal Van Roem. Seolah rindu sudah membekap dirinya padahal belum pun Pengko berpaling rupa. Wak Lah dan Shakir melambai ke arah Pengko Cool Fans, sayang sekali, lambaian itu tak digubris. Begitu Pengko berpaling, para fansnya menyanyikan lagu persatuan mereka, sebuah lagu kekaguman pada lelaki bermata teduh itu, berjudul Pengkonesia Raya.

Mereka tiba di bandara internasional Roma pada sore hari. Sungguh celaka, di bandara itu saja Shakir sudah bikin malu. Sangking tak pernah melihat keramaian dan kemegahan bandara itu, matanya melihat dengan liar, sebuah mobil pengangkut barang di sana hampir saja menabraknya.

“O you, hemper you fuck me,” ucap Shakir. Hemper itu sama dengan hampir dan fuck yang dimaksud Shakir adalah pok dalam bahasa Aceh atau tabrak dalam bahasa Indonesia. Pengko tersenyum saja. Mereka kemudian menuju sebuah hotel tak jauh dari lokasi rumah Juliet yang bersejarah. Di hotel, giliran Wak Lah yang buat laku. Begitu masuk kamar mandi, Wak Lah tiba-tiba keluar marah-marah. Kebetulan sedang ada pelayan di sana, dilabraklah pelayan itu.

“You jack to me the hot air? I no like, I people no can minder with hot air. Genter now!” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Aceh, kah jok keulon ie su-um? Lon hana galak, lon ureung jih han jeut mano ngon ie suum. Ganto jino. Atau dalam bahasa Indonesia berarti, kau kasih aku air panas? Aku tidak suka, aku orangnya tidak bisa mandi dengan air panas. Ganti sekarang.

Bahasa yang belepotan.

Sebulan di Eropa, pulanglah mereka. Seperti waktu berangkat, kala pulang pun sudah menanti para fans dan orang-orang terdekat mereka. Pengko masih dengan kerendahan hatinya. Sedang Wak Lah dan Shakir mulai lain tingkahnya. Berpakaian gaya luar negeri, memakai jaket tebal berbulu anjing andora, padahal jelas di sini tidak sedang musim dingin.

Mereka berbicara dengan gaya keinggrisan. Dan manakala sudah tiba pada perbandingan-perbandingan, mereka kerap mengatakan Eropa is Well. Benarkah Eropa lebih segala-galanya dari negeri kita? Tentu saja tidak. Perasaan yang timbul dan melihat Eropa lebih itu adalah musabab kebutaan hati dalam melihat negeri sendiri.

Bayangkan saja masalah biaya hidup. Di Aceh tidak ada yang tidur di bawah jembatan. Di sini hidup jauh lebih murah daripada di luar sana. Buktinya orang-orang Aceh tak ada yang mati kelaparan. Tapi bagi Shakir dan Wak Lah, Eropa is Well. Gaya bicaranya, tingkah polahnya, baju yang dikenakannya, gaya rambutnya, semua mencontoh style Eropa. Mereka terkena virus shock culture. Latah budaya.

Sedang di sisi lain, Pengko tetap pada kesederhanaan pikirannya dan bila ditanya perbandingan negeri ini dengan Eropa akan kerap berkata, Aceh is everything.