Nazar Shah Alam

Kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana membesarkan namamu atau namaku. Kita tidak perlu itu. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana meraih kemenangan dengan cara sebaik-baiknya, setenang-tenangnya. Untuk kita, untuk mereka, untuk para yang selama ini kita sayangkan sebab selalu tak diberi kesempatan.

Kita sedang membuat perhitungan tentang jumlah bambu yang akan kita gunakan sebagai pilar jembatan batang kelapa. Dan membuat jembatan sekokoh-kokohnya, semanfaat-manfaatnya. Tidak ada yang dirugikan bila dikalahkan oleh orang sendiri dan semua akan diuntungkan bila yang mengalahkan itu menjadi pemenang pada akhirnya. Tentu akan ada yang menilai. Tapi, tahu apa para yang menilai itu tentang perencanaan yang telah kita sepakati?

Kita tidak pernah berperang di sini. Semua demi kebaikan bersama. Semua demi keuntungan sebagian besar mereka yang tidak pernah tahu bahwa kita kini terseok-seok mengangkut air dalam dua bejana besar yang disangkutkan pada tali di ujung sepotong kayu pikul juga untuk mereka minum. Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah menjadi egois pada saat air yang sedang kita angkut itu tiba di puncak gunung.

Kita sedang mencari format terbaik dalam mendaki gunung. Perjuangan yang berat sebab bekal bahkan ludes atau kita mungkin lupa membawa? Jalan masih sangat jauh. Ingat, bukan hanya untuk kita hari ini. Tapi juga untuk pengungsi yang mengais-ngais keberuntungan di tanah gersang sebab terlalu banyak tanah potensial yang sudah digarap oleh para tua dan para pendahulunya. Air dari kita mungkin bisa berguna untuk tanaman, tanah, atau mungkin juga untuk mandi, mencuci pakaian, minum, atau bersuci.

Kita akan bahagia dengan tujuan ini, percayalah! Tidak ada yang alpa ditulis Tuhan dalam catatan-Nya. Berniatlah sebaik-baiknya dan dapatkan binar bahagia tatkala melihat para petani itu bersukacita menerima pembagian air dengan takaran seadil-adilnya. Dapatkan kebaikan pada perjalanan ini kelak. Maka gegaslah, bersemangatlah. Ini masa kita.

Rawasakti, 30/7/2012