(Bersama Ena)

Nazar Shah Alam

ceritakan padaku tentang kesempatan, pintamu

aku kemudian diam saja dan

di hati kukata bahwa sedang kulipat waktu agar lekas kita satu

kita tidak berbicara lagi beberapa saat: kau merajuk, aku merajuk

 

beberapa waktu lalu kita selalu punya waktu minum teh sore hari, katamu

berdua saja: sambil menikmati lugas cahaya sisa matahari di langit barat

aku tak lagi mau memberi alasan apa-apa

sebab selalu saja sama dengan yang dulu dan yang dulunya lagi

kau merajuk, menghempas diri di dipan kamar dan diam

 

aku terus saja berlaku sama

mengambil beberapa potong waktu yang jauh dan mendekatkannya

mencuri dan memasukkan beberapa jam ke saku yang

manakala orang menunggu untuk tiba, aku malah berani sekali mengejarnya

waktu itu terseok-seok berlari

aku terus menjadi tirani dan hendak membunuhnya

beruntung saja mite tentang matahari yang bersemi di kampung kita itu rasanya benar

ia akan pulang lebih cepat sekarang

di satu sisi aku senang sebab akan gegas pula harapan tergenggam

di sisi lain risau mencabik ketenanganku, jangan-jangan ada yang lewat dan aku tak tahu

 

tersenyumlah tatkala kau tahu bahwa sebagian besar niscaya sudah kusentuh

bila ia cepat berpinak, cepatlah kita memungut harap yang selama ini berserak

mengumpulkan dan menjadikan ia gula untuk teh saban sore di depan rumah

dan sore-sore lainnya akan terus seperti sore itu: tentunya tak akan ubah lagi

 

katakan padaku tentang perhatian, paksamu

aku diam saja dan terus melipat kala dengan caraku sendiri

kadangkala aku marah bila paksaan itu kelewatan dan mengganggu

aku sedang bergerak menujumu!

 

katakan padaku tentang cinta dan pengertian, ucapku di hati

semua telah ada padamu

aku tak berharap apa-apa lagi, jawabku pada diriku sendiri di sini

 

Rawasakti. 29/7/2012