Dia pasti sudah lupa tentang gambar tersebut. Atau barangkali semua yang terjadi pada masa lalu baginya amsal daun jambu depan rumah singgahnya yang pelan-pelan menua, lalu jatuh, lalu hilang tertutup daun lain beribu-ribu.

Aku memandang foto tua yang kemarin pagi kucuri dari pemiliknya, maksudku, aku mengambilnya dari akun jejaring sosial perempuan itu tanpa minta izin. Di foto itu terlihat dua bola ping pong hitam sedikit ditutup layer editan semacam asap tipis menantangku dengan Tanya dan mulutnya dimajukan dengan ukuran sepantas-pantasnya. Selain wajah, selebihnya hanya putih. Aku yang mengerjakan editan itu dulu.

Malam ini adalah satu malam setelah pertemuan kami sejak berpisah bertahun-tahun lamanya. Dan itu pun malam terakhir untuk hingga yang entah. Sulit sekali membersihkan beberapa pigura kenangan yang tercecer akibat terlalu lama terbiar begitu saja. Aku tidak berniat menjenguknya. Tapi baju hijau tosca yang dipakainya itu justru malah mengganggu dan bikin aku ingin menjenguk keadaannya di masa lalu. Bukan karena sesuatu yang lebih, hanya saja pikiranku terlalu semak dengan warna kesukaannya pada masa sebelum berpisah: biru muda. Dia sudah tak lagi akrab dengan warna itukah? Sudahlah, dia punya mata yang cantik sekali untuk melihat jutaan warna, bukan cuma biru muda bermain di matanya. Mungkin pikiranku saja yang memilih untuk hanya mengingat satu warna dan stagnan: biru muda—kesukaannya dulu.

Petang turun dengan santun dalam sirine dari masjid-masjid mengaum, bahana dan semarak betul. Bukankah di sini ada beduk? Sudahlah, tak perlu membanding itu.

Ridlalia Binti Dato Seri Kaltsum yang berwajah manis itu datang sedikit terlambat. Mungkin sebab pesawat atau mobil yang mengantarkan dia kesini berjalan agak lambat. Beruntung saja dia sempat tiba sebelum had boleh mencicipi hidangan buka puasa. Bergetar hatiku melihatnya dalam pada ini. Beda sekali ia sudah. Lebih manis dan teduh. Dia tersenyum dari jauh, kuanggap saja padaku. Ah, Ridlalia, selamat tiba lagi di kampung marutku.

Dalam pertemuan ini kami tidak duduk berdekatan—sejatinya dulu juga demikian—tapi ini lebih kepada karena ruang saja. Padahal kalau saja dia datang ke dekatku, ingin kukata padanya bahwa kampung yang kami singgahi pada tahun-tahun yang sudah mati itu masih tetap saja sama. Ada banyak kampung kecil lain di dalamnya. Ingin rasa kupanggil dia berakrab, agar kukisahkan lagi segenap kambuh ketaksukaan yang melanda batinku demikian hebat. Tapi urung oleh sesuatu sebab yang entah.

Kali ini tidak akan ada lagi cerita tentang anak muda yang tidak mau melihat budayanya dan menggantinya dengan budaya baru yang sama sekali tak menyentuh adatnya. Kami akan bertukar keluh dengan serius tentang bilik-bilik penyebab risau lainnya. Kadangkala kerisauan muncul membuat ketaktenangan yang rumit. Ini semakin tidak asyik.

Malam terlalu singkat untuk sekedar duduk rehat selama bulan rahmat, hari-hari menjadi seperti jentera untuk gunjing atau sekedar membicarakan kerisauan yang diciptakan orang lain. Kerisauan. Apakah berbicara tentang ketakutan tertentu demi jaga-jaga juga terhitung umpatan? Mungkin tidak. Tapi bila iya, tentunya akan merugi jadinya. Maka sebaiknya tidak berbicara saja pada siang harinya.

Ingin sekali padahal kusampaikan padanya bahwa aku membenci kampung ini oleh sebab kampung-kampung yang dicipta kelewat banyak dan keterlaluan sekali membuat perlebih-kurangan masing-masing dengan yang lain. Padahal dalam satu kali duduk telah kujelaskan, silakan punya pendapat yang berbeda tapi jangan sampai menjadi pemicu retaknya hubungan antar kepala rumah tangga. Mereka mengindahkan itu sementara, kemudian retak lagi. Tak tahu hendak kumisal pada apa.

Ridlalia tersenyum sebelum berpisah denganku. Sangat teduh. Aku memandang gambarnya malam ini sangat lama. Foto dengan laku seolah hendak bertanya,”apa sebab muncul kampung kecil itu, Pakcik?”

Tentu kalau itu ditanya aku akan gagu. Beruntung tak jadi saling berkisah, dan mala mini, dalam keadaan ini, aku berharap lagi ada senyum muncul di balik asap tipis putih itu. Tapi gambar tidak akan pernah berubah pun diharap dan didoa. Orang kampung ini pun kukira demikian juga.

Rawasakti, 27/7/2012