(Balada Perlawanan)

Nazar Shah Alam

Penjajahan ternista adalah diam seribu basa dan tak bergeming

Seolah bisu: seolah tuli: seolah buta

Perlawanan terbaik adalah dengan tidak membalas secara nyata

Goresan durja: pekik memekak: serombongan celaka menyorak

 

Selemah-lemahnya, kata lelaki yang duduk lunglai dan berwajah bodoh

Tapi ampuh sekali, bantah seorang yang kakinya diletakkan di kursi

Suara-suara saling timpal dan

Kita memutuskan untuk bikin perlawanan

 

Kuasai ladang jagung pertama-tama dengan santun sesantun-santunya

Dan petiklah hasil suatu kali dan bagikan kepada tetangga

Lupakan tentang keuntungan: hasil panen yang melimpah: uang yang meruah basah

Atau sedikit genit: janjikan rumah untuk hamba dhaif

 

Serupa sebuah politik yang kotor: hanya menjanjikan saja kemudian setengah ditepati

Itu sudah biasa sekali, bukan?

 

Usah risau tentang jagung yang tak bisa dipetik laba sebab terlalu banyak disumbangkan

Bahkan tiada sisa sama sekali untuk sekedar dinikmati pada musim hujan

Sebab pada musim setelahnya, orang-orang yang disumbangkan akan ria bekerja sama

Meladanglah seluas-luasnya, sepuas-puasnya

Orang-orang itu akan mengetuk cadas: melawan malas: membunuh hama buas

 

Politik kita adalah jagung-jagung pertama yang sudah direncanakan

Dan diam, tentu saja

Dan menguasai ladang itu dengan tabiat yang baik tanpa menyakiti

Sebab pengkhianatan kerap ada bilamana sudah tak lagi hadir sebuah kesamaan untung laba

Maka bagi saja bagian besar pertama-tama

Kemudian berlicik-liciklah

 

Pada jalan apabila ada yang menyorak sebab tiada mendapat jagung

dan berkata kita menggunakan dukun pada ladang yang dibantu orang kampung

diamlah!

Sebab diam adalah penjajahan paling keji dan kejam

Susupkan pelan-pelan ujung rincong ke perut pencaci

Cium dahinya dan tersenyumlah bersama menanti lawan mati

 

Rawasakti, 9.28. 17 Juli 2012