Nazar Shah Alam

Deknong, bermimpilah sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, selayak-layaknya, dan sepatut-patutnya. Kita hanyalah sederhana. Usah terlalu berpikir tentang pekerjaan dari apa yang akan kau pilih hari ini, kelak kau akan tahu bagaimana hidup.

Semoga adik perempuanku mendapatkan hidayah dari Allah agar tidak pernah berharap lagi menjadi dokter. Sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya orang tuaku bila-bila ia jadi kuliah di sana pada tiap bulan tatkala ia meminta uang SPP. Belum lagi kelak akan berpikir biaya hidupnya dan tempat tinggal yang layak untuknya. Barangkali kami bisa saling bahu membahu dalam mewujudkan cita-citanya, namun seberapa kuasa kami yang rata-rata orang sederhana—kalau tidak dikata miskin—ini bisa terus membantu ia. Sungguh pelik pada akhirnya.

Kuliah di jurusan kedokteran untuk tahun ajaran 2012 pada pertama-tama mesti membayar lebih kurang 4 jutaan demi keperluan ini itu untuk jalur reguler. Kalau tidak lulus di reguler dan mesti mengambil jalur mandiri, kami mesti membayar 105 juta sekian. Alamak. Matilah kami memikirkan itu. Sudahlah, Deknong, jangan bermimpi lagi menjadi dokter.

Apakah ini penjajahan terhadap kami yang hidup seadanya ini di bidang pendidikan? Apakah kami tidak pernah boleh lagi menjadi dokter? Atau bidang kedokteran hanya boleh dihuni oleh orang-orang berada saja? Terserahlah. Yang pasti untuk menjadi dokter kami sudah tak lagi kuasa walau hanya sekedar memimpikannya. Tidak pula kami menganggap ini suatu penjajahan, tapi ini suatu pelajaran bagi kami bahwa untuk menjadi dokter yang diperlukan adalah kekayaan orang tua. Itu pertama-tama.

Kalau kemudian ada yang berkata bahwa kalau mimpi sudah digantung dan dikejar dengan sungguh-sungguh maka akan terbuka jalan untuk mendapatkannya, untuk ini janganlah terlalu Deknong percaya. Abang sangsi pada petuah itu dalam pada ini. Apa bisa kau bayangkan bagaimana orang tua kita kelimpungan berpikir uang puluhan bahkan ratusan juta itu? Apa begitu tamat sekolah kau bisa mencari uang sebanyak itu? Kalau berani menjamin, silakan saja. Tapi silakan tanya pada semua yang sudah di sana, apakah di muka mereka membayar sendiri uang kuliah mereka? Rasanya 99,99% abang yakin semua ditanggung orang tuanya. Kecuali orang-orang yang sudah merencakan di awal, yang lain reratanya mesti menjual harta mereka demi cita-cita mahal anaknya.

Tidak ada yang bisa menjamin masa depan sekali pun ia orang hebat. Masa depan adalah rahasia yang hanya akan terungkap pada masanya. Jadi, jangan pernah dengar kata orang bahwa ke depan kuliah di tempat tertentu tidak menjanjikan prospek pekerjaan ke depan.

Tentang peluang kerja, Deknong, hanya orang bodoh dan malas saja yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan setelah kuliah. Orang-orang yang berharap pada pemerintah, mungkin salah satu di antaranya. Terlalu banyak orang yang kuliah di tempat-tempat menjanjikan kemudian menjadi pengangguran, kan? Bahkan yang dikatakan kuliah di tempat yang prospek pekerjaannya kecil sekarang sudah menjadi orang-orang hebat dan mandiri. Jadi, jangan pernah takut kuliah di mana yang kau sukai, tentu saja usul abang selain dari jurusan mahal itu.

Baiklah, abang punya ide, daripada kau mesti memilih jalur Mandiri untuk sekedar menjadi dokter, kita ambil saja uangnya untuk modal usaha. Misal kita jualan baju saja. Empat tahun kemudian kita sudah menjadi orang kaya. Kata orang berdagang mesti siap-siap untuk rugi, ya kuliah juga belum tentu juga akan menguntungkan. Apalagi berpikir masalah akreditasi tempat kuliah yang lumayan tertinggal, kualitas, kuantitas, fasilitas, semua tidak jelas. Mau jadi dokter macam apa kau nanti? Mengandalkan insting? Jadi dukun saja. hahahahha

Prospek, apa yang bisa diandalkan dengan iming-iming memakai baju putih itu? Setelah wisuda kamu juga tidak langsung disodorkan pekerjaan, mesti menunggu pemerintah bermurah hati atau nasib berlaku baik atasmu. Bila salah satunya tidak ada, celaka lagi, kau akan jadi pengangguran untuk beberapa waktu atau mungkin kau hanya akan bisa memandang potretmu yang sedang memakai toga.

Kita orang sederhana, Deknong. Bermimpilah dengan mimpi yang tak terlalu muluk. Kalau jadi seperti yang abang bilang bahwa kita ambil uang masuk ratusan juta itu untuk modal usaha baju, kita akan lebih dulu naik mobil yang kita beli dengan uang sendiri, tanpa mengandalkan kehebatan orang tua lagi. Daripada kuliah, selama empat tahun, setidaknya, kau akan menyusahkan orang tua kita saja. Biarlah orang-orang yang orang tuanya kaya saja yang kuliah di sana. Nanti kita berobat pada mereka saja. Lagi pun kalau toko baju kita maju dan kita sudah kaya raya, tentu uang untuk obat itu tidak terlalu perlu kita risaukan.

Maka, sekali lagi adikku, bermimpilah sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, selayak-layaknya, dan sepatut-patutnya. Mimpi menjadi orang kaya yang baik dan mendapat kehidupan layak sehingga patut disandingkan dengan orang lainnya. Kelak kalau kita sudah kaya kita akan bisa menyekolahkan anak kita di sana, jadi dokter ia. Tapi kalau bagi abang, daripada menyekolahkan dia jadi dokter, mending di tempat-tempat yang tak terlalu mahal saja. Dia akan hidup kaya juga kalau punya keterampilan.

Baiklah, kalau memang kamu sangat ingin juga kuliah, abang aminkan. Bagaimana kalau kuliah di tempat yang lebih murah saja? Walaupun nanti gajimu sedikit, setidaknya kau juga bisa ikut antri bersama orang-orang yang berharap pemerintah bermurah hati membuka peluang kerja demi mengenakan seragam keberhasilan semu. Syukur kalau nanti kau bisa kerja pada pagi sampai siang atau sore saja. Daripada jadi dokter mesti kerja 24 jam, tanggung jawabnya lebih berat daripada orang-orang seperti abang, pekerja bangunan.

Deknong, bermimpilah sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, selayak-layaknya, dan sepatut-patutnya. Kita hanyalah sederhana. Usah terlalu berpikir tentang pekerjaan dari apa yang akan kau pilih hari ini, kelak kau akan tahu bagaimana hidup.