Tersebutlah Pawang Lah yang sudah lama menduda kembali jatuh cinta kepada seorang dara. Entah suatu kebetulan atau memang sudah begitu takdir Tuhan, nama gadis itu sama pula dengan nama anaknya, Ramlah. Pawang Lah tentu tidak pernah mau ambil pusing dengan kesamaan itu. Namanya saja cinta, mana pula bisa terbantah hanya dengan kebetulan-kebetulan yang tidak terlalu berpengaruh.

Berhari-hari Pawang Lah merindu bayang perempuan kota yang beberapa hari lalu sempat menginap beberapa malam di Kuta Ganteng itu. Dia memang luar biasa. Rambutnya halus bergerai yang manakala matahari jatuh di sana nampaklah ia sebagai sutra, berkilau-kilau, menyilau mata. Tatkala Ramlah tersenyum, bibir basahnya membentuk buntal permata merah jambu dilipur minyak wijen. Berkilau dan lembab. Pawang Lah merindu dengan sangat hebatnya.

Sore yang dingin selepas hujan pulang ke haluan yang entah, datanglah Pawang Lah dengan pakaian sopan ke rumah Ramlah. Baju teluk belanga, kain songket melilit pinggang sampai lututnya, celana hitam macam pengantin, dan tentu tak lupa pula dipakainya tengkuluk seperti orang melayu. Maka yang nampak adalah penampilan orang kerajaan pada lakunya. Dia begitu gagah.

Di halaman rumah Ramlah telah duduk seorang lelaki berbaju rapi. Dari gayanya ia adalah orang kota yang juga tamu di sana. Pawang Lah segera masuk dan memberi salam dengan takzim.  Ramlah keluar dengan talam di tangan. Ada dua gelas berisi air warna merah. Celaka, degup hati Pawang Lah tak bisa lagi tertahan, dadanya gemuruh. Makin lama makin kuat saja letupan hati itu. Maka selayak seorang anak muda yang masih putik, ia merengkuh tangan Ramlah. Gadis itu terbelalak. Aku cinta kamu, ucap Pawang Lah. Ramlah tersenyum. Oh, matanya yang sesaat saja menatap lelaki paruh baya itu benar-benar bersinar. Binar yang muncul dari dua bola itu menjelma menjadi bohlam hijau yang menghadirkan gelora rasa.

Pawang berhasrat mendengar suara Ramlah. Ia yakin sekali akan mendengar kabar terbaik. Sebab senyum gadis teriring sipu adalah tanda dianya mau. Dua ruas bibir yang menutup ceruk mulut itu pun terbuka pelan. Maafkan aku, Pawang. Ini suamiku, ucap Ramlah. Mendentam petir di telinga lelaki tua itu. Pawang Lah gagap. Beku ia di tempatnya berdiri. Hujan turun seiring air mata Pawang Lah. Tanpa menunggu lama ia pun lari menyusup ke dalam hujan. Pawang Lah terus menangis sepanjang perjalanan. Dirasanya bagai sudah tidak ada apa-apa lagi di sekelilingnya.

Setelah kejadian itu Pawang Lah lebih banyak menyendiri. Baginya, sisa hidupnya sudah tidak ada lagi. Ia tidak mau makan dan minum. Badannya makin kurus, mukanya makin tirus. Kabar itu cepat menyebar ke seluruh pelosok Kuta Ganteng. Dari sekian banyak orang yang datang, Pawang Lah tak lagi mengenal seorang pun. Yang muncul dari mulutnya hanyalah kalimat, aku ingin bunuh diri. Itu saja. Begitu hebat pengaruh patah hatinya terhadap Ramlah.

Wak Lah datang dengan perasaan haru. Sudah kukata, sebaiknya kamu menikahi janda saja. Aku yang bujang saja tidak berharap lagi pada gadis, mereka tidak berpengalaman untuk mengurusku, apalagi kamu yang tua dan duda. Begitu kata Wak Lah setiba di sana. Memang benar, Wak Lah pernah mengajak Pawang Lah untuk mencintai janda saja sepertinya. Namun apa boleh dikata, cinta ternyata memilih jalannya sendiri. Dan selera memang tidak bisa ditulari. Pawang Lah lebih memilih menyukai gadis. Dulu juga seperti itu, dia menyukai Merah, gadis kota yang menawan. Tapi kejadiannya tak jauh beda dari Ramlah, Pawang ditolak mentah-mentah.

Wak Lah yang kehabisan cara mengajak Pawang Lah bicara akhirnya punya ide. Ia menghidupkan lagu My Hearth Will Go On, lagunya film Titanic. Instrumen lagu itu mencipatakan gemuruh di hati Pawang Lah. Siapa sangka Pawang Lah rupanya tak mampu menahan gejolak cintanya. Ia bergegas berlari ke dalam hujan di luar. Dengan lantang diteriakkan nama Ramlah. Sangat keras dan menyayat. Tiga kali dipanggilnya Ramlah. Wak Lah berlari dengan perasaan haru. Ia meneteskan air mata. Pawang Lah menatap langit dan sekali lagi, RAMLAAAAAAAHH.

Pawang Lah rubuh. Petang hitam di matanya, kemudian tidak lagi nampak apa-apa.