(Kepada Afzhal Putra Armi dan Iqbal Gubey)

Nazar Shah Alam

Pagi hari tadi kutemukan dua lebah masuk ke telinga dan sangat mengganggu

Dengungnya sampai kepada riba nadi

Alir di sela darah dan menampi seluruh urat di sana

Celaka, aku belum bangun dalam keadaan sebaik-baiknya

 

Dengung itu benar-benar menjadi ledakan di otakku

Aku tidak bisa bangun lagi beberapa jenak

Lalu aku hanya bisa menanti kedua lebah itu keluar dan otakku jadi sedia kala

Selebihnya hanya harap tertangguh di plafon rumah singgah

Tak sampai ke Tuhan

 

Ingatlah, hanya beberapa detik selang lagi kau akan berhadapan dengan kemungkinan terburuk

Bahwa kurun bertahun kau dibanggakan, itu sudah tidak perlu

Bahwa usai lekas membuat bahana tepuk dada, sudah lupakan

Risaukan yang lain saja

Yang di depan ada satu ruang kemungkinan akan membalik itu semua

Aku tak tahu namanya apa

Yang pasti segeralah ke sana

 

Aku tak pernah sangsi pada dengungan kalian di peluk ceruk lain

Tentu saja kalian bisa lebih kuasa di sana

Ada yang cemas pada masa laku kalian di ruang kosong itu

Ingatlah bahwa hidup bukan dipandang

Tapi dijelang

Maka berlarilah dan jangan pernah duduk diam di telingaku

Semakin bising saja semua

Berlarilah dan berdengung dengan hebat paling hebat

Sudah kulepas: terbanglah

Aku hendak menyambung tidur beberapa jenak lagi saja