Karya Nazar Shah Alam

Nyanban, ucap Wak Lah setelah lama sekali ia berdiri di depan kaca besar rumahnya. Ia benar-benar sedang merasa tampan. Dan dengan keyakinan ini ia hendak segera kembali ke kota Mandaceh. Di sana ia hendak bertemu dengan Halimah, sang bunga Universitas Shah Alam dan perawat muda nan cantik di Rumah Sakit Shah Alam. Meskipun sudah jelas dilihatnya Halimah dilanda cinta yang hebat kepada Pengko, ia tetap yakin akan mengarung ke pulau hati gadis itu. Tentu tidak masalah sebagai lelaki mencoba untuk mengungkapkan cintanya, namun apakah ia tidak berkaca bagaimana perbedaan wajah mereka?

Sudahlah, keyakinan sudah melanda seluruh relung hati lelaki itu. Bilapun selama ini ia sangat menyukai janda, kali ini ia hendak melupakannya. Bak biduk berbalik laju, bak lebah menalak madu, Wak Lah melupakan ideologinya tentang janda yang selama ini ia pegang teguh. Ia sama sekali tidak peduli pada apa-apa yang pernah diucapkannya. Baginya, meskipun Halimah terlalu muda, ia tetap hendak sekali memperistri sang dara.

Malam Jumat datang dalam keadaan paling sendu, Kuta Ganteng demikian bisu. Memang, manakala Pengko masih di sana bertahun-tahun lalu, kerap terdengar bunyi dalae (dalail khairat) menggema talu bertalu. Atau pada malam-malam lainnya, dari balai kaji terdengar anak muda larut dalam bacaan kitabnya. Sebulan sekali ada semacam persahabatan balai kaji, biasanya ada tadarusan seperti saling unjuk kebolehan di antara santri-santri terpilih kedua balai kaji.

Namun tentu jangan berharap bahwa hari ini masih ada hal-hal seperti itu. Sayang sekali, kebiasaan itu sudah mati sama sekali. Tinggallah pada malam Jumat seperti ini beberapa orang pikun belajar ilmu tauhid pada seorang Teungku. Tidak ada lagi suara-suara anak muda melantunkan asma Ilahi.

Wak Lah naik L-300. Tujuannya jelas, rumah Pengko yang sebesar istana raja-raja. Selama di mobil yang paling banyak menyita ingatannya adalah wajah Halimah. Selalu seperti itu. Dia duduk tersipu-sipu membayangkan senyum bulan sabit perempuan itu, dia lelap termimpi pula sang gadis bermata lautan siang hari. Wak Lah tak bisa menutup matanya lama-lama. Pertemuan sebentar pada setelah melihat baliho telah banyak mengubah lakunya.

Di hadapan istana sang rupawan sesaat sebelum subuh Wak Lah sudah berdiri. Tak enak hati hendak memencet bel. Maka ia duduk saja di depar pagar mewah di sana. Beberapa saat kemudian Pengko keluar. Dari pakaiannya jelas ia hendak menuju masjid untuk shalat berjamaah. Itu memang kebiasaannya sejak dulu. Maka tak heran kalau wajahnya berseri selalu.

Mengapa tidak masuk, Wak Lah, tanya Pengko sembari tersenyum. Wak Lah mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya tanda tidak setuju. Pengko heran. Tapi cepat Wak Lah bergegas ke dalam. Pengko tidak mau ketinggalan jamaah hanya demi mengejar kepenasaranannya pada mengapa Wak Lah menggelengkan jari telunjuknya.

Ketika sedang minum kopi pagi, datanglah seorang berpakaian necis warna Jingga ke rumah itu. Wak Lah memalingkan mukanya tanda kurang suka. Shakir duduk di sofa asal saja. Gayanya dibuat-buat serupa sedang disorot kamera. Gaya bicaranya juga seolah makin menjadi-jadi. Hari ini memang tepat sekali tujuan Wak Lah, di rumah itu pada tiap Sabtu akan kedatangan Halimah.

Dan yang dinanti pun tiba. Jam dinding mewah rumah Pengko menunjukkan angka sembilan. Pengko sedang di luar menyiram bunga. Ia menyambut Halimah dengan raut yang biasa. Gadis itu masuk begitu saja. Di ruang tamu didapatkannya dua lelaki dengan gaya yang berbeda. Shakir tetap dengan kejinggaannya, sedang Wak Lah mengenakan baju kemeja berwarna biru tua dengan garis-garis benang emas dan dua kancing bagian atasnya terbuka, persis gaya anak muda tahun 80-an. Rambutnya yang panjang ke belakang disisir sangat rapi. Janggutnya yang liar dibiarkan begitu saja tanpa basa basi.

Pengko masuk. Halimah memandang lelaki rupawan itu dengan pandangan penuh tanya. Shakir dengan sigap bangun dan menjulurkan tangannya. King Shakir, ucapnya mengenalkan diri kepada Halimah. Gadis itu melirik Pengko. Setelah mendapat isyarat, Halimah pun memperkenalkan dirinya. Tangan mereka berjabat sekian waktu. Wak Lah seperti kesal.

Tak mau kalah, Wak Lah juga bangun dari duduknya. Hatinya gemuruh, lututnya bergetar. Celana A. Rafiq yang dikenakannya terlihat bergoyang. Dia mengajukan tangannya dengan pelan sekali. Halimah memperkenalkan diri. Siapa nyana, rupanya Wak Lah juga sudah menyiapkan nama samarannya. Perkenalkan, nama saya Lah Rukh Khan!

Halimah tersenyum geli. Pengko menatap Wak Lah geli. Wak Lah menarik tangannya dan mengusap rambutnya dengan gaya sekali. Hamba tidak memiliki mobil, tapi hamba pikir daripada punya mobil pemadam kebakaran, ada baiknya hamba naik sepeda usang, ujar Wak Lah. Ini jelas menyinggung Shakir. Celaka, Shakir bangun dan menunjukkan jari tengah ke muka Wak Lah dengan raut menantang. Wak Lah diam saja. Bukan sebab tidak terpancing, tapi ia tidak tahu arti ajungan jari tengah itu. Untung saja.