Bila cinta adalah lautan dan hati kita yang bersatu itu adalah sekoci, maka mari pegang kayuhannya. Kita akan membelah laut di tengah malam. Lupakan bahwa di langit hanya ada bulan sabit tak begitu kuning mengangkang dengan garangnya. Bukankah sudah kita hafal gelombang dan riak laut menghitam sebab bulan tiada mampu menusuk sinarnya bahkan hingga sekoci kita?

Berjanjilah terus memegang pada kayuhan. Atau jika kelak ia patah, kita akan mengayuhnya bersama dengan tangan yang lemah. Laut demikian luas, sayangku. Dan tuju belum pun setengah di jalani. Badai semalam sempat menghentak sekoci beberapa gelombang ke belakang. Bintik hujan senjanya adalah celaka dan menggigilkan badan kita. Apakah kita dingin? Kau terlalu cepat mengirim sabit ke bibirmu, lalu mengangguk manja. Serta merta kuangkat kayuhanku. Kuletakkan begitu saja dan kupeluk engkau, kekasihku.

Selalu saja ada yang menerjang di bawah sekoci ini. Bibirmu terus mengikut lagak bulan, sabit dan basah. Matamu penuh binar. Masih adakah bekal kita? Kau menggeleng. Kita sepakat menikmati cinta sebagai semangat. Apakah itu cukup? Kau mengangguk. Terus mengayuh. Kita tidak pernah menemukan kata sepakat untuk sekejap berlabuh. Matamu melebihi bulan sinarnya. Senyummu mengenyangkan kelana kita. Sudahlah, berhenti tersenyum dan kita istarah saja. Kau malah tertawa. Aku menyukai tawamu dengan suka paling suka. Makan kucopot beberapa berkas manakala kau berpaling ke arah lain. Aku menyimpannya di satu kolong hatiku.

Untuk apa terus menerus mengayuh? Pulau yang kau kubawa adalah pulau tiada pun suatu apa. Tak ada kepastian di sana. Aku senang kau curi, katamu. Aku mengernyitkan dahi. Kau mengusap mukaku yang kering dengan pelan sekali, menusuk sedikit jari ke sudut mataku dan mencongkel tahinya. Tahi mataku yang semat di tanganmu kau jentikkan ke laut. Lalu kau tanya, sudah mandi, sayangku?

Untuk apa mandi. Toh besok aku akan bekerja keras lagi, mengayuh sekoci kita di bawah matahari perkasa. Aku akan kering lagi. Laut melempar garam yang bila kelak bisa dikumpulkan dari muka dan badanku, kurasa akan berjumlah beberapa kilogram. Siang hari kau mesti sembunyi di dalam dadaku. Aku takut akan lanun yang bisa jadi suatu waktu lintas pula di sini. Mereka buas dan jahil sekali. Aku tidak sedia memberimu untuk mereka. Biar aku saja yang mati. Atau biar saja mereka ambil baju dan celanaku, karena aku hanya memiliki itu. Jangan berontak di dadaku tatkala lanun yang mungkin tiba itu menyakitiku. Aku akan mengamankanmu terlebih dahulu.

Tidurlah sepanjang hari, sayangku. Aku tidak akan. Dan tidak akan hingga malam lagi dan pagi lagi. Aku akan terus membuka mata dan tidak akan mengizinkanmu mengayuh sendiri sekoci kita. Aku tahu kau tidak pernah tega membiarkanku mengayuh sendiri. Tapi, siang hari jangan pernah keluar. Selain lanun, ada pula matahari yang akan merusak kulitmu. Tidur dan berbaring saja di hatiku. Bila lapar, copot saja cinta kita sedikit lalu masak ia sesuai keinginanmu. Aku tidak keberatan.

Siang nanti mungkin aku sudah melihat pulau tuju, sayangku. Dan bila sudah nampak, kau akan kubangunkan. Kita akan kesana. Ada tiga bocah menunggu. Nanti ambil mereka dan sembunyikan dalam rahimmu. Bila kita sudah senang, keluarkan lagi mereka dalam bentuk bayi. Bukankah pulau itu sangat indah untuk kita duduki? Maka malam ini, terus mengayuh, sayangku. Terus gerakkan tanganmu. Jangan lupa tersenyum.