Baliho

Sebuah Catatan Nazar Shah Alam

Seperti menjenguk kembali musim-musim tawa: angin lembut belakang gedung AAC, menanti hadangan gedung gagah itu terhadap pongah matahari sore, latihan vokal, ah, sebagainya. Hanya saja sesuatu yang diulang itu tidak murni seperti sesuatu yang pernah terjadi. Kita tidak lagi mendapati orang yang sama untuk dicandai dengan candaan yang sama dan selalu renyah. Kita mendapatkan beberapa kelainan. Aku tidak sepenuhnya menikmati ini di awal.

Bahwa suatu pagi Azmi datang dengan muka terenyuh, mengadu tentang keadaan yang baru. Bagiku itu kebiasaan purba, maksudku purba dan terus berkembang di sana. Pagi itu kuharap dia sadar, bahwa aku pergi dari sana, kemudian memutuskan untuk tidak lagi mengusung nama itu sebagai identitasku, adalah disebabkan oleh hal yang sama. Sudahlah, kata Toke W Eda, laki-laki nggak boleh bergosip. Lupakan saja tentang itu. Kita sudah jelas pergi, jangan pernah ada luka dan cerita buruk lagi. Pagi itu telah pula disepakati, semoga yang ditinggal menjadi sangat baik dan sangat baik.

Kupanggil kembali kalian, wahai yang pernah melawat musim tawa. Azmi bilang bahwa kalian adalah orang-orang matang. Aku tidak pernah meragukan itu. Sama sekali tidak. Aku percaya bahwa kalian tidak pernah kesulitan menemukan peran sekalipun ini bukan genre yang bisa kita mainkan. Kita bermain komedi pada banyak sekali panggung, namun sekarang dihadapkan dengan melodrama (tragikomedi)—itu pun diubah kemudian, di awal malah yang kentara adalah tragedi.

Bagaimana caranya membohongi Azmi pada saat kupilih Iqbal Perdana menjadi salah seorang aktor. Dia sama sekali tidak pernah berpengalaman di dunia peran. Hanya saja tidak ada yang lain bersedia menjadi aktor. Sudah kuajak Makmur yang rupawan itu, dia tidak menanggapi terlalu banyak. Maka kuajak Perdana untuk ikut serta. Dia sumringah dan sedikit takut pula. Aku mencoba meyakinkannya.

Pada kala itu aku lebih bekerja sebagai perekrut anggota. Hamdani sudah di awal bergabung, King Munawir Shakir hampir saja didepak di awal, Wak Lah Muntazar langsung menerima, Iqbal Perdana perlu dibujuk, dan Toke W Eda (Khairul Mansyah) yang kuragukan kata “get pak sub”nya. Mendengar kata getatau dalam bahasa Indonesianya berarti oke dari mulut Toke, sama saja dengan mendengar kalimat penolakan halus dari orang lain. Syukur saja dia datang pada saat latihan kedua, kalau sempat tidak, mana pula bisa kucari orang yang bisa menguasai naskah sepanjang porsinya.

aktor

Karakter tokoh dalam naskah disesuaikan begitu saja. Toke yang sering bicara bijak—aku tahu betul bahwa dia sama sekali tidak bijak—didapuk menjadi Teungku. Peran ini sangat penting, sebab selain menjadi penengah dalam segenap konflik dalam lakon, Teungku juga menjadi tokoh yang menyampaikan pesan-pesan dari pelakonan tersebut. Tokoh Usman diberikan dengan berat hati kepada Wak Lah. Kukata berat hati sebab untuk menjadi Usman, ia perlu menghafal teks yang lumayan panjang. Aku sangsi pada hafalan lelaki itu, kecuali hafalan tentang gejala alam yang kelak akan dijadikan isyarat nomor togel dan hafalan usia janda berpengalaman.

Selain Teungku dan Usman, tokoh sentralnya bernama Nyak Gam, seorang preman kampung yang paling cepat tersinggung tapi sangat sayang pada adiknya, Usman. Azmi yang memproklamirkan diri sebagai sutradara itu memilihku. Entahlah, darinya dan Rosa, sang manajer program dari Earlham College, aku tahu bahwa mukaku lebih cocok menjadi bandit daripada menjadi orang baik-baik. Kukira aku mesti bersyukur untuk ini. Tugasku bertambah, menjadi asisten sutradara pula menemani dan membantu Azmi mengurus persiapan lakon. Nyak Gam memiliki anak buah bernama Mudin yang diperankan oleh Hamdani Chamsyah. Dia bermuka kampung dan berambut keriting, kami menganggapnya cocok dengan peran preman kampungan. Chamsyah bertanggung jawab untuk property bersama Toke. Mereka bekerja bagus sekali.

King Shakir kukira layak diberi apresiasi lebih. Manusia baik ini memerankan dua tokoh, menjadi anak buah Joko dan Keuchik. Mau tidak mau, mesti mau. Dia mesti bekerja ekstra demi mengubah karakter dalam seketika. Joko diperankan oleh Iqbal Perdana dengan alasan wajah dia agak “meujawa siangen” atau kejawa-jawaan. Ini penampilan pertama dia. Aku sangsi, tapi itu kurasa tidak perlu kupikirkan (kucing saja bila terus dilatih akan bisa bermain bola, apalagi manusia yang punya akal dan kecerdasan). Azmi mesti turun membantu sebagai anak buah Joko. Dan kemudian Ramlah (Anita Maisuri) yang memerankan tokoh anak Teungku didapat setelah latihan beberapa hari, juga Halimah (Anggi Asmara) bunga desa sebagai sumber fitnah.

 

Proses Kreatif dan Kerja lain

Bahwa seorang yang hebat adalah yang bisa menuntaskan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, aku melihat mitra kerjaku seperti itu. Kami menikmati proses pembuatan property diselingi canda renyah. Sedikit risau ketika aku mesti mempertemukan orang dari latar belakang berbeda dan kebiasaan yang beragam pula. Toke adalah tukang canda dan sama sekali tidak peduli pada apa yang keluar dari mulutnya. Kutakut Makmur atau Iqbal tersinggung dalam candaannya itu. Untung saja mereka bisa cepat diberikan simulasi tentang bencana bernama Canda Celaka Toke W Eda. Mereka bisa paham dan menerima.

Mon Jen adalah kampung yang asyik. Menikmati kelapa asam keu-eung racikan Azmi, bercanda dengan cara saling sindir, membuat replika balai dari pelepah rumbia, memotong bambu untuk persiapan pondok, hingga malam. Dan malam, langit seolah seorang rukuk dan bulan serupa kangkangan patri di belahan selatan. Di bawah neon 15 watt kami menikmati proses ini. Tidak ada ledakan lain yang lebih asyik selain dari canda dan saling mengapresiasi. Aku menyukai tim ini. Aku menyukai semua keadaan malam ini.

Begitulah, hingga beberapa hari kami disibukkan dengan latihan dan pembuatan property. Kami menikmati itu. Sangat menikmati. Bahwa latar belakang sekarang bukan lagi sesuatu yang perlu terlalu dipertimbangkan dalam sebuah tim, kami yakin itu. Kami bercanda bersama. Seperti dulu. Seperti pada musim tawa kita. Hanya saja selalu tidak sama. Ini lain, ini dengan orang berbeda dan canda yang beda pula. Tawa kita belum berubah, seperti dulu, seperti pada musim tawa.

Pementasan

Setelah beberapa hari di sebuah baliho besar Simpang Mesra foto kami terpampang, pada 1 Juli 2012 tibalah pementasan. Para aktor sudah di belakang panggung sejak tamu pertama datang. Hanya gladi resik sekali dengan penataan yang amburadul. Lighting ditangani Makmur dan tim Rongsokan, musik dipegang Icha, kepanitiaan dipegang Fisip dan Iqbal Gubey. Untuk Gubey, aku terlalu telat mengajak dia. Kukira dia iri padaku, aku sangat yakin itu. Sebab bila dia sudah berhasil menuntaskan skripsinya, aku malah memajang diri di simpang jalan dengan sangat berbahagia. Dia ingin, tapi tentu berat apabila saat itu kuajak pula dia bekerja seperti kami.

Dan bukankah sudah kukata bahwa aku mendapatkan orang-orang hebat bersamaku? Yang menata panggung ini juga para aktor itu. Sekali lagi, berpikir naskah dan penampilan yang baik untuk sebuah acara besar yang akan dinonton orang-orang bernama, bikin property, menata panggung, menyewa ini dan itu, tidak semua orang bisa melakukannya dalam sekali waktu. Ini kami lakukan. tak berlebihan bila kukata hebat, bukan?

Joko masuk panggung. Luar biasa getar kurasa. Bukan hanya sebab penontonnya yang bludak, melainkan Iqbal Perdana baru pertama kali bermain teater. Ini berat. Aku memerhatikan mereka dari balik torino pekat. Azmi dan King, sang anak buah masuk pula. Sedikit kurang berhasil di vokal, kurasa. Namun, untung saja King bisa menarik suasana. Ini mulai menarik.

Wak Lah masuk sebagai Usman. Getar lagi aku. Dia paling banyak salah dalam latihan dan kaku. Aku memerhatikan langkahnya. Maha Besar Allah, Usman berhasil diperankan dengan sempurna. King dengan buas menghajar Usman, lebih buas dari Joko dan Azmi. Lampu redup dan pelan terang lagi. Teungku sudah duduk di pondok kecil lalu memberi ceramah. Aku tidak pernah meragukan tampilan Toke. Dia sangat bagus. Luar biasa pula ketika ia dengan santai dan berwibawa menenangkan Usman, teungku muda kampung itu yang hendak menuntut balas.

Usman dan Teungku keluar, Nyak Gam masuk dengan lakon mencari-cari korek demi menyulut rokoknya. Kecuali berpikir tentang perubahan naskah pada sore harinya, aku menikmati semua gerakan. Mudin, anak buah Nyak Gam masuk dan membawa berita tentang Usman yang dikeroyok kelompok Joko. Nyak Gam ingin menuntut balas. Dan manakala ia bertemu dengan Teungku dan Usman yang mencoba menenangkannya, ia malah seolah cuek dan mendengar begitu saja. Mudin kecewa, terungkaplah bahwa ia tidak pernah menggubris apa yang dikata Teungku.

Pada akhirnya, dalam rapat perdamaian yang dihadiri oleh Teungku, Keuchik, Usman, Joko, Halimah, dan Ramlah, diputuskan sebuah perdamaian denga syarat Joko membayar denda sesuai adat yang berlaku. Namun, rupanya Nyak Gam datang untuk membunuh Joko. Usman mencoba menghalang abangnya. Celaka, rencong yang hendak menembus perut Joko malah menusuk perutnya. Usman meninggal. Nyak Gam setengah percaya. Lampu pelan-pelan meredup, menyisakan Nyak Gam yang menangis sembari mendekap kepala adiknya penuh penyesalan dalam tangis dan air mata memburai. Lampu mati. Selesai.

Perpisahan

Tatkala malam ini, 3 Juni 2012 aku berjalan sendirian, aku mengenang semuanya. Bersama kalian hari seolah hidup sebagai tawa dan canda. Aku tidak akan melupakan ini semua. Sama sekali. Bila dalam persiapan aku lebih sangar daripada Azmi sang sutradara, semata-mata adalah demi suksesnya acara kita. Aku yakin kalian bisa paham itu. Dan pagi tadi ketika duduk di kawanan yang pada sore hari akan dipisahkan oleh ikatan kerja yang usai, aku bahkan tak sanggup menahan haru itu. Aku senang bersama kalian.

Perpisahan selalu saja kuasa menampi-nampi hati. Aku merasakan itu. Benar seperti kata Makmur, baru kali ini terasa sebuah tim bekerja dengan semangat saling bantu yang luar biasa, melaksanakan tanggung jawab sebaik-baiknya. Di Lampuuk kita bersenda seperti sebuah kumpulan sahabat sudah lama berpisah. Ini sangat indah.

Makmur berhasil menjadi manajer dengan segenap catatannya, jangan pernah kau buang buku berikut kebiasaan itu, kawan!. Azmi menjadi sutradara yang baik dan selalu bisa menerima masukan dan kritikan dengan santai sekali. Chamsyah dan Toke bekerja luar biasa dan sangat luar biasa, aku bukan abangnya Chamsyah sebab bahasa Indonesianya payah, aku bukan teman Toke sebab dia selalu tidak bisa kupercaya (nilai kepercayaanku hanya 35 untuknya). Icha bagus dengan musiknya. King, kalau saja ada penghargaan, aku akan memilihmu sebagai aktor terbaik.

Wak Lah, kerjamu bagus sekali, kami tertarik dengan semua yang kamu miliki, kecuali togel dan janda. Iqbal Perdana, keperdanaan itu jangan sampai mati, terus melesat seperti peluru, adikku. Iqbal Gubey, bermain-mainlah dengan kami, maka kau akan muda selalu. Anita Maisuri, pilih salah satu, jangan sampai ada yang ke Alue Naga. Anggi, mmm adek goda-goda bang Perdana ya, ayoooo! Dan tentunya Nazar Shah Alam, terimakasih karena sudah menjadi orang tertampan di antara kami.[]