Nazar Shah Alam

Sudah beberapa hari baliho yang bikin gempar para genk Apache dan orang lintas Simpang Romantis itu terpampang. Nanti malam baliho itu akan diturunkan. Mandana belum pulang juga dari sana. Kurus badannya terlihat semakin ringkih saja. Rupanya, Wak Lah juga di sana bersama Mandana, tak jadi ia menuju rumah Pengko yang dengan sangat rendah hati itu menghargai hubungan persahabatan mereka. Mereka memberlakukan jatah menjaga baliho yang memuat wajah mereka itu seperti jatah jaga malam.

Shakir akan datang saban pagi ke sana. Itu ia lakukan juga di malam tatkala hujan atau badai merajang. Dia masih terus datang menyelimuti baliho itu. Namun, seperti juga pada malam pertama ke sana, ia tetap terkapar bila sudah melihatnya dalam keadaan lama, lalu “termasuk” nenek moyang iblis. Pengko masih sibuk di Rumah Sakit Shah Alam bersama Halimah. Di sana sedang terlalu banyak pasien. Rata-rata adalah anak muda berstatus mahasiswa yang terlibat bentrok di anjungan Ratu Malika Shahtudin sebab saling ejek pada satu pesta olahraga.

Dalam kondisi seperti ini Pengko sebenarnya tidak suka menanganinya. Ia rasanya ingin membiarkan saja para anak muda itu. Kesal hatinya mengingat mahasiswa yang sebenarnya bisa berpikir jernih dan mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, malah menjadi pemicu perseteruan. Apa juga mereka memberi gelar Agent of Change untuk statusnya itu? Sungguh memalukan. Memalukan! Pengko adalah lelaki cinta damai. Maka ia tidak ingin mengurus mahasiswa yang berlaku tidak terpuji itu.

Nun di bawah baliho di Simpang Romantis, tiga lelaki sudah berdiri dengan khusyuk. Wak Lah, Mandana, dan Shakir menatap tiga orang lelaki yang datang demi melepaskan baliho tersebut. Sebelum ketiga orang lelaki yang tiba hendak naik ke tiang baliho, Wak Lah menahannya. Sebentar saja, kami ingin berhening cipta, ucap Wak Lah pada mereka. Kemudian ia mengajak kedua kawannya di sana untuk menatap baliho itu dengan takzim, tangan kanan mereka letakkan di dada seperti lagak pemain bola sedang mengumandangkan lagu kenegaraan.

Di tengah-tengah hening cipta, Shakir rubuh sebab tak kuasa menahan haru. Wak Lah dan Mandana tetap memandang baliho dengan mata berkaca-kaca. Selesai hening cipta, Wak Lah dengan santun menganjurkan pekerja itu menurunkan baliho. Begitu baliho selesai diturunkan, Wak Lah meminta agar benda itu diberikan untuknya. Pekerja tidak membantah, mereka menyodorkan gambar baliho itu kepada yang meminta.

Namun, siapa nyana, rupanya Mandana juga menginginkan benda itu untuk dipajang di halaman rumahnya.
Shakir sadar, ia juga ingin baliho itu untuknya. Ia ingin memberikannya pada Jingga. Tujuannya adalah agar bila kelak ia mati, Jingga bisa melihat wajahnya di sana. Wak Lah yang melankolis tak kuasa membendung harunya mendengar keinginan Shakir. Maka mereka berembuk. Duduk melingkar di sana. Mereka mengutamakan musyawarah daripada mesti bertengkar apalagi berkelahi hanya memperebutkan hal-hal kecil.

Anjali belum bangun dari pingsannya di rumah sakit. Mandana mengingatkan hal itu pada kedua kawannya. Sekian lama berembuk, akhirnya diputuskan agar gambar asli itu diberikan kepada Shakir. Sedangkan untuk Mandana, Wak Lah, dan Anjali diberikan dalam bentuk duplikat. Sungguh patut disayangkan, pengetahuan Wak Lah dan kedua kawannya itu sedikit, jadi mereka kurang mengetahui cara untuk membuat duplikasi gambar itu. Satu-satunya ide adalah menghubungi Anjali yang masih di rumah sakit. Untung saja Anjali sudah siuman.

Setelah mendengar usul dari Anjali, Mandana bersegera melakukan apa yang diperintahkan. Shakir yang baru sembuh sekarang terbaring dalam pangkuan Wak Lah. Baru ia bangun setelah Mandana membawa pulang gambar baliho yang tidak bisa difotocopy sebab terlalu besar itu. Wak Lah kecewa. Namun Shakir kembali meminta dengan suara yang lemah agar gambar itu diperkecil dan di gambar untuknya Mandan mesti menghapus semua orang yang dirasanya tidak perlu. Ia ingin hanya dia dan Halimah saja yang tersisa. Sungguh, bila itu terjadi, maka wajah mereka seperti padang pasir dan rimba bandingannya. Ah, permintaan yang celaka!