pengko@rt


Nazar Shah Alam

Kabar terbaru yang berhembus dari kampung jauh adalah Maksum yang rupawan itu telah gundul. Pengko terkencing-kencing membayangi kawannya itu. Bagaimana kemudian rupa sejawatnya yang rupawan bila rupanya telah tak lagi bermahkota lurus yang konon selama ini menjadi daya pikat tersendiri dari Maksum? Bagaimana kalau kemudian rambut Maksum tumbuh berbeda dengan muasalnya, menjadi keriting, menjadi gimbal, menjadi kribo ala orang Afrika Selatan. Dan yang sama sekali tidak bisa dibayangkan Pengko, bagaimana kalau nasip Maksum kemudian akan sama dengan nasip Yahwa Saleh kampung Pengko yang tidak mau lagi tumbuh rambutnya usai dicukur plontos, seperti artis Ozi Syahputra, gundul sepanjang masa.

 
Sebagai seorang yang terbilang paling tampan dalam komplotan tukang pantun, Maksum pantas menyesali apa-apa keputusan yang telah ia ambil. Ia boleh takut, sebab dalam komplotannya, sesekali kawan-kawannya itu kurang ajar juga. Suka mengejek sesama. Dan jika pada suatu ketika ia membaca sebuah tulisan tentang filosofi rambut seseorang, pantaslah ia bermuram durja menghadapai kenyataan yang tak pasti pada bakal anak rambutnya.

 
Dalam bidang penilaian, pada sebuah riset yang kevalidan hasilnya boleh dipercaya boleh pula diragukan, bentuk rambut seseorang menandakan kepribadian orang itu. Maksum dihadiahkan sebuah buku oleh Pengko yang dikirimkan pada seorang kawan. Buku itu bercerita tentang filosofi rambut seseorang. Bab per bab dibacanya dengan takzim dan pelan.

 
Seorang yang berambut lurus menandakan ia berpikiran wajar dan tenang, santai, tak banyak soal kehidupan, dan memiliki banyak penggemar—poin terakhir ini adalah kecuali, sebab hanya akan berlaku jika punya wajah yang rupawan—seperti Maksum. Tentu berbeda dengan kepribadian orang yang rambutnya keriting negro seperti Anjali. Seorang yang rambutnya begitu ia akan menjadi orang yang rumit sekali memikirkan sesuatu, berbelit-belit, hidupnya tidak lurus, selalu bermasalah, jika berkulit hitam mukanya akan selalu masam, jika berkulit putih ketampanannya akan diragukan, biasanya ia banyak musuh sebab orang berambut keriting kadang-kadang sangat sensitif, jika pun banyak kawan ia akan berkawan dengan orang-orang yang tidak memaksa, sebab orang yang berambut keriting negro orangnya tidak suka terlalu dikekang.

 
Seseorang yang rambutnya ikal mayang—seperti Pengko dan Shakir—mereka akan memiliki hidup yang bergelombang, terkadang senang sesenang-senangnya, terkadang sedih sesedih-sedihnya. Orang-orang dalam golongan berambut ikal biasanya memiliki banyak kawan dan banyak pula yang dilupakan, suka berpikir dan suka mencari kesibukan, tipe orang yang berambut ikal adalah ia tidak tenang, hidup ini adalah kebahagiaan, dan kalau tampan ia akan tampan sekali, seperti Pengko, kalau jelek hampir-hampir tak sanggup dilihat mukanya, Shakir buktinya. Yang berambut ikal biasanya memiliki banyak sekali hutang.

 
Bab terakhir adalah cermin dari seorang yang berkepala gundul. Hidupnya biasanya licin, tak banyak masalah, hanya saja kadang-kadang banyak hal dalam hidup yang dilaluinya berlalu begitu saja tanpa bekas dan makna. Orang gundul biasanya dikenal pelit—tidak mau membeli minyak rambut untuk rambutnya karena merasa rambut hanya bisa duduk di kepala tanpa mendatangkan manfaat apa-apa. Ia biasanya akan ditakuti perempuan, sebab mereka geli dan takut kelewatan tangan lalu akan memegang kepala botak itu.

 
Maksum menutup bukunya dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hati ia berdoa semoga rambutnya akan tumbuh kembali seperti semula.