Nazar Shah Alam

(Balada Kemenangan untuk N)

Nyatanya sebuah berita yang sudah siap diketik dan tinggal tunggu kabar terbaik tiba dari gubuk kalam, gagal dinaikkan. Itu musabab keburukan memang tidak akan pernah terus menerus menang. Suatu kali kawan pernah bertepuk dada, aku memilih menanti hingga berganti hari untuk menandakan itu hari baik atau buruk.

Maka sekarang kutepuk dadaku. Berkali-kali, talu bertalu. Pernah kawan takutkan aku berlaku segenap rupa. Telah pula nyata, ramalan rincong pacak di tanah, malah pucuk letak di hulu. Terbalik kawan. Jauh ramalmu.

Beberapa potong hari kita masukkan ke saku. Kita saling benci dalam lantun lagu ragu. Kau ragu laguku, kuragu suaramu. Kita terpecah menjadi tembikar dan mencari mangsa. Lupa pada etika, lupa pada rasa. Kita lupa pernah melihat laut menelan dua bujur badan. Gelombang meninggi dan lantak deburnya menganak di corong kuping. Kawan dimabuk tuak serta perawan, lalu kawan menang. Kawan bertepuk dada, talu bertalu. Aku menarik badan dengan tali serabut kelapa yang kuikat di pinggang dan kulingkar di batang pinang. Menariknya terus menerus. Hingga lalu aku terjepit di batang itu.

Pada di mana berita itu terketik rapi dan tangan telah terletak di pusar kendali, kawan menerima kabar lain. Bahwa anak tak jadi sarjana dan rumah terbakar beberapa pembuat nista. Sungguh, sebaiknya kawan renungkan sebab apa itu. Kawan takutkan kupegang parang, kawan serahkan kepada penimbang malu. Kala hendak diguna, kawan tak bisa minta padaku. Menghadap orang kawan percaya sama berharap bertutur batu. Kembali kutepuk dadaku. Berkali-kali, talu bertalu.

Seorang tukang kayu yang pernah ketakutan padaku terkulai di hadapanku. “Benar, Tuan, tali serabut rupanya mencari mangsa sesuai kehendak Tuhan. Bukan Tuan terhimpit di batang pinang pada akhir pengisahan, melainkan pemilik tali itu. Dia ketakutan sekali dan berhalusinasi dengan hebatnya. Tuan berjalanlah dan nantikan kabar terbaru tentang akan datang beberapa keping emas yang Tuan berikan untuk pesta anak pemilik tali serabut. Sedang pemillik tali itu semestinya dengan malu datang ke gubuk Tuan dan berkata, anakku rupanya yang terjerat di batang pinang itu, bukan kamu.”

Aku kembali menepuk dada. Talu bertalu.

Rawasakti, 6 Juni 2012