Cari

Pengkoisme

Aku Menulis Sebagai Tanda Pernah Ada!

Rumah Tuhan

Karya Naz13495323_652340458263459_2982292007711034420_n.jpgar Shah Alam

Mestinya kukabarkan kepada kalian lebih panjang lagi perihal petaka ini. Tapi Bahrum, tidak mengizinkanku. Katanya sebelum pergi, kabarkan yang penting-penting saja kelak. Tidak ada yang bisa mengabarkan ini kepada saudara sekalian kecuali aku. Mustamidan dan Abdul Bayaki bahkan tidak bisa menulis dengan benar nama ayah dan ibu mereka. Benar-benar bodoh. Tapi koko dan peci yang mereka kenakan setiap waktu telah menyelamatkan mereka dari kenyataan itu.

Malam itu langit terang benderang. Setengah bulan lagi masuk Syawal. Sepulang tarawih, sembunyi-sembunyi, kami menyapir ke Lanjutkan membaca “Rumah Tuhan”

Bismillah, Kupilih Engkau Untuk Menikah

Blog.jpgOleh Nazar Shah Alam

Dengan penuh kesadaran dan kelataan, sebagai pengelana tak berpulau dan perantau tak berhuma, telah kuputuskan untuk berhenti berlayar. Di hatimu, kekasih, kapal hidup kutambatkan. Di sana, dengan izin Allah, ia akan kekal berlabuhan.

Hanya setelah beberapa waktu bertemu dan melawat waktu denganmu, aku telah mengubah banyak hal dalam hidupku. Tanpa takut apa-apa, tanpa terlalu banyak menimbang kira. Sebab untuk maksud baik tidak perlu banyak menaksir terka. Betapa lucu mengingat engkau saat kusampaikan maksudku. Tak percaya dan terkejut. Bertanya berulang kali dan memintaku meyakinkan sampai hatimu pasti.

Demikianlah, engkau tak sekali pun kutawari menjadi pacar, tapi kuhendakkan untuk menikah. Aku juga tak Lanjutkan membaca “Bismillah, Kupilih Engkau Untuk Menikah”

Semburat Biru

Dina Cinta.jpgUntuk menulis ini, kekasih, aku telah merenung sekian malam, melawat berbagai tempat, menghujat sejumlah waktu, melunas banyak temu. Betapa menyedihkan. Bertahun-tahun aku  berkarib kata-kata, sehingga jika kuajak bertemu mereka akan datang padaku serupa gurun diamuk badai, tapi kali ini mereka jadi pengecut. Kata-kata menolak tiba padaku. Menolak berteman meski sudah kupuja rayu. Barangkali mereka luka hati sebab aku sudah memutuskan untuk lebih mencintaimu.

Percayalah, setiap hari-hari bertunas, aku duduk cemas. Lanjutkan membaca “Semburat Biru”

Hukum Kausal antara Sie Meugang dan Lamar Adek nyan


13624747_656315711199267_231372831_n(MINTA KAWIN II)

Pagi masih jelaga. Belum pun azan. Di kamar saya yang tak terkunci umi menarik ujung tilam. Membangunkan tidur saya yang baru sebentar.

Beudoh, jak u pante!” kata umi. Saya bangkit sekalipun malas dan lemas belum benar-benar pergi.

Sebagai anak bujang satu-satunya di rumah, sebab adik lelaki saya masih di rantau, perkara membeli daging meugang sudah tentulah menjadi tanggung jawab saya. Dan perkara daging meugang, betapa hinanya engkau sebagai lelaki jika tak mampu membeli ini. Terserah sekecil apa pun jumlahnya, terpenting di tanganmu pada hari meugang ini harus ada daging terjinjing. Apalagi ini meugang menyambut lebaran Fitri. Kau bisa dimaafkan jika tak membawa pulang daging di meugang hari raya Adha, tapi tidak untuk hari ini.

Pagi sedikit lepas dari jelaga. Sayup azan. Setelah shalat, saya mengeluarkan kendaraan. Jalan mulai ramai. Seperti sudah terang. Para lelaki berangsur-angsur menyerbu tempat penyembelihan. Pante.

Pante–huruf /e/ dilafal seperti kata “lotre”, adalah kata ganti tempat untuk zona penyembelihan daging di hari Meugang. Secara harfiah “pante” berarti pantai. Dan pantai menurut KBBI adalah…(silakan isi sendiri). Disebut “pante”, menurut amatan saya, karena pemilihan tempat menyembelih sekaligus menjual tumpukan daging itu letaknya di tubir-tubir sungai besar. Tubir sungai itu disebut juga /reuleung/ jika sungainya kecil dan tempatnya tak luas. Artinya, ia (tubir itu) disebut “pante” adalah sebab tempatnya luas dan terletak di tepi sungai.

Di pante, harga daging mencapai 180 ribu/kilogram. Saya merogoh saku, memeriksa persiapan. Umi tidak membekali apa-apa ketika saya akan ke sini kecuali anjuran membeli hati, daging, kulit, dan tulang dalam porsi tertentu. Kami punya keluarga besar dan terbiasa kenduri untuk arwah tiap malam lebaran. Saya tidak menyangka harga daging meugang hingga setingkat itu. Sebab malas pulang lagi karena tempatnya jauh, saya beli saja hati dan daging seberapa uang yang ada di saku.

Tiba di rumah, matahari sudah pecah. Umi menatap bawaan saya dengan tatapan tak begitu indah.

“Ini seberapa ada dulu, Mi. Malas bolak-balek tadi,” saya berkilah sebelum ditanya. Umi tidak menyahut, kecuali masuk membawa jinjingan daging yang saya serahkan padanya.

Yum sie meugang sikilo tok 180 ribe, talake 5 kilo, tapi han ek trok dum talake. Pakiban cara tapeutrok yum jeulame nyang sijuta lapan simayam? Peu lom meunyo ilake 15 mayam. Hana daya lom aneuk muda!” sindir umi dari dapur.

Panas telinga saya. Tanpa menjawab, segera saya telpon teman, meminta ia melunaskan utang saat itu juga. Hilang ketidak-tegaan saya pada teman yang bersangkut utang. Teman saya itu, sungguh celaka, malah tertawa di telpon ketika saya sampaikan alasan. Ia segera meminta saya datang ke rumahnya di luar kecamatan. Setelah mengambil uang, saya kembali ke Pante, membeli masing-masing pesanan Umi dua kilogram, ditambah bumbu lengkap, ditambah seekor ikan tongkol kesukaan umi yang berukuran besar, ditambah empat kilo buah rambutan.[]

NSA, 5 Juli 2016

Glosarium:

  1. Beudoh, jak u pante! : Bangun, lekas ke pante!

  1. Yum sie meugang sikilo tok 180 ribe, talake 5 kilo, tapi han ek trok dum talake. Pakiban cara tapeutrok yum jeulame nyang sijuta lapan simayam? Peu lom meunyo ilake 15 mayam. Hana daya lom aneuk muda!

(Harga daging perkilo cuma 180 ribu, diminta 5 kilo, tapi tak pun sampai sejumlah diminta. Bagaimana caranya menyanggupi harga mahar yang satu juta delapan ratus ribu permayam? Apalagi kalau diminta 15 mayam. Belum mampu, anak muda!)

 

Lanjutkan membaca “Hukum Kausal antara Sie Meugang dan Lamar Adek nyan”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Journey si-BaL

Go to get!

Pelangi Laut

Since November 2013, this not a personal (only) blog. But whoever who keen to share their perspective on ocean or other information about our ocean can put the guts here.

Amek Barli

Hilangkan mundur, tumbuhkan maju.

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

M. Faizi

cerita perjalanan, hidup keseharian, kesementaraan

Wak Lah

Memburu Janda Melupakan Skripsi Bab Pertama

Ernayati Zaifah

Bahwa diri pun adalah puisi

Puisi-puisi Koran Tempo

- dibuat bagi para pecinta puisi -

Rintik Hujan

Untuk Siapa Saja Yang Mencintai Ilmu

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Baca Klasik

Sastra Klasik itu Asyik!

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Ferdian A. Majni

Mengeksplorasi, Menulis dan Berbagi

Muslim El Yamany

Menulis untuk Inspirasi. Berkarya Tiada Henti

Suka Tulis

Travel. Culinary. Writing.

Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh