Cari

Pengkoisme

Aku Menulis Sebagai Tanda Pernah Ada!

Mantra: Kata-Kata

Di kampung kami, seorang sakit seringan atau separah apa pun awal atau akhirnya pasti akan dibawa ke dukun. Baik mereka yang sudah menyerah dengan medis atau memang tidak cukup uang ke rumah sakit. Dukun (masih: di kampung kami) berkonotasi ganda: penyembuh dan tukang tenung. Padahal untuk penyembuh, saya bisa saja menggunakan kata “tabib”. Tapi sebab di kampung kami semua disebut dukun, maka sepanjang tulisan ini kusebut dukun. Semata-mata sebab aku ingin menghargai orang kampung.
Dukun melakukan proses penyembuhan dengan dua cara, yaitu dirajah (di tempat lain juga disebut “disumbo”) yaitu dibacakan mantra-mantra, atau diberi ramuan yang diramu sendiri. Tidak ada seorang pun dukun di kampung kami yang tidak pandai meurajah. Mereka yang diberikan gelar D.U.K.U.N hanya yang telah dianggap kamil dalam menguasai mantra-mantra. Serta tentu saja telah teruji kemanjuran upayanya.
Membaca neurajah (mantra) di satu sisi adalah jalur penyembuhan: dirajah dulu baru diberi ramuan. Di sisi lain meurajah menjadi cara bagi mereka (para dukun) menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang mumpuni, berilmu, dan tak dusta. Ya, semacam lisensi atas kedukunan dan kemampuan mereka mengobati orang lain.
Dan mantra yang dibacakan ketika meurajah oleh seorang dukun, percayalah, sebenarnya mutlak hasil cipta manusia. Kata-kata yang diramu sedemikian rupa, dipercaya bisa memunculkan kesaktian, dan dengan kehendak alam memang berhasil menyembuhkan. Mantra itu, sekali lagi, mutlak kata-kata belaka. Orang di kampung kami terbiasa dengan itu. Terbiasa percaya bahwa kata-kata bisa dijadikan alat untuk menyembuhkan sakit yang bahkan di medis pun belum ditemukan penawar.
Hari ini sebuah cerpen saya “Celaka” dimuat di koran Serambi Indonesia. Cerpen, bagaimana pun juga itu hanyalah kata-kata. Kata-kata yang diramu sedemikian rupa, dipercaya bisa menyampaikan sebuah kabar, dan dengan kehendak redaktur berhasil berlabuh di koran. Tiba-tiba hari ini saya menyadari bahwa dalam diri saya rupanya telah mengalir takdir dukun. Takdir meramu kata-kata yang bisa memunculkan kekuatan menjadi cerita. Terserah apakah sudah memiliki lisensi atau belum, tapi setidaknya sudah di atas jalur.
Perihal meramu kata-kata yang bisa memicu kesembuhan, saya dan salah seorang teman sudah merasakan keabsahan kepercayaan ini. Saya menulis cerita atau puisi ketika merasakan sakit yang hebat, teman saya menulis lirik lagu. Benar rupanya ampuh, setelah itu semuanya terasa ringan. Perlahan-lahan menuju sembuh.
Maka, menulislah dengan tekun dan berjuang. Semoga manjur jadi penawar!
NSA, Darussalam, 31 Januari 2016.

Apache13: Ini Tidak Seserius yang Kau Pikirkan!

Logo Apache13Oleh Nazar Shah Alam & Ikram Fahmi Sayusuf

Ikram datang pada saya malam itu hanya demi meminta saya menulis cerita tentang Apache13. Saya suruh dia saja yang menulis, dia tersenyum. Dikeluarkan dua batang rokok dari saku tas-nya: Sampoerna Mild, isapan tetap saya. Ia letakkan rokok itu di depan saya tanpa berkata apa-apa. Dasar gembel, disogoknya saya. Dikira semurah itu harga cerita. Untunglah saya sedang tak punya rokok. Jadi sudahlah, saya menulis ini. Biar Ikram senang. Konon, menyenangkan hati anak yatim adalah kebaikan yang akan dicatat Tuhan. Dan Continue reading “Apache13: Ini Tidak Seserius yang Kau Pikirkan!”

Surat Singkat Untuk Calon Istri

DVenco 1ik, sudah tengah malam dan aku terjaga. Dari jendela kamar kutemukan bulan sesabit senyummu. Warnanya jingga tipis. Aku memandangnya yang sendiri. Barangkali adaku mengandaskan ia dari sepi. Maka, bulan itu mengirimkanku ilham ini. Ingin kujadikan puisi, tapi puisi terkadang sulit dimengerti. Ingin kujadikan prosa, tapi tak cukup syarat menjadikannya. Bisa saja kutulis dengan bahasa yang manis, tapi kau tahu, tak semua orang menyukai manis. Maka ini kutulis apa adanya. Seukuran bisa dicerna oleh lambung pikiran siapa saja. Percayalah, ini kutulis untukmu. Sekedar mengingatkanmu dengan sebuah amanah yang fardhu.

Dik, kita tidak pernah bisa menerka hidup. Tuhan telah menulis takdir kita sebaik mungkin sampai awal bersua akhir. Bayangkan saja, kita tak pernah berencana bertemu tapi kemudian bertemu. Saling berbagi dan mencintai, saling tak membiarkan jatuh. Kau jahit sayap-sayapku, kubawa terbang kamu. Dan itu, serta segala yang kelak akan terjadi, telah ditulis di suhuf takdirku: di suhuf takdirmu. Sebab juga Tuhan mempertemukan kita untuk saling menyelamatkan, maka kita harus saling menyelamatkan. Sebab juga Tuhan mempertemukan kita untuk sebuah perjalanan, maka kita harus saling menambah bekal. Ini bekal untukmu sebelum kita memulai sebuah perjalanan hidup yang sah, dariku yang lata dan rabun betul tentang perjalanan menuju Tuhan yang maha indah.

Dik, lintasilah segala nusa jika kau mau. Tapi sebagai perempuan, kelak nusamu hanyalah aku dan anakmu. Engkau hanya wajib menjadi istri dan ibu. Jika kau mengetahui dengan baik tentang agamamu, kau akan senantiasa menerima takdir itu. Sebab takdir sebagai istri dan ibu adalah takdir menuju nusa yang indah, syurga yang megah. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan nusa bagi perempuan di tempat paling istimewa. Jika kau mengetahui dengan baik agamamu, kau akan ke nusa itu. Maka, tunduk dan berbaik-baiklah dengan takdirmu. Kau tidak pernah meragukan janji Tuhan, bukan? Hanya dengan menjadi istri dan ibu saja, tempatmu di akhirat telah dijamin penuh keindahan.

Dik, jadilah nakal dan ugal demi agar kau punya kenangan. Kita mulai berbicara lebih dalam. Sebagai ibu, kau tidak akan bisa membanggakan diri pada anak-anakmu tentang seberapa lelaki kau taklukkan, seberapa banyak perhiasan kau dapatkan, seberapa pandainya engkau memiliki kekuasaan. Kecuali jika kau hanya ingin mengisi dunia di piring anak-anakmu untuk mereka santap. Sebagai ibu, kau lebih bagus mengisahkan pada anak-anakmu seberapa pandai kau di sekolah, seberapa baik akhlakmu masa lalu, seberapa berimannya dirimu sehingga bisa kau ubah aku—ayah dari anakmu—yang dulunya bangsat dan tak pernah tunduk, dan atau seberapa bagusnya tilawahmu yang oleh sebab itu (entah bagaimana sekali waktu bisa kudengar) membuatku jatuh cinta padamu. Dunia sudah sangat buruk, dik. Jangan kita tambah dan terlalu ikut. Kita akan mati, anak-anak yang paham agama akan menjadi penyelamat sejati.

Dik, belajarlah agama. Sebab kau tahu aku tidak banyak memahaminya. Dan sebab engkau adalah madrasah pertama yang sesungguhnya bagi anak-anak kita. Darimu mereka akan mengetahui perihal wudhuk dan shalat, perihal sedekah dan zakat, perihal sifat baik dan laku jahat. Jika kau menjadi madrasah yang baik, baiklah anak-anak kita. Engkau yang menjadi batang-daun-dahan dan mereka putik ke buah. Sedang aku hanyalah akar yang senantiasa menjaga kalian berdiri dan mengirim zat-zat baik dari pergumulanku di bawah tanah. Dan dari engkau yang madrasah, aku bermimpi, anak-anak yang kau asuh dengan baik berebut menjadi imam ketika tubuhku hanya jenazah.

Dik, belajarlah membaca Al Quran dengan fasih agar bisa kau ajarkan anak-anak kita mengeja ayat Tuhan dengan sahih. Jika kau berhasil, betapa bahagianya kita. Tak ada yang lebih indah selain mendengar anak-anakmu mengaji dengan merdu setiap maghrib, atau jika ia sudah baligh, kita akan mendengar suaranya melantunkan azan di masjid. Ketika kita mati, ia akan mengirim doa-doa syahdu. Kau tahu, doa yang dibaca anak-anak kita dengan merdu akan menjadi sungai tempat arwahku dan arwahmu mandi dan berwudhuk.

Dik, jadilah istriku yang baik. Jika aku salah, tunjukkan arah. Sesungguhnya ucapanmu adalah suluh terhadap hidupku yang malam. Jika aku benar, ikuti dan janganlah melawan. Sesungguhnya aku hanya ingin engkau menjadi yang terbaik bagiku, tercinta bagi anak-anak kita, dan terindah di mata Tuhan.

NSA, Agustus 2015

Hari Jumat dan Segala Sesuatu di Dalamnya

DuaSatu yang tidak pernah berubah sekalipun waktu berkitar adalah segala yang ada di dalam hari Jumat. Pagi berbinar (coba kau ingat-ingat, berapa kali kau temukan Jumat yang hujan selama hidupmu, aku yakin jarang sekali), setiap pukul 11 siang di masjid-masjid akan diputar ceramah KH. Zainuddin MZ lalu disusul suara H. Muaammar ZA melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, kau mandi siang (ini mandi siang satu-satunya, sebab siang yang lain tidak disunnahkan mandi), ke masjid membawa recehan, jalan kaki agar lebih banyak pahala, Continue reading “Hari Jumat dan Segala Sesuatu di Dalamnya”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | Tema Baskerville.

Atas ↑

Journey si-BaL

Go to get!

Pelangi Laut

Since November 2013, this not a personal (only) blog. But whoever who keen to share their perspective on ocean or other information about our ocean can put the guts here.

amekbarli

Hilangkan mundur, tumbuhkan maju.

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Wak Lah

Memburu Janda Melupakan Skripsi Bab Pertama

Ernayati Zaifah

Bahwa diri pun adalah puisi

Puisi-puisi Koran Tempo

- dibuat bagi para pecinta puisi -

Rintik Hujan

Untuk Siapa Saja Yang Mencintai Ilmu

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Baca Klasik

Sastra Klasik itu Asyik!

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Ferdian A. Majni

Mengeksplorasi, Menulis dan Berbagi

Muslim El Yamany

Menulis untuk Inspirasi. Berkarya Tiada Henti

Suka Tulis

Travel. Culinary. Writing.

Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 733 pengikut lainnya