Umi dan Siluman di Kepalaku

UmiSebelumnya, aku mohon jangan coba kalian bertanya mengapa aku begitu membenci Umi. Hanya aku dan dua adikku yang paham tentang itu. Kalian mungkin disayangi secara utuh ketika masih usia sekolah dasar, diantar sekolah, dibekali makanan, dibelikan barang-barang kesayangan, dituruti hobi, disayang-sayang jika sakit, dipahami jika telah kalian beri alasan atas ketidakmampuan atau keengganan kalian melakukan sesuatu, dirayakan ulang tahun. Aku, tidak, kedua adikku juga tidak. Baca lebih lanjut

Faktor-C

Faktor CBagaimana mungkin saya percaya kalian sudah melupakan Genk Apache. Nama mereka setidaknya masih bisa kalian baca di museum Negara Kesatuan Mauro Raya ini. Bukankah pada kartu jaminan perawatan (sebab kesehatan tidak bisa dijamin) masih juga bisa kalian baca nama sang dermawan kita, Muhammad Pengko Khan? Baiklah, sudah cukup mengangkat ingatan kalian yang barangkali sudah terendam kepada kawanan yang besar sekali jasanya pada Negara ini. Sekarang saya akan mengabarkan sesuatu yang sangat penting. Seduhlah kopi kalian sebagai persiapan membaca kabar ini. Baca lebih lanjut

Perihal Meusyen

71463_263851470445695_1833443370_nSelaik dimaktub dalam berlaksa-laksa risalah sepanjang pembahasan pertalian rasa bahwa manakala hati dan hati daripada engkau sekalian disengat serupa perasaan suka antara satu dan lainnya, bila-bila dengan terpaksa atau tidak kalian dipisah jarak, tentulah akan terbuhul rindu diiringi sunyi memacak. Rindu yang besar disebut meusyen Baca lebih lanjut

Nekgam

NekgamKenangan-kenangan yang hidup adalah kenangan yang meminta ia dituliskan. Aku (kalian juga) terkadang acap membiarkan kenangan demi kenangan menua di ingatan. Kita boleh saja mencoba melupakan kejadian-kejadian buruk masa lalu, tapi tidak bisa menghapusnya. Hanya hal-hal kecil yang bisa hilang, tidak hal besar. Seperti luka, semakin parah, maka ia semakin jelas membekas.

Akhirnya kutulis juga tentang ini. Semestinya tidak. Tapi aku adalah seorang yang yang tidak ingin melupakan hal-hal penting. Bagiku ini hal penting, kalian boleh katakan tidak. Kita boleh berbeda

Nekgam (bapak dari ayahku) adalah lelaki yang paling cepat tersulut kemarahannya. Dia tidak menunggu kapan akan memarahi dan di mana. Pernah sekali waktu dia memarahiku di tengah keramaian kota Blangpidie. Aku kesal betul padanya. Kami tidak pernah mendapatkan keakuran, sepertinya. Aku tinggal bertahun-tahun bersama Nekgam, tapi dia selalu saja memarahiku. Dia memarahi siapa saja jika dirasanya tidak benar. Orang kampung kami begitu menghormati ia. Baca lebih lanjut

BERMULA PADA “MADAH TERAKHIR”

1470793_770259746333941_2084457821_nTersebutlah, sebab kubaca sepotong isyarat dari seorang ahli kerabat yang seolah-olah mengharuskanku menjenguk masa yang lewat. Maka tanpa muqaddimah sebagai kilah memanjang-manjangkan permulaan, serta-merta kukabarkan kepada sekalian handai taulan.

Bahwasanya masa itu ayah mengantarku meneruskan kaji pada seorang teungku di balai  selatan kampung. Ayah berjalan lebih tergesa seperti entah sedang mengejar apa. Sedang aku dengan susah payah mengatur langkah sebab sarung merah yang baru dibeli ayah siang tadi begitu sempit dililit umi. Dari belakang, diterangi bulan lima belas kulihat wajah sumringah umi seperti menyimpan keyakinan bahwa akan jadi aku seorang qari. Baca lebih lanjut