Fragmen Usia

Molly

:Kepada Molly

sambil mengutip usia yang jatuh
dari halaman rambutmu, Molly
aku membacakan gazal pertemuan yang panjang
dan kau mengulang ucap tanpa peduli pada titik
yang selalu berharap agar kita hentikan bacaan

titik lain yang kujumpai tak punya kuasa apa-apa
selain dari menciptakan lorong-lorong sunyi
seperti sebuah jalan panjang ditinggalkan hujan lebat
dan mendung masih pekat akan hujan lagi

hujan seperti doa, sadarkah engkau?
kita hanya bisa mengeja dan menaksir mendung
sembari memelihara harapan hingga matang
sematang keadaan dalam puisi-puisi yang kita bacakan

kamu tidak beranjak dari bangku taman
tempat kau nanti sehimpun kata-kata
agar bisa diubah menjadi prosa

katamu, Molly, ingin sekali kau pelihara hujan
di kamarmu agar selalu bisa kau temukan kata
sebelum usia hijrah dari detik ke masa tak terhingga.[]

NSA, 16 September 2014

25

20140905_012500Terimakasih atas kesempatan ini, Tuhan. Terimakasih Umi atas ucapan selamat yang pertama sejak lahir. Terimakasih atas kado dari jauh yang nyeri dan indah itu, Tiara. Terimakasih upaya keras menciptakan tulisan panjangmu yang gebu, Erna. Terimakasih kopi, Coca-Cola, dan jam merah bersampul kado merah jambu itu, Lia. Terimakasih atas ucap yang terlalu awal, Yulia dan bukan di ponsel saya. Terimakasih atas 9 jam bersamaku, Kak Putro. Terimakasih Zu, Ia, dan Molly, tiga tangkai siswa hebat yang tetap terkenang-kenang, tergenang-genang di ingatan. Terimakasih Komunitas Jeuneurob dan Apache13 atas kerupuk sagu dan Baca lebih lanjut

Menjadi Guru

OlalaKabar ini kusampaikan padamu, kekasihku, sebagai maklumat menuju tenggat pelunasan tanggung jawab pendidikanku. Agar kau tahu mengapa kukata perlu waktu mengumpulkan semangat. Agar kau paham mengapa ketakutan itu menyusup. Agar kau mengerti bahwa aku tatkala semakin dekat menelan mimpi, semakin menyala semangat, semakin lebat pula kurasa degup.

Menjadi guru. Bisa kau bayangkan bagaimana menjenuhkan takdir itu? Kami harus menyalakan mata lebih cepat dari muncul fajar dan melelapkannya sampai di Baca lebih lanjut

Syair-Syair Pasungan

Karya Nazar Alam

Patahkan sayap-sayap camar wahai matahari. Panggang setengah matang, kirimkan dia ke ubun-ubun rerumputan. Letakkan di dahan cemara liar, biar kuutus musang menjemput kado itu untukku. Terima kasih, terima kasih

Sesaat senyap, sunyi. Hanya angin terdengar bersorak dan gesekan daun tumbuhan liar bertepuk tangan. Sekejap hujan pun turut meramaikan suasana, sungguh dingin. Kembali pekik terdengar memecah sepi, sangat jelas. Baca lebih lanjut